Bab 1
"Papa yakin jika dia akan pulang kemari?"
"Ya, dia akan pulang untuk mengurus pernikahan mu."
Gadis yang baru saja bertanya itu tersenyum penuh kemenangan. Dia tak sabar melihat wajah sang kakak yang sudah lama tak pulang ke rumah utama.
Seorang gadis berambut panjang dengan highlight biru memasuki rumah itu dengan wajah dinginnya.
Melihat penampilan itu, membuat perempuan yang bertanya tadi terlihat kesal.
"Jadi untuk apa kalian menyuruhku pulang kemari?"
"Aura, bukannya papa udah bilang sama kamu kalau kamu harus membantuku mengurus pernikahan ku dengan tunangan ku. Apa kamu lupa?" tanya Meisya.
Aura tak langsung menjawab, matanya memindai semua orang yang ada disana. Aura berjalan dengan dagu yang selalu terangkat tegak dan pernah menunduk. Aura duduk di sofa tunggal berhadapan dengan sang papa yang masih melihatnya dengan tatapan datar.
"Jadi kalian menyuruhku pulang untuk membantu mengurusi atau ingin minta di biayai? Apa Kak Meisya semiskin itu sampai sampai menikah saja harus menunggu ku pulang?"
Meisya langsung berdiri karena emosi. Dia menunjuk wajah Aura dengan raut muka yang merah padam.
"Aura, jaga bicaramu. Bukannya ini yang kamu inginkan selama ini? Papa udah berbaik hati mengijinkan mu pulang saat pernikahanku, tapi kamu malah menghinaku seperti ini!"
Meisya sudah berteriak kesal saat ini, di tambah saat melihat penampilan Aura yang lebih dari pada dirinya membuat Meisya semakin iri dengan nya.
"Baiklah, sepertinya anak kesayangan papa nggak mau kalau aku disini. Jadi lebih baik aku tak kesini bukan?"
Aura langsung berbalik pergi dari sana. Meisya yang melihat Aura pergi dari sana menjadi panik. Begitu juga orang tuanya. Berbeda dengan Aura yang memang sengaja melakukan itu. Aura ingin melihat seberapa jauh mereka akan memohon pada Aura saat ini.
"Aura tunggu, maafkan Meisya. Dia tak sengaja membentak mu. Mama minta maaf atas nama Meisya, jadi tolong kami ya untuk pernikahan Meisya."
Mata Aura berubah menjadi datar ketika satu orang lagi berbicara dengan nada lembut tapi menjijikkan untuk di dengar Aura.
Aura berbalik, memindai wajah semua orang yang ada disana. Lalu tahapan matanya tertuju pada laki laki paruh baya yang sejak tadi hanya diam melihat drama dari anak dan istri mudanya itu.
"Aku akan membantu, tapi dengan satu syarat."
Meisya mengepalkan kedua tangannya menahan marah. Bagiamana bisa Aura menyetir hidupnya hanya demi dia bisa menikah.
Mama nya Meisya menahan tangan Meisya agar tak semakin membuat Aura emosi.
"Tahan emosimu Meisya, jangan sampai membuat Aura pergi dari sini. Ingat kita butuh uang yang banyak agar pernikahan mu bisa terlaksana. Apalagi malam nanti, mereka akan datang makan malam disini."
Meisya berdecak kesal tapi dia menurut dengan apa yang di katakan oleh Mamanya. Dia juga tak ingin membuat Aura kabur dan uang yang papanya minta kepadanya tak bisa cair.
Aura naik ke lantai atas menuju kamarnya. Bukan kamar miliknya, karena kamar aslinya sudah direbut oleh Meisya saat Meisya pertama kali datang ke rumah itu.
Meisya melihat Aura yang naik ke lantai atas dengan hawa kemarahan yang tercetak jelas. Jika bukan karena calon suaminya meminta mereka mengadakan pesta pernikahan yang mewah, Meisya tak akan pernah mau meminta bantuan pada Aura. Selama ini, semua aset masih atas nama Aura. Dan mereka berusaha keras untuk mendapatkan semua itu, tapi tenyata setelah Aura pergi dari rumah semuanya semakin susah. Benar jika Robert masih menjabat sebagai CEO tapi semua dana di kendalikan oleh Aura dari jarak yang jauh.
#
Aura sudah sampai di kamarnya, merebahkan diri lalu menatap langit langit kamarnya.
Memejamkan matanya sekilas, tubuh dan pikirannya lelah. Bahkan punggungnya masih terasa nyeri karena beberapa hari yang lalu dia terlibat insiden penyerangan.
"Mereka seniat itu ternyata." ucap Aura lirih. Tanpa Aura sadari, mata Aura kembali terpejam karena dia butuh istirahat.
#
Di lantai bawah, Bella sedang menyiapkan acara pertemuan dengan keluarga calon suami Meisya. Setelah beberapa waktu lalu, pertunangan Meisya dan calonnya tapi hanya keluarganya yang datang. Malam ini, calon suami Meisya yang akan datang.
"Meisya, kamu yakin jika dia pasti datang kesini?"
Meisya yang sedang melihat ponselnya mengangguk, dengan wajah bahagia. Dia akan menikah dengan laki laki yang sudah dicintai nya sejak lama.
"Kalau begitu sekarang bersiaplah, dan pakai gaun terbaikmu. Jangan sampai kamu kalah dengan anak haram itu."
Meisya mengangguk mengerti, dia baru saja pulang dari salon. Sengaja ingin terlihat lebih cantik dari aura.
Saat Meisya melewati kamar Aura dia terdiam sejenak. Menatap pintu itu dengan nyalang.
"Lihat, setelah aku menikah, kamu nggak akan berguna lagi Aura."
"Mereka semua akan sayang kepadaku, apalagi suami ku adalah orang berpengaruh di kota ini jadi aku bisa memintanya untuk memaksa mu mengalihkan semua harta ini kepadaku. Jika kamu sudah tak punya apa apa aku akan dengan mudah menyingkirkan mu!"
Meisya berlalu dari depan kamar Aura, dia akan dandan secantik mungkin demi calon suaminya.
#
Di satu sisi.....
"Kaisar, kenapa kamu terima perjodohan nenekmu dengan keluarga Robinson? Apa kamu benar benar menyukai wanita itu?"
Kaisar yang sejak tadi hanya sibuk bermain ponselnya tersenyum tipis.
"Mami nggak usah khawatir, kalau emang mau nya nenek kayak gitu ya nurut aja. Lagian ini cuma makan malam biasa, nikahnya masih lama. Jadi santai aja." jawab Kaisar santai.
Natasya sang mami menggeleng heran dengan jawaban Kaisar.
Sedangkan Arka menatap Kaisar tak biasa seolah ada yang dia rencanakan di balik sikap santainya ini.
Apa yang dia rencanakan? Apa ada yang terlewat? Selama ini dia tak pernah mau di atur tentang pasangan. Kaisar bahkan sudah mempunyai seseorang di hatinya.
Arka terus menerus memperhatikan Kaisar dari tempat duduknya. Kaisar yang merasa di perhatikan sang papi pun menoleh.
"Apa papi juga curiga sama aku?"
Arka mengangkat kedua bahunya acuh. Dia enggan menebak apa yang ada dalam otak putra nya itu.
Tak lama dari percakapan mereka, Melati tiba disana dengan tongkat di tangannya untuk membantu berjalan.
"Kalau kalian sudah siap, kita langsung pergi. Dan kamu Kaisar, kamu satu mobil sama nenek."
Mendengar itu, Kaisar tak kunjung berdiri dari duduknya. Wajah Kaisar yang sejak tadi tengil di depan kedua orang tuanya sudah berubah menjadi dingin kembali. Bagi Kaisar, Melati adalah orang luar. Bukan neneknya.
"Aku bawa mobil sendiri. Jika masih memaksa, pernikahan ini batalkan saja!"
Setelah mengatakan itu, Kaisar berjalan lebih dahulu melewati Melati.
Melati memegang tongkatnya dengan erat.
"Jika Kaisar membatalkan pernikahan ini, semua karena kalian!"
to be continued