Ruang rapat lantai delapan pagi itu terasa terlalu sepi untuk ukuran ruang yang biasanya dipenuhi suara pegawai sibuk mondar-mandir. Aurora berdiri di dekat meja panjang, merapikan map presentasi sambil berusaha tidak menoleh pada Luna yang berdiri di seberangnya. Sejak pertengkaran hebat kemarin, hubungan mereka sama sekali tidak membaik. Justru semakin keruh. Hari pertama magang Aurora seharusnya berjalan lancar. Tapi Luna tidak membiarkan itu terjadi. “Gue udah bilang, lo itu cuma magang. Lo ga usah sotoy ngatur divisi mana pun,” kata Luna sambil melipat tangan di d**a, ekspresinya penuh meremehkan. Aurora menarik napas, menahan diri. “Gue cuma ngejalanin yang Papa suruh.” “Papa suruh lo belajar. Bukan sok jadi gue,” balas Luna cepat, nada suaranya dingin. Ucapan itu langsung bikin

