Bab 7

1317 Kata
Aura berpamitan pada Amara untuk pulang. Amara berusaha menahan Aura agar Aura menunggu Kaisar tiba disana. Tapi Aura kekeuh ingin pulang sendiri. "Aunty, aku nggak apa apa pulang sendiri. Aku nggak mau merepotkan orang lain lagi aunty. Sebelumnya terima kasih karena sudah merawa ku dan juga mengobati ku." ucap Aura tulus. Amara tak bisa lagi menahan Aura, karena Amara tahu jika Aura type orang yang sama dengan Kaisar, keras kepala. "Baiklah kalau kamu tetap mau pulang sendiri. Tapi kamu harus terima apa yang aunty kasih." Amara memberikan sejumlah uang pada Aura. "Jangan di tolak, kamu pulang juga butuh ongkos. Gunakan ini untuk mencari taxi online." Aura mengangguk, dia memeluk Amara erat seperti dia memeluk almarhum mamanya. Setelah itu, Aura pamit pergi dari sana. Amara juga memberikan obat oles untuk luka Aura. # Kaisar baru tiba di tempat Amara, dia mencari Amara langsung. Tapi saat Kaisar masuk ke dalam kamar pengobatan dia tak melihat siapapun disana. Kamarnya juga sudah rapi. Amara yang baru saja kembali dari kebun mengerutkan keningnya saat melihat Kaisar sudah ada disana. "Kamu datang?" Kaisar menoleh ke arah Amara. Lalu ke arah kamar pengobatan itu. Barulah Amara paham, jika Kaisar sedang mencari Aura. "Dia udah pulang, aunty nggak bisa cegah. Dia keras kepala kayak kamu. Tapi tenang aja, aunty udah kasih dia obat dan juga salep." "Salep? Untuk apa?" tanya Kaisar bingung. Amara merasa aneh karena melihat raut wajah Kaisar yang bingung saat ini. Kaisar menghela napas panjang. Lalu dia meminta Amara untuk ikut duduk dengannya. "Aunty, jelaskan sama aku. Apa maksud salep luka itu? Bukannya dia hanya kena luka tusukan?" Amara menggeleng, dia lalu mengambil ponselnya menunjukkan sebuah foto pada Kaisar. Kaisar menerima ponsel Amara semakin bingung. Dia lalu melihat apa yang ada disana. Matanya membola, dia melihat ada banyak bekas cambukan dan juga lainnya di punggung itu. Tanpa Kaisar sadari, tangan nya menggenggam erat ponsel Amara. "Aunty, ini siapa?" tanya Kaisar dengan nada yang sedikit gemetar. "Aura." Tubuh Kaisar membeku. Dia melihat Amara dengah mata yang merah menahan marah dan juga sakit. Seolah Kaisar juga bisa merasakan sakit nya Aura. Amara semakin aneh karena Kaisar tidak tahu tentang luka itu. "Kaisar, apa kamu nggak tahu kalau dia terluka separah itu? Maksud ku bekas luka dan juga lukanya yang baru?" Kaisar menggeleng, dia mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Dia bukan kekasihku aunty, dia adiknya Meisya. Tapi sepertinya bukan adik kandung." Mata Amara membola, fakta baru yang ternyata tak sesuai dugaannya. Lalu Kaisar menceritakan semuanya pada Amara tentang apa yang dia ketahui soal Aura.Syok, itulah yang saat ini di rasakan Amara. "Kai, kamu yakin sudah menyelediki semuanya?" Kaisar mengangguk, dia mengeluarkan ponselnya lalu memberi tahu tentang penemuan Reynald mengenai Aura dan juga keluarganya. "Jadi mereka menginginkan harta peninggalan orang tua Aura?" "Mungkin lebih tepatnya Kakeknya Aura. Dan kemungkinan juga jika Aura sudah tahu tentang semua ini. Mengingat saat kemarin balapan dengan ku dan dia diserang dia sudah membawa senjata. Hanya saja sepertinya hari kemarin adalah hari tersialnya karena dia terluka." Amara mulai mengerti, dia semakin kasihan dengan Aura. "Lalu apa yang akan kamu lakukan? Dia akan jadi adik iparmu Kaisar." Kaisar tersenyum lebar. Dia menepuk pelan pundak Amara yang membuat Mata berusaha menebak apa yang ada dalam pikiran Kaisar. "Jangan bilang kalau kamu mau?" Amara tak melanjutkan apa yang dia katakan, lalu dia menghela napas panjang saat melihat Kaisar yang mengangguk membenarkan apa yang sedang di pikirkan oleh Amara. "Aunty tenang aja, papa udah setuju. Dengan begitu jika terjadi sesuatu dengan ku nanti, papa dan mama akan langsung bertindak. Nenek juga tak bisa melawan kekuasaan Papa. Selama ini, papa diam hanya karena menghormati Nenek yang lebih tua. Selebihnya Aunty tahu dan paham seperti apa orang tua!" Amara mengangguk, dia melihat Kaisar dan Aura. Dua orang berbeda jenis tapi mempunyai karakter dan cara berpikir yang sama. Sepertinya akan ada hal baik yang datang. Batin Amara. "Aunty, karena dia sudah pergi, aku juga akan kembali. Sepertinya bermain dengan singa betina sepertinya lebih menarik." Amara menggeleng pelan, dia lalu membiarkan Kaisar pergi dari sana. Melajukan kendaraannya dengan cepat. # "Dia kemana? Apa dia kembali ke rumahnya?" gumam Kaisar. Lebih baik dia memastikan kesana sekalian menuruti apa yang di inginkan oleh neneknya. Membawa Meisya pergi. Urusan selanjutnya dia akan memikirkan nya nanti. Yang terpenting bagi Kaisar adalah menemukan keberadaan Aura saat ini. Tak lupa Kaisar menghubungi Reynald dan memberitahu tentang rencana selanjutnya Reynald yang sedang menyiapkan beberapa berkas untuk di tanda tangani pun mengumpat kasar. Ingin sekali dia menjitak kepala Kaisar tapi tak di lakukan atau bonus setahun akan langsung di potong saat itu juga. # Plak..... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aura. Aura memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Bella. Tapi detik berikutnya, teriakan nyaring terdengar di ruangan itu. Plak... Plak.... "Argh ....." Aura menatap nyalang pada Bella yang tersungkur karena tamparannya barusan. "Siapa kamu berani menyentuhku? Kamu cuma kalang yang di bawa masuk ke keluarga Robinson!!" ucap Aura datar. Robert yang mendengar teriakan keras bergegas mencari sumber suara itu. Dan di depannya terlihat Bella tengah terduduk di lantai dengan memegang pipinya. Begitu juga dengan Meisya yang turun ke bawah mencari mamanya. Aura yang melihat tiga orang itu berkumpul di depannya tersenyum sinis. "Wah, pahlawan kesiangan udah datang!" Mata Meisya melotot, dia ingin membalas Aura karena berani menampar mamanya. "Aura apa yang kamu lakukan? Kamu baru pulang pagi tapi sampai rumah langsung menampar mama kamu. Apa kamu nggak punya sopan santun?" bentak Robert keras. Meisya yang mendengar itu, tersenyum puas karena melihat Robert membela mamanya. Tapi Aura masih bersikap tenang dan terkesan santai. Bella yang melihat sikap tenang Aura mendadak merasakan hawa tak enak. "Menamparku dan membuat kulitku terluka, biaya pernikahan Meisya aku potong sepuluh juta!" ucap Aura santai. Mata Meisya melotot, dia menunjuk Aura dengan wajah merah padam. "Apa hakmu? Uang itu milikku, dan kamu nggak bisa kurangi uang itu!" teriak Meisya menggelegar. Aura tersenyum, rasanya berdebat dengan Meisya pun akan sangat membuang tenaga nya. "Uangmu? Uang dari mana? Jual diri?" ledek Aura. Semakin marahlah Meisya saat ini, dia maju ke depan ingin menampar Aura, tapi tangannya terhenti di udara ketika mendengar suara dari arah pintu masuk "Apa yang sedang kamu lakukan?" Mata Aura melihat ke depan dengan ekspresi wajah yang sudah berubah. Berbeda dengan Meisya yang gugup seperti seorang maling yang ketahuan. Aura memilih untuk melangkah pergi dari sana, sedangkan dari balik badannya Aura sangat yakin jika orang yang baru saja datang itu sedang memandanginya. "Ka-Kaisar, kenapa kamu tiba tiba datang kesini?" tanya Meisya gugup. Begitu juga dengan Robert dan Bella. Mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Kaisar yang tiba tiba. "Di suruh nenek untuk menjemputmu. Tapi aku belum sarapan, bisa buatkan aku sarapan dengan menu yang sedikit berat. Sepertinya aku butuh tenaga banyak pagi ini." Meisya yang mendengar itu sempat bingung tapi kemudian dia mengangguk senang. Dia ingin meraih tangan Kaisar namun Kaisar langsung menghindarinya. "Buatkan saja dulu sarapannya, aku mau ke toilet. Dimana toiletnya?" tanya Kaisar tenang. Tapi sorot matanya terus terarah ke lantai atas dimana Aura sudah masuk ke dalam kamar nya. "Aku antar ke atas, mama yang akan siapkan makanan untukmu." Meisya sudah menatap Kaisar penuh minat dengan rencana yang tiba tiba muncul di kepalanya. "Aku bisa sendiri, tunjukan saja. Aku mau kamu yang masak, bukan orang lain." Meisya menggigit bibir bawahnya menahan kesal, setelah itu dia memberitahu letak toilet yang ada di kamarnya. Tak ada yang curiga dengan ekspresi datar Kaisar. Robert memilih menunggu Kaisar di ruang makan. Bella segera menarik tangan Meisya agar melakukan apa yang di minta oleh Kaisar. "Ma, di atas ada Aura. Gimana kalau Aura godain Kaisar?" rengek Meisya kesal. "Nggak akan Meisya, laki laki seperti Kaisar nggak akan pernah tertarik dengan cewek murahan seperti Aura." Meisya akhirnya menurut, dan membantu mamanya menyiapkan sarapan. Sedangkan Kaisar sudah ada di depan pintu Aura yang sedikit terbuka. Dia melihat Aura sedang melepaskan bajunya susah payah. Dan benar saja punggung Aura penuh luka seperti kata Amara. "Siapa yang melakukan semua itu sama kamu?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN