Kemesraan | 40

1130 Kata

Aurora baru keluar dari ruang rapat ketika pintu besar itu tertutup pelan di belakangnya. Nafasnya masih belum stabil. Bukan karena takut… tapi karena adrenalin menang telak. Seluruh direktur tadi melihat dia seperti mereka pertama kali sadar kalau Aurora Yunandhra bukan boneka magang. Bukan bayangan Luna. Bukan anak kecil yang perlu dituntun. Dia menang. Untuk pertama kalinya… dia benar-benar menang. Aurora berdiri di lorong panjang perusahaan, memegangi map tipis yang tadi ia jadikan peluru. Tangannya sedikit bergetar. Bukan karena gugup. Tapi karena perasaan lega dan euforia yang terlalu penuh. Pintu rapat kembali terbuka. Samuel keluar menyusul, tanpa menutup pintu dengan buru-buru. Seolah ia sengaja bikin semua orang melihat ia menghampiri Aurora. Ia berjalan dengan langkah panj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN