Suara sirine yang meraung di luar gedung terdengar semakin menjauh, seolah-olah dunia luar sedang ditarik paksa dari pandangan Alana. Di dalam lift pribadi yang bergerak turun dengan senyap, hanya ada keheningan yang menyesakkan dan aroma kayu cendana dari tubuh Nathan yang menyelimuti indra penciumannya.
Nathan tidak melepaskan pelukannya. Tangannya melingkar di pinggang Alana dengan kelembutan yang mematikan, memastikan gadis itu tetap bersandar pada dadanya yang bidang. Alana bisa merasakan detak jantung Nathan yang sangat teratur, kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu seperti genderang perang.
"Tenanglah, Alana. Tarik napasmu dalam-dalam. Semua kekacauan itu sudah berakhir," bisik Nathan. Suaranya terdengar begitu tulus, jenis suara yang dulu selalu menjadi tempat perlindungan bagi Alana setiap kali ia merasa terintimidasi oleh keliaran Kenzie.
Pintu lift terbuka di sebuah area parkir bawah tanah yang sangat privat. Hanya ada satu mobil sedan hitam dengan kaca yang sangat gelap terparkir di sana. Tidak ada polisi, tidak ada Kenzie. Nathan membimbing Alana masuk ke kursi belakang, lalu ia duduk di sampingnya, masih tidak membiarkan ada jarak di antara mereka.
"Kita akan ke mana, Kak? Polisi-polisi itu..." Alana memulai, suaranya masih bergetar.
"Polisi itu akan menemukan Kenzie di atas sana dengan sisa-sisa kekacauan yang dia buat. Biarkan dia mengurus masalahnya sendiri. Aku sudah mengatur segalanya agar kau tidak perlu terseret dalam drama hukum yang memalukan ini," Nathan meraih tangan Alana, membelai punggung tangannya dengan ibu jari secara ritmis. "Kita akan ke vila pribadi di pinggir kota. Tempat itu milik Ibuku, Ayah pun tidak tahu lokasinya. Kau bisa beristirahat dengan tenang di sana."
Mobil itu meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi. Alana menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang membias karena air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa seperti baru saja dicuri dari satu kegilaan menuju kegilaan lainnya, namun Nathan memberikan kenyamanan yang begitu halus hingga ia merasa sulit untuk menolak.
"Kenapa Kenzie bilang Kakak membiusku?" tanya Alana pelan, menoleh menatap profil samping wajah Nathan yang tampak sempurna dalam remang cahaya kabin mobil.
Nathan terdiam sejenak. Ia melepaskan tangan Alana hanya untuk merapikan helai rambut yang menutupi mata gadis itu. "Kenzie selalu melihat dunia dari sudut pandang yang kotor, Alana. Baginya, setiap kebaikan adalah strategi, dan setiap perlindungan adalah penculikan. Aku hanya ingin membawamu pergi dari pesta itu sebelum kau pingsan karena tekanan. Jika caraku sedikit kasar, itu karena aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan Kenzie yang keras kepala."
Nathan mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke mata Alana dengan intensitas yang sosiopatik. "Kau percaya padaku, bukan? Aku yang membawamu pulang sepuluh tahun lalu. Aku yang memastikan kau mendapatkan pendidikan terbaik. Aku tidak akan pernah menyakitimu."
Alana terbuai oleh kata-kata itu. Manipulasi Nathan begitu rapi, dibungkus dengan sejarah panjang kedekatan mereka. Tanpa sadar, Alana menyandarkan kepalanya di bahu Nathan. "Aku hanya lelah, Kak. Aku ingin semuanya berhenti."
"Maka berhentilah berpikir. Serahkan semuanya padaku," sahut Nathan sambil mengecup puncak kepala Alana dengan sangat lama.
---
Sementara itu, di apartemen Nathan yang berantakan, Kenzie berdiri mematung di tengah ruangan yang kini sudah dipenuhi oleh petugas polisi. Wajahnya merah padam, bukan karena luka fisik, melainkan karena amarah yang membakar jiwanya. Ia melihat pintu rahasia di balik lemari yang sudah terkunci mati dari dalam.
"Tuan Kenzie, kami tidak menemukan siapapun di sini selain Anda dan beberapa bukti keributan," ucap seorang petugas polisi dengan nada ragu.
"Dia membawanya! b******k itu membawanya pergi!" teriak Kenzie, menghantamkan tinjunya ke dinding hingga buku jarinya berdarah lagi.
Kenzie tidak peduli pada polisi-polisi itu. Ia merogoh ponselnya, mencoba menghubungi nomor Alana, namun nomor itu sudah tidak aktif. Ia mencoba melacak GPS yang sempat ia pasang di choker emas Alana, namun ia hanya menemukan sinyalnya terhenti di lantai apartemen ini, tempat Nathan melepaskannya tadi.
"Kau pikir kau menang, Kak?" desis Kenzie dengan suara yang bergetar hebat. Matanya liar, menatap setiap sudut ruangan dengan dendam yang murni. "Aku akan membakar seluruh dunia ini jika perlu, hanya untuk menemukan di mana kau menyembunyikannya."
Kenzie berjalan keluar dari apartemen itu, mengabaikan panggilan petugas polisi yang ingin meminta keterangannya. Di kepalanya hanya ada satu bayangan: Alana yang ketakutan berada di bawah kendali Nathan yang dingin. Kenzie tahu kakaknya lebih dari siapapun. Nathan tidak mencintai Alana seperti manusia biasa; Nathan memiliki Alana seperti kolektor memiliki barang antik yang paling langka.
---
Perjalanan menuju vila memakan waktu dua jam. Saat mobil memasuki gerbang besi yang tinggi dan tertutup tanaman merambat, Alana menyadari bahwa tempat ini benar-benar terisolasi. Vila itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi oleh hutan pinus yang sunyi.
Nathan membantu Alana turun dari mobil. Udara dingin pegunungan langsung menyergap kulitnya yang hanya tertutup piyama sutra. Nathan segera melepas jas tuksedonya dan menyampirkannya ke bahu Alana, memberikan kehangatan yang instan.
"Selamat datang di rumah barumu, Alana. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan," ucap Nathan sambil membimbingnya masuk ke dalam gedung tua yang interiornya sangat mewah namun terasa berat oleh sejarah.
Di dalam, pelayan tua yang setia sudah menyiapkan perapian dan teh hangat. Nathan tidak membiarkan Alana pergi ke kamar sendirian. Ia menuntunnya ke depan perapian, mendudukkannya di sofa beludru, lalu berlutut di depan Alana untuk melepas sepatu yang masih dipakai gadis itu.
"Kak, ini terlalu banyak. Aku bisa melakukannya sendiri," protes Alana merasa tidak enak.
"Biarkan aku melayanimu, Alana. Malam ini kau sudah cukup menderita," Nathan mendongak, menatap Alana dari posisinya yang berlutut. "Kau tahu, sejak pertama kali kau menginjakkan kaki di rumah Arkananta, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa kau tidak akan pernah merasakan kerasnya lantai dunia ini lagi."
Nathan meraih tangan Alana, mencium telapak tangannya dengan sangat lembut namun posesif. "Di sini, tidak ada yang bisa menyentuhmu tanpa izinku. Bahkan Kenzie sekalipun tidak akan bisa menemukan celah untuk masuk ke sini."
Alana merasakan sensasi aneh yang menjalar di perutnya. Perlakuan Nathan sangat manis, sangat memanjakan, namun ada rasa takut yang samar bahwa ia sedang disuapi racun yang rasanya seperti madu. Nathan bangkit dan duduk di sampingnya, menarik Alana ke dalam pelukannya lagi.
"Besok, kita akan mulai hidup baru. Tanpa Ayah, tanpa Kenzie. Hanya kau dan aku," bisik Nathan.
Alana memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan di dalam pelukan pria yang menurutnya sebagai penyelamatnya. Namun di kejauhan, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa Kenzie tidak akan diam. Kenzie adalah badai yang akan terus mengejar kemana pun Nathan membawanya.
"Apakah Kenzie akan baik-baik saja, Kak?" tanya Alana tiba-tiba.
Rahang Nathan mengeras sesaat, namun ia segera menyembunyikannya dengan sebuah ciuman lembut di kening Alana.
"Kenzie akan belajar bahwa ada hal-hal di dunia ini yang memang tidak ditakdirkan untuk dia miliki, Alana. Dan hal itu adalah kau."
---