Natasya mengatakan semua dengan gamblang yang membutuhkan Arka juga Kaisar menatapnya bangga. Natasya selama ini tak pernah suka dengan Meisya yang terlalu genit dan berani menggoda. Tapi Natasya juga Arka hanya mengikuti apa yang Kaisar mau.
Selama setahun pacaran dengan Meisya hanya beberapa kali mereka keluar bersama itu pun Kaisar selalu mengajak Reynald asisten nya.
Meisya melihat ke arah Natasya dengan tatapan tak nyaman tapi kedua tangannya sudah mengepal menahan marah. Sedangkan Bella yang menatap Natasya penuh permusuhan.
Sialan, kalau Meisya sudah menikah dengan Kaisar, aku akan memberi mu pelajaran. Kamu terlalu ikut campur urusan mereka. Jangan sampai Kaisar membatalkan pernikahannya hanya karena menuruti apa yang kamu katakan Natasya. Batin Bella.
Natasya bukan tak tahu jika Bella sedang menatapnya penuh permusuhan tapi bukan Natasya namanya jika dia akan takut dengan Bella.
"I-iya Tante. Aku mencintai Kaisar, jadi apapun keputusan Kaisar aku akan mengikutinya."
Melati yang tak senang dengan panggilan Meisya kepada Natasya menegur Natasya.
"Kenapa calon menantumu masih memanggilmu dengan sebutan Tante? Dia harus memanggil mu sama seperti Kaisar memanggilmu."
Perkataan Melati seperti perintah untuk Natasya.
"Ma, Meisya belum menjadi istri Kaisar. Dan lagi dulu Natasya juga mama larang memanggil mama saat belum menikah dengan ku karena aturan keluarga. Jadi aturan itu akan tetap berlanjut untuk Kaisar dan Meisya."
Kali ini Arka yang membuka suara, dan itu membuat Kaisar senang karena kedua orang tuanya berhasil membuat Melati kesal.
Drtt.....
Ponsel Kaisar berdering, itu panggilan dari Reynald.
"Ada apa?"
Reynald memberitahu jika wanita yang di cari Kaisar akan turun di arena balap malam ini.
Kaisar menutup ponselnya cepat, dia harus pergi kesana untuk bertemu dengan wanita itu.
"Ma, pa, karena pembicaraan nya sudah selesai Kaisar akan pergi sekarang. Ada pekerjaan yang mendadak."
Tanpa menunggu jawaban orang tuanya Kaisar pergi dari sana, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Robert yang merasa jika Kaisar mempermalukan keluarganya pun bersuara.
"Tuan Arka, apa ini didikan tuan Arka pada putra tuan Arka? Meninggalkan acara hanya karena pekerjaan?" sindir Robert pada Arka.
Arka tersenyum tipis, dia lalu melihat ke arah Robert bergantian dengan Melati mamanya.
"Kaisar bukan pengangguran, dia mendirikan perusahaan nya sendiri tanpa ada campur tangan ku, jadi wajar jika dia super sibuk. Apa tuan Robert penasaran kenapa tiba tiba Kaisar pergi terburu buru? Jika iya, aku akan menunjukkan kemana Kaisar pergi saat ini."
Arka mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah aplikasi yang menunjukkan sebuah video dimana mobil Kaisar melaju kencang menuju perusahaannya.
Robert mengepalkan kedua tangannya menahan malu. Karena ternyata Kaisar benar benar pergi ke perusahaan nya.
Natasya menggunakan hal ini untuk pergi dari rumah Meisya.
"Karena semua sudah jelas, jadi lebih baik acara makan malam ini tak perlu di lanjutkan. Dan tuan Robert, sepertinya tuan Robert meragukan putraku? Bagaimana jika pernikahan ini lebih baik tak di lakukan?" tantang Natasya.
Mata Meisya membola, dia meraih tangan Natasya sambil menggeleng cepat.
" Tante tolong jangan batalkan, aku mencintai Kaisar. Aku percaya padanya. Maafkan perkataan papa ku jika dia meragukan Kaisar. Aku tahu Kaisar selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tolong maafkan perkataan papaku."
Natasya melepaskan tangan Meisya yang sedang memegang lengannya lalu tersenyum ke arah Meisya.
"Aku pamit, semua keputusan ada pada Kaisar. Dan ma, jika mama masih ingin disini silahkan disini. Kami akan pulang, karena Arka besok juga harus flight ke luar negeri."
Natasya meninggalkan rumah Robinson dengan pandangan lurus ke depan. Begitu pula dengan Arka yang memilih menyusul istrinya untuk pergi dari sana
Melati yang di tinggal begitu saja tak bisa mencegah mereka karena Robert melakukan kesalahan.
"Robert, apa maksud mu dengan perkataan mu tadi? Kamu meragukan Kaisar?"
Melati menggertak Robert karena kesal. Jika hal tadi sampai di telinga Kaisar jelas pernikahan itu tak akan pernah terjadi.
Robert tak menjawab, dia memilih untuk mengalihkan wajahnya ke arah lain. Bella yang melihat Melati murka segera menenangkan Melati agar tak memperpanjang masalah itu.
Dari kejauhan, Aura tersenyum sinis mendengar semua perdebatan yang terjadi di ruang tengah tadi. Aura juga melihat Kaisar pergi dengan terburu buru.
"Sepertinya pernikahan itu tak akan pernah terjadi. Kasihan sekali kamu kak." ucap Aura mengejek dari kejauhan.
Aura masuk ke dalam ruangan itu dengan raut wajah yang bingung.
"Kok udah sepi? Apa acaranya sudah selesai?" tanya Aura dengan wajah polosnya.
Meisya yang melihat Aura seperti mengejeknya pun geram. Di tambah hatinya tak baik karena Kaisar pergi begitu saja dari sana. Meisya sudah mengangkat tangannya ingin menampar Aura tapi tangannya tertahan di udara.
"Meisya, dia adikmu. Kenapa kamu ingin menampar nya?"
Bella mencegah Meisya melakukan itu, lalu memberi kode jika Melati masih ada disana.
Sial, aku hampir saja menambah masalah batin Meisya.
Melati hanya diam mengamati Aura dari tempat duduknya. Tapi berkali kali menebak, Melati tak bisa menemukan kejanggalan pada Aura.
"Maafkan Meisya, Aura. Hanya saja hatinya sedang tak baik." ucap Bella sambil merendah.
Aura mengangguk mengerti, lalu dia melihat ke arah Robert yang juga sedang memperhatikannya.
"Malam ini aku kembali ke apartemen, besok aku ada kuliah dan juga tugasku banyak. Jika nanti kak Meisya membutuhkan dana kalian bisa menghubungiku."
Aura pergi dari sana tanpa beban, dia sengaja mengatakan itu yang membuat Melati penasaran. Tapi bagi Melati itu belum terlalu penting. Lebih baik dia pulang dan mencari Kaisar lagi.
Melati berpamitan dengan keluarga Robinson.
Setelah kepergian mereka semua, Meisya mengamuk.
"Lihat kan pa, Aura sengaja mengatakan itu agar Nenek ragu kalau aku juga punya uang yang setara dengan Kaisar. Nenek Melati paling benci jika ada wanita yang memanfaatkan harta Kaisar!"
Meisya berteriak frustasi, niat hati ingin mempermalukan Aura malah mereka sendiri yang di permalukan.
Robert pergi dari sana, masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia butuh untuk tenang daripada dia harus bertindak kasar pada Bella dan Meisya.
#
Aura pergi menggunakan mobil sportnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian casual. Mobilnya melaju cepat ke sebuah tempat dimana dia juga akan balapan malam ini. Selama ini, Aura memang ikut balapan tapi tak ada yang bisa mendekatinya.
"Datang juga." sapa Jasmine sahabat Aura masih berada dalam mobil saat Jasmine mendekatinya.
Tak lama sebuah mobil balap lainnya tiba disana.
Aura memperhatikan itu dari dalam mobilnya.
"Kaisar, jadi dia ikut malam ini?"
Jasmine mengangguk, lalu dia mendekat ke arah Aura untuk membisikan sesuatu.
"Dia nyari kamu!"
to be continued