Kaivan Spatula yang sedang Ibu pegang mendarat di kepala gue, berkali-kali. Ibu murka, tentu saja. Sambil mengusap-ngusap lembut bekas pukulan Ibu barusan, gue tersenyum canggung karena kepergok mencium anak gadisnya. Wajah Ibu terlihat marah, tapi nggak seseram Papi atau Mami. Entahlah ... atau gue yang terlalu meremehkan. Intinya, Ibu marah tapi nggak begitu nyeremin gitu. Sedangkan Lujeng yang bergegas menjaga jarak, hanya bisa menundukkan wajah. Takut-takut melihat Ibu dari balik bulu matanya yang bergerak-gerak. "Kaivan." Ibu bersedekap di hadapan gue, gue menatapnya sedikit menyesal. Bukan berarti gue enggak menghormati beliau atau enggak menghargai Lujeng. Tapi karena gue siap menerima risiko apa pun. Terlebih jika ending-nya gue dinikahkan dengan Wilujeng. Itu sih, jelas harap

