20. Hidup Harus Berjalan

1580 Kata

Eldiro duduk di sisi tempat tidur Avelline, menatap istrinya yang kini menggeleng pelan. Dia merebahkan tubuhnya kembali dan memejamkan mata. Bukan karena mengantuk, namun karena dia lelah secara fisik dan mental. Proses persalinan yang tidak mudah. Rahimnya pun harus diangkat, yang itu artinya dia dipaksa menerima keadaan monopuse dini, takkan lagi datang bulan. Eldiro membelai rambut istrinya dengan lembut. “Apa sebaiknya aku suruh mamah pulang aja ya?” ucapnya hati-hati, “aku enggak mau kamu tertekan kayak gini,” imbuhnya dengan suara yang begitu perlahan, begitu berat. Avelline langsung membuka matanya. “Aish! Jangan,” ucapnya cepat, “kamu apa-apaan sih? Aku enggak setuju kalau kamu bersikap seperti itu ke mamah,” ucap Avelline. Eldiro terdiam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN