Pagi di vila itu datang dengan cahaya matahari yang menembus celah-celah hutan pinus, menyusup masuk melalui jendela besar kamar utama yang menghadap langsung ke arah lembah. Alana terbangun bukan karena suara alarm atau deru mesin motor Kenzie yang biasanya memekakkan telinga, melainkan karena aroma wangi pancake yang baru matang dan seduhan teh earl grey yang menenangkan.
Ia mengerjap, merasakan halusnya seprai katun Mesir yang membungkus tubuhnya. Kamar ini jauh lebih hangat daripada apartemen Nathan yang dingin. Tidak ada sudut tajam atau furnitur minimalis yang mengancam; semuanya dihiasi dengan kayu ek berwarna madu dan kain-kain lembut.
"Kau sudah bangun, Little Rose?"
Alana menoleh ke arah pintu balkon. Nathan berdiri di sana, mengenakan kemeja kain linen berwarna krem yang longgar dengan beberapa kancing atas yang terbuka. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh sedikit berantakan di dahinya, memberikan kesan manusiawi yang jarang ia tunjukkan. Ia memegang sebuah nampan kayu dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Kak Nathan... jam berapa sekarang?" Alana berusaha duduk, merasakan otot-ototnya yang masih sedikit lemas namun kepalanya sudah jauh lebih ringan.
"Masih sangat pagi. Kau tertidur cukup lama, dan itu bagus. Tubuhmu butuh pemulihan setelah semua tekanan di pesta itu," Nathan berjalan mendekat, meletakkan nampan itu di atas pangkuan Alana dengan gerakan yang sangat lembut, seolah Alana adalah porselen yang bisa pecah hanya karena satu guncangan.
Di atas nampan itu terdapat piring berisi pancake dengan sirup mapel, potongan buah stroberi segar, dan setangkai bunga mawar putih yang masih berembun. Nathan duduk di tepi ranjang, memerhatikan Alana dengan tatapan yang begitu dalam, seolah ia sedang mengagumi lukisan paling indah yang pernah ia beli.
"Makanlah. Aku sendiri yang menyiapkannya," ujar Nathan sambil mengulurkan garpu.
Alana menatap mawar putih itu, lalu menatap Nathan. "Kakak memasak?"
Nathan tertawa kecil, suara yang terdengar sangat merdu dan tulus di telinga Alana. "Hanya untukmu. Aku ingin memastikan tidak ada bahan kimia atau pengawet yang masuk ke tubuhmu hari ini. Aku ingin kau benar-benar bersih dan sehat."
Alana menyuap sepotong kecil makanan itu. Rasanya luar biasa enak, atau mungkin karena suasana tenang ini membuatnya merasa lebih baik. Nathan tidak berhenti menatapnya; jemarinya bergerak maju untuk mengusap sedikit sisa sirup di sudut bibir Alana. Sentuhannya lambat, hangat, dan sangat posesif dengan cara yang halus.
"Enak?" tanya Nathan lembut.
Alana mengangguk pelan. "Terima kasih, Kak. Di sini... sangat tenang. Seolah dunia luar benar-benar berhenti."
"Itu tujuanku membawamu ke sini, Alana. Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya dicintai tanpa ada suara teriakan atau ancaman. Selama sepuluh tahun ini, rumah Arkananta terlalu berisik untuk jiwa selembut dirimu," Nathan meraih tangan Alana, mengecup punggung tangannya dengan sangat lama.
Suasana menjadi sangat intim. Nathan tidak membicarakan soal Kenzie, tidak membicarakan soal Ayah, atau soal perusahaan. Ia justru mulai bercerita tentang kenangan-kenangan masa kecil mereka, tentang saat pertama kali Alana datang ke rumah dengan gaun lusuh dan bagaimana Nathan langsung tahu bahwa ia harus menjaga gadis ini selamanya.
"Kau ingat saat kau menangis karena takut pada petir di malam pertama?" Nathan tersenyum tipis, matanya berkilat penuh obsesi yang tertutup kabut kasih sayang. "Aku duduk di depan pintumu sepanjang malam. Aku tidak masuk karena aku menghormatimu, tapi aku tidak akan pergi karena aku menjagamu. Sejak saat itu, posisiku tidak pernah berubah, Alana."
Alana merasakan dadanya bergetar. Manipulasi Nathan terasa begitu manis karena ia selalu menyentuh sisi emosional Alana. Bagi Alana yang yatim piatu, perhatian Nathan adalah candu yang sulit ia tolak.
"Kenapa Kakak begitu baik padaku? Padahal aku hanya anak yang dibawa masuk ke keluarga ini," tanya Alana lirih.
Nathan mendekatkan wajahnya, tangan kirinya merayap ke belakang tengkuk Alana, mengelusnya dengan gerakan ritmis yang memabukkan. "Karena kau adalah satu-satunya hal yang nyata di duniaku, Alana. Orang lain adalah angka dan strategi, tapi kau adalah nyawa. Memilikimu bukan sekadar keinginan, tapi kebutuhan untuk tetap membuatku merasa sebagai manusia."
Nathan bangkit, lalu membimbing Alana untuk berdiri. Ia menuntunnya menuju balkon. Di sana, sebuah kursi ayun besar yang penuh dengan bantal bulu sudah tersedia. Nathan duduk di sana dan menarik Alana untuk duduk di pangkuannya, mendekapnya dari belakang sambil bersama-sama menatap pemandangan hutan pinus yang berkabut.
"Kau tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Di sini, kau hanya perlu menjadi Alana yang cantik. Aku akan mengurus semuanya; pakaianmu, makananmu, bahkan napasmu jika kau mau," bisik Nathan di telinga Alana.
Alana memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat itu. Ia merasa aman, meskipun di balik pikirannya, ada rasa takut yang samar bahwa keamanan ini hanyalah dinding-dinding kaca yang sangat tinggi yang tidak akan pernah bisa ia panjat untuk keluar. Namun untuk saat ini, manisnya perhatian Nathan sudah cukup untuk menidurkan kecurigaannya.
"Tetaplah seperti ini, Alana. Jangan pernah berpikir untuk pergi, karena kau adalah pusat dari duniaku," ucap Nathan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alana, menikmati kemenangan dalam kesunyian yang ia ciptakan.
---