Untuk pertama kalinya dalam hidup Ella, ia melihat Darius–papanya itu terlihat gelisah dan gugup. Sejak lima menit lalu Darius dipersilakan duduk di ruang tamu rumah Alaric, hingga Bi Lastri selesai menghidangkan minuman dan kudapan, Darius belum juga buka mulut. “Papa apa kabar?” Akhirnya Ella lebih dulu membuka topik. Ia merasa perlu menanyakan kabar karena penampilan Darius terlihat tidak seprima biasanya. Bahkan boleh dibilang, Darius tampak lebih lusuh dan kusut daripada Darius yang biasanya selalu rapih dan klimis. “Papa baik.” Darius menjawab cepat, tangannya saling meremas. Ia mendongak menatap Ella dan Alaric bergantian. “Pertama, Papa mau mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Alaric, selamat atas jabatan barumu. Aku tidak pernah meragukan kamu pasti akan mengisi kursi CEO s