Tahap Awal/ 18+

1390 Kata
"Kakek! Aku punya mainan baru!" Oliver berlari ke arah Abraham, dan langsung melompat ke gendongan pria paruh baya itu begitu sampai dihadapannya. Ketika Paula ingin mengomel, Abraham lebih dulu mengangkat jari telunjuknya. Ia seolah memberi peringatan, agar istrinya diam dan tak mengusik cucunya yang baru saja pulang. Abraham tidak mau wajah malaikat kecil itu berubah menjadi sedih, dan merusak suasana hatinya yang sedang bahagia. "Dari mana sayang? Kok bahagia banget!" Abraham mencium pipi mungilnya. "Kakek aku habis menginap ditempat mama! Aku diberikan mainan, dibuatian tiramisu yang enak sekali! Ayo kakek kita makan tiramisunya!" "Mama? Mama siapa maksud kamu?" Gracia menyerobot ucapan anak tersebut. Tatapannya semakin menajam ketika melihat suaminya datang dengan rambut yang basah, serta penampilan yang sangat berantakan. Namun yang lebih menarik perhatiannya adalah jambang pria tersebut yang terpotong rapi. Gracia sangat paham jika Lukas tidak akan memotong jambangnya tanpa bantuan orang lain. "Apa maksud Oliver, Lukas?!" Gracia membentaknya. "Jangan salah paham, kami menginap di rumah Alice karena Oliver rewel. Kami hanya menumpang makan dan tidur. Oliver betah karena sosok ibu yang ia inginkan ada disana." Sindirnya ketus. "Alice?" Abraham dan Paula melongo tak percaya dengan ucapan putranya. "Kamu pasti selingkuh sama dia kan? Siapa yang cukur ini?" Gracia mengusap kasar wajah Lukas yang terlihat malas untuk menanggapi. "Jangan nuduh aku, jangan sampai aku selingkuh sungguhan!" Bentak Lukas seraya meletakkan tiramisu buatan Alice di meja, lalu menaiki tangga serta mengabaikan semua orang. "Lukas jangan mengelak!" Gracia ikut berlari menyusul suaminya. Paula seketika mendekati cucunya, dan merebut anak itu dari gendongan Abraham. Ia ingin bertanya banyak hal kepada anak tersebut. Apa yang terjadi antara Alice dan Lukas sebenarnya? "Jadi kamu dan papa ketempat tante Alice?" Tanya Paula antusias. "Iya nenek." Jawab Oliver dengan nada yang sedikit takut karena tak biasa. Sebelumnya Paula tidak pernah bersikap lembut dan baik seperti itu. "Disana ngapain aja?" Tanya Paula lagi. Kali ini Oliver menjawab dengan semangat karena ia sangat bahagia berada di rumah Alice. "Makan bersama, main bersama, membaca buku cerita, dan kata tante Alice aku sudah dianggap menjadi anaknya." Sahutnya bersemangat. "Aku senang sekali mempunyai mama seperti tante Alice!" "Kalau papa dan tante Alice ngapain?" Paula bertanya dengan semakin penasaran. Meski Abraham sudah melotot tajam, wanita itu tetap tidak peduli. "Mengobrol saja. Oh iya, papa dan tante Alice juga berpelukan sambil menangis." "Berpelukan sambil menangis?" Mata Paula melotot. "Iya!" "Terus siapa yang potong jambang papa?" "Saat aku bangun, pipi papa sudah seperti itu." "Papa sama tante Alice berarti sangat akrab?" "Sudahlah Paula!" Abraham merebut kembali cucunya. Ia kesal sekali dengan sang istri yang terus bertanya ini dan itu. Apalagi pertanyaannya sangat tidak penting. "Jadi makan tiramisunya?" Abraham mencium pipi cucunya dengan lembut. "Jadi kakek! Ayo kita makan!" Oliver menunjuk kue yang ayahnya taruh diatas meja dengan bersemangat. Paula seketika sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Lukas dan Alice. Mereka tidak menjalin hubungan diam-diam kan? Tapi kalau pun iya, tidak masalah untuk Paula. Alice anak orang yang sekelas dengannya. Jika memang mereka selingkuh, ya biarkan saja. Keluarga Alice jauh lebih terpandang dari Gracia. Jika nantinya Lukas lebih memilihnya, Paula akan mendukung saja. "Nenek ikut makan kuenya dong!" Paula berteriak sembari berlari menyusul cucu dan suaminya. ***** "Kirimkan kardus ini ke alamat yang aku berikan." Alice menatap kardus yang anak buahnya bawa sambil tersenyum smirk. Ia akan memberikan kejutan kecil untuk Gracia dan Paula. Ini adalah tahap awal pembalasan dendam yang akan ia lakukan. Mari kita lihat bagaimana reaksi mereka! Alice yakin setelah hari ini, hidup mereka tidak akan bisa tenang. Permainan akan segera dimulai. Alice akan meneror mereka, hingga mereka bosan untuk hidup dengan sendirinya. Setelah anak buahnya pergi, Alice menatap notifikasi ponselnya dengan bersemangat. "Cek berkas yang aku kirimkan." Tulis Lukas dari sebrang sana. "Kamu nggak kangen aku? Foto dulu bagaimana tampannya wajahmu setelah aku merapikannya!" Tulis Alice untuk Lukas. Tak lama, sebuah foto Lukas kirimkan. Dimana dirinya sedang memakai jas putih, dengan tampilan rambut dan wajah yang lebih segar tak seperti sebelumnya. Ternyata Lukas masih sama tampannya seperti empat tahun lalu. "Aku akan segera kesana besok." Balas Lukas singkat. Jawaban itu cukup membuat Alice paham bahwa pria itu rindu padanya. Ya, mereka memang telah resmi berhubungan sekarang. Alice bilang apa? Tidak sulit untuk mendapatkan Lukas kembali. Membuat pria itu jatuh kedalam pelukannya. Karena hati Lukas telah ia miliki. Sekalipun wajahnya telah berbeda, ia tetaplah orang yang sama. Orang yang akan selalu Lukas cintai. Begitu juga sebaliknya, Lukas adalah pria yang selalu ia cintai. Tidak peduli ada berapapun pria yang lebih sempurna darinya di dunia ini. Seketika Alice jadi teringat kembali dengan apa yang terjadi pagi tadi... "Sudah bangun?" Alice menegur Lukas yang tengah meminum segelas air di dapurnya. Sama dengan Lukas, wanita itu juga mengambil segelas air, menggunakan gelas yang ia rebut dari sang pria. Lukas memandangi gaun tidur tipis transparan yang Alice kenakan. Sepertinya wanita itu memang sengaja ingin menggodanya. Bagaimana tidak? Dari balik gaun tidur itu tubuh Alice benar-benar polos dan tak menggunakan dalaman apapun. Benar-benar sexy dan mampu membangunkan gairah terpendamnya. "Kamu sengaja?" Cibir Lukas dengan senyuman smirknya. Alice tiba-tiba meletakkan gelas tersebut dan berjalan ke arah Lukas dengan gerakan memancingnya. Ia lalu memeluk pria itu, dan membawa jemari Lukas untuk menyentuh pinggangnya. "Iya sengaja. Apa ini cukup sexy?" Bisik Alice seraya meniup telinga Lukas hingga membuat pria itu bereaksi. Jemari Alice tiba-tiba mengusap milik Lukas dibawah sana dengan sensual. Merematnya dari balik celana kain tersebut, dan membuatnya seketika berdiri menjulang didalam sana. Lukas diam saja ketika wanita itu membuka perlahan kemeja yang ia kenakan. Melucuti celana panjangnya, hingga ia telanjang tanpa busana. "Dia bahkan sudah tak sabar untuk melakukannya." Alice kini menyentuh benda itu secara langsung. Memberinya pijatan perlahan yang begitu menggiurkan. "Ahh... Alice..!!!" Desisnya ketika pijatan itu semakin nikmat. Lukas pun segera menarik lepas gaun yang Alice kenakan dalam satu tarikan saja. Ia ikut menyentuh lubang hangat basah milik Alice, dan memainkan satu jarinya dengan gerakan cepat. "Ahhh... " Kini gantian Alice yang melepas desahan sexynya. Lukas mengangkat tubuh wanita itu menuju kamar tamu yang ada di dekat dapur. Ia langsung melemparnya ke atas ranjang, dan melumat bibir bawahnya dengan kuluman panas. Lidahnya sesekali terjulur kedalam sana seolah mengorek isinya. Memainkan daging kecil yang ada disana, hingga membuat Alice semakin menjerit frustasi. "Lukasss... " Alice mendesah hebat sembari menjepit kepala sang pria dibawah sana. Mendengar suara desahan yang terdengar begitu sama dengan Olivia, membuat Lukas lupa diri. Ia seperti terhanyut dalam kenangan lama. Bahkan rasanya, ia seperti sedang melakukan hal ini dengan orang yang ia rindukan selama beberapa tahun tersebut. Setelah puas bermain dengan lidahnya, Lukas memasukkan miliknya ke dalam lubang sempit itu dalam sekali hentak. Alice yang tak pernah lagi melakukannya selama empat tahun sedikit merasakan sakit. Ia meremat bahu Lukas dengan rintihannya. "Sakit..." "Sudah lama tidak melakukannya?" Lukas mengusap wajah Alice perlahan, dan mencium airmata yang mengalir di pipinya. "Iya." Jawabnya singkat. "Kamu yang menggodaku pertama kali. Jangan salahkan aku!" Lukas mulai bergerak perlahan. "Ahhh.... " "Sudah terasa nikmat..???" Goda Lukas seraya menghentakkan lebih dalam lagi dengan benda panjangnya. "Yahh... terus...!!!" Desisnya sambil menjambak rambut Lukas dengan erat. Ia juga mengusap dan menciumi jambang lebat di wajah prianya. Suara penyatuan mereka semakin terdengar nyaring dikala tusukan Lukas semakin dalam dan cepat. Pria itu juga memagut d**a Alice seperti bayi kehausan, hingga sang wanita merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan. "Lukas...." "Aku tahu... " Desis Lukas ketika ia merasa Alice ingin pelepasan. Dirinya pun semakin mempercepat gerakannya, hingga cairan hangat itu keluar secara bersamaan menghangatkan penyatuan mereka dengan cairan basah. "Ini percintaan yang hebat." Lukas mengecup bibir Alice yang masih mencoba mengatur nafas. "Jadi kita resmi berhubungan?" "Entahlah." "Aku anggap ya!" Alice memeluk prianya dengan posesif. "Aku harus mandi, aku harus pulang." "Kapan kembali lagi?" "Aku akan menghubungimu." Lukas kembali mengecupnya. Ia memang gila sekarang. Hanya karena mirip dengan Olivia, Lukas menjadi sangat terobsesi dengan Alice. Ia bahkan sampai merasa bahwa mereka orang yang sama. Lukas tidak peduli reaksi keluarganya jika hubungan gelap ini terbongkar. Tapi yang jelas jika Alice dapat menggatikan sosok Olivia di hidupnya, ia tidak akan membuang kesempatan itu. "Boleh aku memotong ini?" Alice mengusap rambut wajahnya dengan lembut. "Tentu saja, lakukan apa maumu." "Ayo mandi, aku akan mencukurnya untukmu." Alice mengecup bibirnya, sambil menggandeng pria tersebut untuk kekamar mandi bersamanya. "Bagaimana kalau sekali lagi sebelum mandi?" Lukas tiba-tiba menarik kembali tubuh Alice ke atas ranjang, dan kini ia memasukinya dari belakang. "Dasar m***m!" "I don't care!" Desisnya sembari bergerak perlahan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN