Mahardhika terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan balik dari Erga tanpa melepas pandangannya dari Erga sama sekali. Mahardhika tidak pernah berpikir menghadapi darah dagingnya sendiri jauh lebih sulit dari pada menghadapi orang penting diluar sana yang pernah ia temui. Mahardhika sering bertemu dengan orang-orang yang sering membuatnya berpikir keras dengan segala pertanyaan sulit yang orang itu berikan padanya demi membuktikan kemampuannya sebagai seorang pebisnis di usianya saat ini. Namun tidak pernah sangka kalau sebuah pertanyaan sederhana dari darah dagingnya sendiri akan membuat Mahardhika terdiam seperti ini tanpa bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Mata Mahardhika tidak bisa teralihkan dari sepasang mata mungil Erga yang menatapnya tanpa ada rasa takut. Jika tadi di awal

