Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
'Pernahkah kau tahu? Mawar yang kau petik kemarin sudah layu. Sekarang, haruskah aku menunggu hingga kelopak itu menghitam dan mati secara perlahan?' (Yoon Rahee) *** Langit tersenyum dengan cerahnya cahaya mentari bersama kicauan burung yang menemani udara pagi. Sangat indah, namun terkesan menyayat. Keindahan itu seakan berkhianat pada dirinya. Rahee tersungging bibir meratapi kisah hidupnya, menyedihkan tanpa tahu apa yang tersembunyi di dalamnya. Setelah hampir mati disetubuhi oleh suami sendiri dan kini pria itu malah pergi dengan meninggalkan dirinya bersama lelaki lain. Bertingkah seakan-akan apa yang dilakukannya adalah benar. Oh Sean, sebenarnya apa maksudmu? "Mau kuambilkan segelas air? Atau kau ingin sarapan? Aku bisa membuatkanmu bubur." Suara jernihnya mengalihkan atens