Apartemen Samuel masih dipenuhi aroma kopi hangat yang dibuat Aurora beberapa menit lalu. Lampu-lampu kuning lembut memantul di kaca jendela besar, menciptakan suasana yang terlalu tenang untuk dua orang yang baru saja mengguncang seluruh perusahaan keluarga Yunandhra. Aurora duduk di sofa, menundukkan kepala sambil memijat pelipis. Kelelahan rapat tadi masih terasa, tapi hatinya menghangat tiap kali ingat bagaimana Samuel masuk ruangan rapat itu seperti pelindung yang turun tepat waktu. Samuel berdiri tepat di belakang sofa, tangannya perlahan menyusuri bahu Aurora, gerakannya lembut, hampir terlalu penuh sayang untuk pria sedingin dia di depan dunia. Aurora mendongak. "Kamu kelihatan capek banget." Suara Samuel rendah dan berat, tapi penuh perhatian. "Aku cuma… lega semua berjalan

