Jihan baru pulang dari kantor dan disambut oleh pelukan Mama dengan mata berkaca-kaca. Sebelumnya Jihan tidak mengerti, tapi saat tatapan Jihan tertuju pada map yang dipegang Zidan, Jihan langsung paham. Dengan penuh keharuan, Jihan membalas pelukan Mama dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher Mama. “Berdosa nggak, sih, kalau kita semua senang saat tahu kamu resmi cerai, Han?” tanya Mama di sela-sela keharuannya. “Mama bahagia saat kamu menikah dan lebih bahagia lagi kalau kamu bercerai, Nak. Karena apa? Karena Mama tahu tidak ada kebahagianmu di sana. Tidak selamanya pilihan orang tua itu yang terbaik buat anaknya.” “Aduh sudah-sudah. Zidan tidak tega kalau setiap kali terima map begini, Mama sama Mbak Jihan pasti menangis. Itu membuat Zidan marah sekaligus ingin