Ini sudah ke sekian kalinya Alinka menatap dengan gugup jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lagu berbahasa Korea dengan melodi lembut yang mengalun dari speaker di ruangan tersebut bahkan tidak dapat membuat Alinka bisa berhenti kehilangan rasa gugupnya. “Mama Alin, udah!” Alinka tersentak ketika tangannya mendapatkan sentuhan lembut dari tangan mungil milik bocah yang duduk di sebelahnya. “Kenapa Rayn?” Tanya Alinka karena tidak sempat mendengarkan apa yang diucapkan bocah itu. Rayn menyodorkan kotak s**u cair kotak yang sudah kosong isinya, “Udah abis,” jawabnya sekali lagi. “Pinter.” Alinka menerima uluran kotak yang sudah kopong tersebut dan memasukkannya ke dalam totebag yang ia bawa. Bersamaan dengan itu, suara denting lonceng di atas pintu cafe y