Rasya menepis tangan Irwan dari pinggangnya. Wanita itu belum bisa memaafkannya. Hatinya masih sakit tatkala teringat kejadian di dalam kamarnya beberapa tahun lalu. Irwan melihat Rasya pergi meninggalkannya dari dalam kamar tersebut. Pria itu melangkah lesu menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya dengan pasrah di atas sana. "Triinng!" Ponsel dalam saku bajunya berdering nyaring. Dengan malas Irwan menerima panggilan telepon tersebut. "Halo Jak?" Jawabnya pada asistennya di seberang sana. "Presdir, besok Anda ada jadwal meeting di Jakarta." Ujar Jaka pada Irwan. Asistennya tersebut mengingatkan presdirnya agar tidak melupakan jadwal pentingnya. "Iya, aku ingat." Jawabnya seraya mengakhiri panggilan telepon. Irwan menghela nafas panjang dan berat. Dia ingin berbaikan kembali de

