Udara panas pabrik menyergap begitu Aurora melangkah masuk. Suara mesin, dentingan logam, dan derap langkah para pekerja membuat tempat itu terasa sibuk namun tertib. Aurora sudah menyiapkan diri. Wajah lembut, senyum ramah, bahasa tubuh yang tenang. Tidak ada yang boleh menebak niatnya hari ini. Ia datang untuk satu hal. Menggoyahkan Darren Wijaya sedikit demi sedikit. Beberapa pekerja menunduk memberi hormat ketika melihatnya. Mereka pasti mengira ia Luna. Aurora tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya tetap berjalan dengan ritme terkontrol, sepatu haknya menjejak lantai beton dengan suara yang teratur. Darren terlihat di sisi kiri ruangan, sedang berbicara dengan supervisor. Tubuhnya tegap, kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan gaya bekerja yang berusaha terlihat serius.

