Pagi berganti siang dengan transisi yang begitu halus di vila itu, seolah waktu sendiri enggan mengganggu ketenangan yang telah Nathan bangun. Di tempat ini, tidak ada jam dinding yang berdetak nyaring, tidak ada dering telepon yang mendesak, dan yang paling penting, tidak ada bayang-bayang Kenzie yang biasanya merusak suasana dengan ledakan amarahnya. Hanya ada suara gesekan daun pinus dan gemericik air dari pancuran taman di lantai bawah.
Alana duduk di sofa ruang tengah yang luas, kakinya yang telanjang terkubur di dalam karpet bulu domba yang sangat tebal. Di tangannya terdapat sebuah buku puisi klasik, namun matanya lebih sering teralih pada sosok Nathan yang duduk tak jauh darinya. Nathan sedang menyesap kopi hitamnya sambil menatap keluar jendela besar, seolah-olah ia sedang menjaga perbatasan kerajaannya yang tak terlihat.
"Kau menyukai bukunya?" tanya Nathan tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat menawan.
Alana tersentak kecil, lalu mengangguk. "Bahasa penulisnya sangat indah, Kak. Tapi sedikit menyedihkan. Tentang seseorang yang terjebak di dalam mimpi yang tidak ingin ia akhiri."
Nathan memutar tubuhnya, menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia bangkit dari kursi kulitnya dan berjalan mendekat. Setiap langkah Nathan terasa penuh perhitungan, anggun, namun mengandung kekuatan yang mendominasi ruang. Ia duduk di lantai, tepat di depan kaki Alana, sebuah posisi yang sangat rendah hati namun entah mengapa justru membuat Alana merasa semakin terkepung.
"Terkadang, mimpi adalah satu-satunya tempat yang adil bagi kita, Alana," ucap Nathan lembut. Ia meraih salah satu kaki Alana, meletakkannya di atas pangkuannya dengan gerakan yang sangat alami seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Alana menahan napas saat jemari panjang Nathan mulai memijat telapak kakinya dengan tekanan yang pas. "Kak, jangan... ini memalukan."
"Diamlah, Little Rose. Kakimu masih terasa dingin. Aku ingin memastikan sirkulasi darahmu lancar," sahut Nathan tanpa melepaskan pandangannya. Jemarinya bergerak lincah, memberikan perhatian pada setiap jengkal kulit Alana dengan ketelatenan yang menakutkan. "Di rumah Arkananta, kau selalu berlari. Berlari dari amarah Kenzie, berlari dari tuntutan Ayah, berlari dari bayang-bayangmu sendiri. Di sini, kau tidak perlu lari lagi."
Alana merasa wajahnya memanas. Perlakuan Nathan benar-benar melumpuhkan logikanya. Nathan yang biasanya dingin dan kaku di depan dewan direksi perusahaan, kini bertransformasi menjadi pelayan paling setia bagi Alana. Ia adalah sosiopat yang tahu persis bahwa untuk menjinakkan mangsa yang ketakutan, ia tidak membutuhkan rantai besi, melainkan belaian sutra.
"Kenapa tempat ini begitu tersembunyi, Kak? Sepertinya tidak ada satu pun tetangga di radius berkilo-kilometer," tanya Alana, mencoba mengalihkan intensitas suasana.
Nathan berhenti memijat sejenak, namun tangannya tetap memegang kaki Alana dengan posesif. "Ibuku membangun tempat ini sebagai pelarian dari kegilaan Ayah. Dia ingin sebuah tempat di mana tidak ada yang bisa menemukannya kecuali orang yang ia cintai. Dan sekarang, aku mewariskan fungsi itu untukmu. Kau adalah orang yang kucintai, Alana. Dan aku ingin melindungimu dari dunia yang hanya ingin memanfaatkan kecantikanmu."
"Tapi dunia luar tetap ada, Kak. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi di sini."
Nathan tersenyum, jenis senyuman yang tidak pernah mencapai matanya yang gelap. "Dunia luar hanya akan memberimu rasa sakit. Kenzie mungkin sedang menghancurkan apartemenku sekarang, atau mungkin sedang mabuk di suatu tempat karena frustrasi. Ayah mungkin sedang sibuk menutupi skandal pesta malam itu. Apakah kau benar-benar merindukan semua itu?"
Alana terdiam. Ingatannya kembali pada kekacauan di pesta, pada tatapan liar Kenzie, dan pada tangan kasar yang menyeretnya. Dibandingkan dengan itu semua, keberadaannya di sini bersama Nathan terasa seperti surga. Nathan yang memberinya makan, Nathan yang merawatnya, Nathan yang membisikkan kata-kata manis setiap kali ia terbangun karena mimpi buruk.
"Aku hanya... merasa bersalah pada Kenzie," bisik Alana jujur.
Genggaman tangan Nathan pada pergelangan kaki Alana mengeras selama satu detik, sebuah kilatan emosi yang sangat singkat sebelum kembali lembut. "Kenzie adalah orang yang memilih jalannya sendiri, Alana. Dia memilih kekerasan, dia memilih untuk memaksamu. Jangan kotori pikiranmu dengan rasa bersalah untuk pria yang tidak tahu cara menghargai sebuah permata."
Nathan bangkit dan duduk di samping Alana di sofa. Ia menarik tubuh gadis itu agar bersandar pada dadanya. Aroma kayu cendana yang bercampur dengan wangi kopi yang mahal segera menyelimuti Alana. Nathan mulai memainkan helai rambut Alana, menggulungnya di jari-jarinya dengan penuh minat.
"Malam ini, aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam khusus di rumah kaca. Kita akan melihat bintang tanpa gangguan lampu kota. Kau akan memakai gaun biru yang aku letakkan di lemarimu, oke?"
"Gaun lagi? Kakak menyiapkan banyak baju untukku?"
"Tentu saja. Aku ingin kau memiliki segalanya. Aku ingin kau bangun setiap pagi dan merasa bahwa kau adalah seorang ratu di tempat ini. Pakaian, perhiasan, buku... apa pun yang kau inginkan, kau cukup mengatakannya padaku," Nathan mencium pelipis Alana, napasnya terasa hangat di kulit gadis itu. "Aku akan menjadi duniamu, Alana. Kau tidak butuh siapa-siapa lagi."
Seharian itu, Nathan benar-benar menjalankan perannya sebagai pelindung yang sempurna. Ia tidak membiarkan Alana melakukan pekerjaan apa pun. Bahkan saat Alana ingin mengambil air minum, Nathan sudah lebih dulu menyediakannya. Perhatian itu begitu intens, begitu menyeluruh, sehingga Alana mulai merasa kehilangan fungsinya sebagai manusia mandiri. Ia mulai bergantung pada setiap gerakan Nathan, menunggu instruksi Nathan, dan mencari persetujuan dari mata Nathan.
Sore harinya, Alana masuk ke kamar untuk bersiap. Di atas tempat tidur, terbentang gaun sutra berwarna biru safir yang sangat indah. Potongannya sederhana namun sangat elegan, dengan punggung yang sedikit terbuka. Di sampingnya, terdapat sebuah kotak perhiasan kecil. Alana membukanya dan menemukan sebuah kalung berlian yang sangat halus, jauh berbeda dengan choker gembok emas milik Kenzie yang terasa berat dan menghina.
Nathan benar-benar tahu cara "mengikat" seseorang tanpa membuatnya merasa terikat.
Saat Alana keluar dari kamar, Nathan sudah menunggunya di lorong. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat maskulin dan dominan. Ia menatap Alana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan binar kepemilikan yang tak tersamarkan.
"Kau sangat luar biasa, Little Rose. Gaun itu terlihat jauh lebih indah karena kau yang memakainya," puji Nathan sambil mengulurkan tangannya.
Mereka berjalan menuju rumah kaca yang terletak di bagian belakang vila. Tempat itu dipenuhi dengan bunga-bunga eksotis yang mekar di bawah cahaya bulan. Meja makan kecil sudah ditata dengan lilin-lilin aromaterapi dan hidangan mewah.
Selama makan malam, Nathan bersikap sangat manis. Ia memotongkan daging untuk Alana, menuangkan sparkling juice (karena ia tahu Alana tidak terlalu suka alkohol), dan menceritakan rencana-rencana masa depan yang sangat indah. Ia berbicara tentang perjalanan ke luar negeri, tentang rumah baru di Italia, tentang kehidupan yang jauh dari jangkauan Arkananta.
"Semua itu terdengar sangat indah, Kak," gumam Alana, merasa terbuai oleh visi masa depan yang Nathan tawarkan.
"Itu bukan sekadar rencana, Alana. Itu adalah janji," sahut Nathan. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Alana. Ia membimbing Alana untuk berdiri, lalu mengajaknya berdansa kecil di tengah rumah kaca tanpa musik, hanya diiringi suara jangkrik dan embusan angin.
Mereka bergerak perlahan. Alana menyandarkan kepalanya di d**a Nathan, mendengarkan detak jantung pria itu yang terasa begitu tenang. Pada saat itu, Alana merasa benar-benar dicintai. Ia merasa bahwa semua kegilaan Nathan di masa lalu hanyalah bentuk cinta yang terlalu besar dan salah jalan.
Namun, di tengah dansa itu, Nathan mengeratkan pelukannya. Tangannya yang berada di pinggang Alana turun sedikit lebih rendah, dan ia membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Alana berdiri, meski nadanya tetap sangat lembut.
"Kau tahu, Alana... terkadang aku berpikir untuk menghancurkan semua jembatan menuju tempat ini. Agar tidak ada jalan keluar, agar kau tidak pernah punya alasan untuk berpaling lagi."
Alana mendongak, menatap mata Nathan. Mata itu berkilat di bawah cahaya bulan, menunjukkan sisi sosiopatik yang tetap ada di balik kelembutannya. "Kak... itu terdengar menakutkan."
Nathan tertawa kecil, mencium dahi Alana dengan penuh pengabdian. "Itu bukan ancaman, Sayang. Itu adalah bentuk pengabdian. Aku hanya tidak sanggup membayangkan sedetik saja hidup tanpamu di sisiku."
Nathan menarik Alana lebih dekat, menyatukan kening mereka. "Besok, aku harus pergi sebentar ke kota untuk mengurus beberapa hal penting. Aku tidak akan lama. Aku sudah meminta para penjaga untuk memastikan kau tidak kekurangan apa pun. Kau akan menungguku di sini dengan manis, bukan?"
Alana mengangguk pelan, seolah terhipnotis oleh tatapan Nathan. "Aku akan menunggumu, Kak."
"Anak pintar," bisik Nathan. Ia menatap bibir Alana selama beberapa detik sebelum akhirnya mendaratkan ciuman yang sangat dalam dan posesif, sebuah tanda bahwa meski di tempat yang paling indah dan manis sekalipun, Alana tetaplah mangsa yang telah dikunci rapat di dalam sangkar emasnya.
---