Pengantin Pengganti
Suara isak tangis Ibu yang tertahan di dalam kamar rias pengantin terasa sangat menusuk hati Rayna Azzahra. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, Zara belum pernah melihat Ibunya sehancur dan seputus asa ini. Kebaya putih mewah berhias payet indah yang seharusnya dikenakan oleh sang kakak, Sheila, kini tergeletak begitu saja di atas sofa tanpa pemiliknya.
"Kenapa Sheila tega melakukan ini, Zara? Kenapa dia tega menghancurkan nama baik keluarga kita?" bisik Ibu dengan napas tersengal-sengal. Tangannya yang gemetar hebat terus memegangi selembar kertas lusuh.
Dua jam sebelum akad nikah dimulai, Sheila melarikan diri bersama kekasih lamanya. Kertas yang dipegang Ibu adalah surat singkat yang ditinggalkan Sheila sebuah pengakuan bahwa ia tidak sanggup dijodohkan dengan Gavin Mahendra.
Di luar kamar rias, atmosfer hotel bintang lima itu sangat mencekam. Ratusan tamu undangan terpandang, pejabat, serta relasi bisnis papan atas sudah memadati ballroom. Ayah terduduk lemas di kursi koridor luar kamar, wajahnya pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya.
Keluarga Mahendra bukanlah keluarga sembarangan. Mereka adalah pemilik konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini. Menggagalkan pernikahan secara sepihak di hari H sama saja dengan menyulut api permusuhan dan menghancurkan martabat kedua keluarga.
Tiba-tiba, langkah kaki yang tegap dan berwibawa terdengar menghentak lorong. Gavin Mahendra berjalan mendekati Ayah. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu tampil sangat gagah dengan setelan beskap pengantin berwarna hitam elegan. Namun, raut wajahnya sekeras batu ukir. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menyimpan intimidasi yang sangat nyata.
"Ada apa ini, Pak Surya?" suara Gavin terdengar dalam dan tenang, tetapi sanggup membuat siapa saja yang mendengarnya merinding. "Penghulu dan keluarga saya sudah menunggu di meja akad. Kenapa Sheila belum juga keluar?"
Ayah mendongak, matanya berkaca-kaca. Suara beliau bergetar hebat saat harus menyampaikan kenyataan pahit itu. "Gavin... Maafkan kami. Sheila... Sheila tidak ada. Dia pergi melarikan diri."
Pernyataan itu membuat suasana di koridor langsung hening seketika. Orang tua Gavin yang berdiri tak jauh di belakangnya menghembuskan napas syok. Namun, tidak ada kemarahan meledak-ledak dari Gavin. Pria itu hanya berdiri kaku, mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memperbaiki posisi jam tangan mewahnya. Keheningan Gavin justru jauh lebih menakutkan daripada amukan.
"Melarikan diri?" Gavin tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin tanpa rasa humor sedikit pun. "Keluarga Mahendra tidak pernah menjadi bahan lelucon. Di luar sana ada ratusan media dan relasi bisnis. Jika pernikahan ini batal dan menjadi skandal, saya pastikan bisnis keluarga Anda hancur total sebelum matahari terbenam hari ini."
Ancaman itu nyata dan sangat mematikan. Dari balik pintu kamar rias yang sedikit terbuka, Zara mendengar setiap kata yang diucapkan Gavin. Jantungnya berdegup sangat kencang. Zara baru saja dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan membayangkan masa-masa kuliah yang penuh warna. Namun, melihat Ayahnya yang hampir berlutut dan Ibunya yang histeris, hati kecil Zara tidak sanggup berdiam diri.
Zara mengambil napas dalam-dalam. Dengan keteguhan hati yang muncul secara mendadak, ia memutar gagang pintu dan melangkah keluar dari kamar rias.
"Pernikahan ini tidak akan batal," suara manis namun tegas itu memecah ketegangan di lorong.
Semua mata langsung tertuju pada Zara. Gavin menundukkan pandangannya, menatap gadis berhijab yang berdiri tegak di depan pintu. Gadis mungil yang hanya mengenakan gamis sederhana berwarna merah muda lembut, dengan wajah polos tanpa polesan make-up tebal.
"Apa maksudmu, Bocah?" tanya Gavin dingin, menilai Zara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Saya yang akan menggantikan Kak Sheila," ucap Zara tanpa ragu. Matanya yang jernih menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gavin yang intimidatif. "Saya adik kandung Kak Sheila. Jika Tuan Gavin butuh pengantin wanita untuk menjaga kehormatan dan nama baik keluarga Mahendra hari ini, pakai saya."
"Zara! Jangan gila kamu, Nak!" Ayah berteriak panik sambil memegang bahu Zara. "Kamu baru delapan belas tahun! Masa depanmu masih panjang!"
"Iya, Zara... Ini bukan permainan!" sahut Ibu yang baru keluar dengan mata sembab.
Zara memegang tangan Ibunya yang dingin. "Ibu, Ayah... Zara tidak bisa melihat Ayah dan Ibu dihina seperti ini. Biarkan Zara yang menggantikan Kak Sheila."
Gavin memperhatikan interaksi keluarga itu dengan pandangan kalkulatif. Sebagai seorang pengusaha sukses, Gavin selalu berpikir cepat dan rasional. Membatalkan pernikahan akan membuat saham perusahaannya anjlok dan menjadi bahan tertawaan publik. Tetapi menikahi seorang gadis yang baru lulus sekolah?
"Berapa usiamu?" tanya Gavin datar.
"Delapan belas tahun. Saya baru saja diterima di perguruan tinggi," jawab Zara jujur.
Gavin terkekeh sinis. "Kamu masih terlalu kecil untuk memahami konsekuensi dari ucapanmu. Ini pernikahan hukum dan agama, bukan permainan rumah-rumahan."
"Saya tahu!" potong Zara cepat, tidak mau kalah. "Tapi saya tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan keluarga saya. Bukankah Tuan juga butuh pengantin agar nama besar Mahendra tidak tercoreng hari ini? Nama saya Rayna Azzahra. Nama saya cukup sah untuk diucapkan di depan penghulu."
Gavin terdiam sejenak. Ia tertegun melihat keberanian dan keteguhan di mata gadis muda itu. Tidak ada ketakutan atau niat tersembunyi, hanya ada kepolosan dan niat tulus melindungi orang tuanya.
Setelah keheningan yang terasa amat panjang, Gavin akhirnya memalingkan wajah dan menatap penghulu serta saksi yang berdiri cemas.
"Ganti nama pengantin wanita di berkas nikah sekarang juga," perintah Gavin tegas dan mutlak. "Nama pengantinnya adalah Rayna Azzahra."
Tiga puluh menit kemudian, takdir Zara resmi berubah seratus delapan puluh derajat.
Di hadapan saksi, keluarga, dan penghulu, ijab kabul berlangsung dengan sangat khidmat. Dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, suara berat Gavin Mahendra menggema di ruangan akad, mengucapkan kalimat sakral yang mengikat hidup Zara sepenuhnya sebagai istrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rayna Azzahra binti Surya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
"Sah!"
Kata 'sah' yang diucapkan para saksi seperti dentuman besar yang meruntuhkan dunia remaja Zara. Air mata Zara menetes pelan membasahi pipinya saat ditarik lembut oleh Ibu untuk menyalami tangan suaminya. Saat kulit jemarinya menyentuh genggaman Gavin yang hangat dan besar, getaran aneh merayapi dadanya. Gavin menyentuh puncak kepala Zara yang tertutup hijab, membacakan doa pernikahan dengan suara bernada dalam, meski matanya tetap terasa dingin tanpa kehangatan.
Malam harinya, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan penthouse megah di pusat kota. Zara melangkah masuk mengekor di belakang Gavin. Rumah itu sangat luas, mewah, berdesain modern, namun terasa begitu dingin dan asing bagi Zara.
Gavin melepas jas hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa kulit. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu berbalik menatap Zara yang berdiri kaku di dekat pintu dengan tas ransel kuliah yang masih mengikat di bahunya.
"Dengar baik-baik, Rayna," ujar Gavin dengan suara berat dan datar. "Jangan pernah berpikir pernikahan ini akan seperti kisah dongeng indah yang sering dibaca oleh gadis seusiamu."
Zara menelan salivanya yang terasa pahit. Ia mengangguk pelan, berusaha mempertahankan sisa-sisa ketegarannya. "Saya paham, Mas Gavin. Saya tahu posisi saya."
Gavin sedikit tertegun saat mendengar panggilan 'Mas' dari bibir mungil gadis itu, namun ia cepat-cepat menguasai raut wajahnya kembali.
"Bagus kalau kamu sadar diri," lanjut Gavin dingin. "Pernikahan ini hanya formalitas di atas kertas untuk menyelamatkan reputasi kedua keluarga. Aku membiarkanmu menggantikan Sheila hanya karena situasi terdesak. Jangan mengharapkan cinta atau kewajiban layaknya suami istri normal dariku."
"Saya mengerti," jawab Zara pelan tapi mantap. "Saya juga tidak akan menuntut apa-apa dari Mas Gavin."
Gavin memiringkan kepalanya, sedikit terkesan dengan kepatuhan dan kedewasaan gadis kecil di depannya.
"Mulai besok kamu tetap boleh kuliah seperti biasa,Kamar kamu di sebelah sana. Mulai malam ini kamu tidur di sana, dan saya di kamar utama." ujar Gavin datar sambil menunjuk sebuah pintu di sebelah kanan koridor penthouse.
Zara melirik pintu kamar yang ditunjuk Gavin, lalu kembali menatap suaminya. "Baik, Mas Gavin."
Gavin berbalik melangkah masuk menuju ke dalam kamar utamanya,meninggalkan Zara sendirian di ruang tengah yang luas.
Zara mendudukkan dirinya di tepi sofa yang empuk. Keheningan malam mulai merayap, dan rasa lelah luar biasa akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Air mata yang sejak pagi ditahannya kini mengalir deras membasahi pipinya.
Masa mudanya yang bebas baru saja direnggut oleh keadaan. Namun, di tengah keputusasaan itu, Rayna Azzahra memegang erat tali hijabnya dan berjanji pada dirinya sendiri: ia akan tetap bertahan, melangkah maju, dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar pengantin pengganti yang lemah.