Teror

1151 Kata
"Arghhhhh!!!" Gracia berteriak sambil melempar kardus paket yang dikirim seseorang untuknya, berisi bangakai seekor ular yang kepalanya terpotong. Ia lalu mengambil selembar kertas yang terselip disana, dan membacanya dengan mata membola. "Apa kabar Gracia sayang? Masih ingat aku? Untung yang aku kirim hanya bangkai ular. Bagaimana jika itu ular sungguhan? Tunggu kejutan selanjutnya dariku! Terimakasih sudah membuangku kelautan empat tahun lalu. Karena hal itu membuatku sadar, jika orang-orang sepertimu pantas mati." Setelah membaca tulisan itu Gracia terjatuh dilantai dengan kaki yang begitu lemas. Jadi Olivia masih hidup? Dan wanita itu ingin membalas dendam? Bersamaan dengan itu Paula dan keluarga lain keluar karena mendengar teriakannya. "Ada apa?" Paula memeluk menantunya dengan raut panik. Bahkan ia ikut terkejut ketika melihat ular dengan kepala putus yang berserakan dilantai. "Siapa yang mengirim ini?" Abraham menatap heran kepada Lukas yang juga shock dengan hal ini. "Apa dia memberi surat atau semacamnya?" Tanya Lukas yamg diberi gelengan oleh istrinya tersebut. Tentu ia berbohong. Jika ia menunjukkan surat itu, Lukas akan tahu yang sebenarnya. Jika dialah dan Paula yang membunuh Olivia empat tahun lalu. Gracia langsung bangkit untuk memeluk Lukas saat itu juga. Ia terisak dan mencari perhatian. "Lukas aku takut!" "Tenang, jangan menangis. Nanti kita cari tau siapa pengirimnya." "Jangan pergi kemana-mana dulu, please... " Ujar Gracia dengan raut sedih hingga membuat Lukas tak tega. "Aku antar ke kamar, kamu istirahat." Lukas menuntunnya berjalan. Gracia tersenyum senang karena akhirnya berhasil menarik perhatian Lukas. Ia harus tetap tenang meski keadaan genting. Lagipula apa yang bisa seorang Olivia lakukan? Wanita miskin itu tidak akan bisa melawannya. Setelah ini Gracia akan melacak keberadaan Olivia dan kembali menghabisinya seperti empat tahun lalu. "Kamu istirahat ya, aku ada urusan pekerjaan." Lukas memintanya merebah diranjang, lalu menaikkan selimutnya hingga ke atas d**a. "Temani aku sebentar saja." "Ini pekerjaan penting, kamu tenang aja. Aku bakalan cari tau siapa pengirim ular itu." Lukas mencium puncak kepalanya agar Gracia luluh dan akhirnya menurut. "Baiklah." "Aku pergi dulu." "Kamu tidak menemui Alice kan?" "Tidak ada jadwal kerja bersama, buat apa menemuinya?" Bohongnya. Karena tujuannya pergi tanpa Oliver hari ini adalah untuk menemui Alice berdua saja. "Hati-hati." Lukas tersenyum seraya keluar dari kamar mereka. Setelah menghilang dari pandangan, ia mengeluarkan surat dari si pengirim ular dan membacanya kembali. "Beraninya wanita ini mengancamku!" Seketika itu juga Paula masuk kedalam kamar dan bertanya apa yang terjadi. Sepertinya Paula juga kaget melihat ada kiriman ular dengan kepala terpisah seperti itu. "Kamu punya musuh? Siapa yang mengirim itu?" "Olivia ma! w************n yang udah godain Lukas empat tahun lalu!" Gracia memberikan secarik kertas itu kepada Paula. Mata wanita paruh baya itu ikut membulat sempurna. Jadi wanita itu masih hidup dan berani mengancamnya? "Mama akan sewa detektif untuk mencari tahu tentang dimana Olivia sekarang. Kita habisi dia sekali lagi!" ***** Alice membuka pintu dengan jantung yang hampir melompat karena serangan tiba-tiba yang Lukas lakukan. Pria itu langsung mencium dan mengangkat tubuh Alice menuju sofa. Ia merebah tepat diatas dadanya seraya menciumi gunung kembar tersebut. Sepertinya ia telah menjadi peselingkuh handal yang telah terlatih mulai hari ini. "Jangan dekat-dekat! Kenapa lama sekali?" Alice memanyunkan bibirnya. Oh lihatlah, bahkan cara marahnya sama dengan Olivia. Sangat lucu dan menggemaskan. Lukas bersumpah tidak akan melepaskan Alice. Ia tidak akan membiarkan sosok Olivia kedua pergi dari hidupnya lagi. "Ada masalah dirumah, ada pengirim teror misterius ke istriku." "O ya?" Alice langsung memasang wajah berbinar dan penuh rasa penasaran dengan cerita selanjutnya. Jadi paket yang ia kirim tepat sasaran? "Kok kamu seneng banget?" Lukas mengecup bibirnya singkat. "Bukan senang, tapi penasaran!" "Kenapa jadi bahas dia? Jangan bahas yang lain saat sedang berdua!" "Terus?" "Mau berkencan?" Lukas bertanya sambil meremas p****t Alice dengan senyuman mautnya yang begitu m***m. "Kamu saja belum menyatakan cinta padaku! Hanya seks semalam lalu mengajakku kencan? Dan berbuat selancang ini? Lalu kenapa datang sendiri? Mana Oliver?" Alice memukuli d**a bidang itu dengan gemas. "Tapi kamu senang kan? Oliver bersama kakeknya, dia ingin memberi kita ruang untuk berdua saja." "Nggak!" "Yakin?" Lukas menggodanya dengan ciuman yang begitu intim di leher wanitanya. "Jadi kamu mau pernyataan cinta dariku?" "Coba lakukan! Aku ingin lihat cara kamu menyatakan cinta kepada wanita!" Alice memeluk leher sang pria dengan tatapan menantang. "Jadilah kekasihku!" Lukas mengecup bibirnya. "Hanya seperti itu?" "Yang penting dinyatakan." Lukas kembali memagut bibir wanitanya dengan lumatan basah. Ia mengangkat gaun milik Alice ke atas, lalu mengusap jantung dan perutnya yang terdpat bekas jahitan dengan perlahan. "Kenapa ada jahitan? Aku sebenarnya ingin bertanya sejak kemarin. Tapi momentnya tidak pas. Sekarang mumpung berdua, aku ingin tahu semua tentangmu." Lukas bertanya dengan tatapan sendu. "Luka ini tidak akan aku lupakan." "Siapa yang melakukannya?" "Seseorang membunuhku empat tahun lalu." "Siapa?" "Mereka memisahkanku dengan anakku." Ujarnya dengan airmata bercucuran. "Siapa yang melakukan itu?" Lukas tidak mengerti kenapa ia seolah ikut merasakan sakitnya. Melihat Alice menangis dan terpukul seperti itu, membuat dadanya sesak. Alice hanya menggeleng sembari memeluk Lukas. Andai ia bisa, ia ingin menceritakan semua kepedihannya kepada pria itu. Tapi sayangnya, belum saatnya semua terungkap. Ia harus membalaskan dendamnya terlebih dahulu. "Kamu tidak akan pernah merasakan sakit lagi, aku janji." Lukas memeluk erat Alice yang saat ini sudah terisak pelan. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Secepat ini? Jujur padaku." "Kamu sama dengan orang yang aku cintai. Tapi kamu tenang aja, kamu bukan pelarianku. Melainkan orang yang ingin aku jadikan sebagai masa depanku dan juga Oliver." Lukas berkata dengan jujur. "Aku ingin move on bersamamu." "Siapa dia?" "Namanya Olivia. Dia menghilang setelah melahirkan Oliver. Entah kemana perginya, aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi hasilnya nihil. Aku yakin Olivia pergi karena mama selalu berkata kasar padanya." "Kamu mencintainya?" "Menurutmu? Aku bahkan memikirkannya setiap detik, aku mencarinya setiap hari hingga saat ini. Sampai tiba-tiba saja, aku menemukan sosoknya didalam dirimu." Alice bergetar ketika mendengar Lukas terisak dipelukannya. "Aku menyesal meninggalkannya malam itu. Aku hanya kekamar kecil selama beberapa menit, kami baru saja berbincang untuk mencarikan Oliver nama. Tapi setelah aku kembali, dia sudah tidak ada." "Lukas..." "Itu penyesalan terbesar dalam hidupku." Tangisnya seraya menangkap kedua wajah Alice dan menatapnya lekat. "Sekarang aku telah menemukannya didalam dirimu. Aku sangat yakin, kamu adalah orang yang tepat untuk menggantikan sosoknya di hatiku. Aku janji akan selalu mencintaimu, Alice." Alice mengangguk pelan, seraya memagut pria itu dengan begitu menggebu. Lukas membalasnya dengan panas. Keduanya melepas rasa sakit masing-masing didalam ciuman tersebut. Ada pesan saling menguatkan didalamnya. "Aku mencintaimu Alice." "Aku tidak mau menjadi yang kedua." "Tunggu waktu yang tepat, supaya papa bisa menerima hubungan kita. Aku takut penyakit papa kambuh jika aku membawa kabar yang tiba-tiba. Karena ini sudah pasti memancing keributan antar keluarga. Hanya papa yang aku khawatirkan." "Aku tunggu waktu yang tepat itu." "Maaf sudah membicarakan orang lain dihadapanmu..." "Sssttttt, aku menerima masa lalumu. Kamu bisa bersandar dibahuku jika membutuhkannya. Kapanpun itu." "Dan aku akan selalu menjagamu, mencintaimu, membuatmu menjadi ratu diduniaku." "Aku butuh bukti." Alice mendorong prianya sambil tersenyum meremehkan. "Baiklah, aku akan segera membuktikannya." Lukas mengecup sekilas bibir sexynya. "Sekarang cepat ganti baju, kita akan pergi berkencan." *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN