Darren duduk sendirian di lounge hotel tempat meeting bisnis baru saja selesai. Kopi hitamnya sudah dingin sejak lima belas menit lalu, tapi dia tidak punya niat untuk menyentuhnya lagi. Dari tadi, kepalanya terasa penuh dan berat, seolah ada sesuatu yang terus memukul-mukul bagian belakang tengkoraknya. Malam itu. Bar itu. Tubuh itu. Aroma Luna yang menempel di jaketnya sampai dua hari setelahnya. Darren sudah mencoba menghapus memorinya, tapi semakin dia memaksa untuk lupa, semakin jelas adegan itu di kepalanya. Suara tumit sepatu menghentak lantai marmer membuat Darren mendongak. Luna berdiri di sana, mengenakan coat beige dan dress hitam ketat yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tidak. Gadis itu tidak pernah tersenyum tanpa tujuan. “Kamu nu

