Bab 1
"Appa? Dad? Yang bener aja. Aku baru masuk kuliah dan Daddy udah jodohin aku!!" pekik seorang gadis dengan keras.
"Ya, dan nanti malam kita akan membicarakan masalah itu. Jadi jangan pergi kemana mana."
Velove, memijat keningnya yang berdenyut. Bagiamana tidak. Baru saja dia kembali dari kampus tiba tiba di ajak bicara tentang masalah perjodohan.
Astaga, jaman sekarang masih ada perjodohan seperti itu.
"Dad, kenapa nggak rundingin dulu sama aku sih. Main di jodohin aja." dumel Velove lagi.
" Lagian, kenapa nggak Daddy aja yang nikah lagi. Kenapa malah aku yang di jodohin! "
Bugh.....
" Aduh! "
Velove meringis saat sebuah bantal melayang mengenai kepalanya dan pelakunya adalah sang Mommy. Mata Mommy nya sudah melotot ke arah Velove yang membuat Velove semakin cemberut saat ini.
"Kalau bicara yang bener Velove, masak nyuruh Daddy kamu nikah lagi." omel Nesa.
Mahen menghela napas berkali kali melihat tingkah laku putrinya ini.
Tapi dia tak bisa membatalkan perjodohan yang sudah di atur dengan keluarga calon suami Velove.
"Lebih baik kamu istirahat. Biar nanti kamu nggak bikin masalah saat mereka datang ke rumah ini. "
Mata Velove melotot mendengar perkataan Daddynya. Bisa bisanya Mahen mengatakan hal seperti itu.
"Daddy jahat banget sih, mana pernah aku bikin masalah buat Daddy sama Mommy." cerocos Velove kesal.
Mahen lalu bicara panjang lebar mengingat kan bagaimana tingkah Velove selama ini. Mulai dari Velove yang sering mengikuti balap liar dan juga kabur dari rumah. Velove meringis saat Mahen sang papa mengatakan semua kelakuannya selama ini.
Semua yang di lakukan Velove dari A sampai Z pun langsung di jabarkan dengan lengkap tanpa ada yang tertinggal.
Dan Mahen menatap jengah pada putrinya satu itu.
"Kalau kamu lupa biar Daddy ingatkan lagi semua masalah yang pernah kamu bikin Velove. Apalagi saat kamu kuliah di luar negeri sampai kembali ke Indonesia lagi. Jadi jangan pura pura lupa alasan kamu pindah kesini Velove Valensia!"
Glek.....
Velove meneguk ludahnya kasar, dia tak lupa sama sekali saat tiba tiba asisten Daddynya menangkap basah Velove yang sedang berada di club malam bersama teman temannya. Mahen murka dan saat itu juga Velove di gelandang pulang ke Indonesia.
Velove berdehem, dan setelahnya dia menggaruk pelipisnya takut dengan amukan Mahen kali ini.
"Oke, Velove istirahat sekarang. Dan panggil Velove saat nanti jodoh yang Daddy siapkan sudah datang."
Setelahnya Velove kabur ke kamarnya dengan cepat. Mahen menghela napas berkali kali memikirkan tingkah putri tunggalnya itu.
"Dad, Daddy yakin dengan perjodohan ini?" tanya Nesa hati hati.
Mahen, mengangguk yakin. Karena Mahen percaya jika jodoh yang sudah di siapkannya ini benar benar akan bisa merubah sifat Velove yang selalu seenaknya sendiri.
"Mommy tenang aja, Daddy juga nggak mungkin kan jodohin putri kita dengan sembarang orang. Dia tetap berlian Daddy meskipun tingkahnya sering bikin jantungan. "
Nesa terkekeh mendengar itu, lalu mereka memilih untuk bersiap. Mereka juga tak ingin membuat malu diri mereka sendiri jika tak ada persiapan sama sekali.
#
Di dalam kamar, Velove monda mandir seperti sebuah setrika.
"Daddy kenapa tiba tiba banget ya jodohin aku kayak gini? Apa mungkin ini pernikahan bisnis?"
Velove mengacak rambutnya karena dia mulai panik. Biar bagaimana pun dia belum siap untuk menikah apalagi di umur yang masih 22 tahun. Masa depannya masih panjang, dan apa jadinya jika dia menikah muda.
"Oh, ya ampun, otakku nggak bisa mikir sama sekali. Aku harus gimana?? "
Velove mulai frustasi, tapi mengingat sikap Daddy nya tadi sudah jelas Mahen tak pernah main main.
Velove duduk di sisi ranjang dengan menundukkan kepalanya. Dia ingin kabur dari sana tapi dia akan kabur kemana?
Dia belum punya banyak teman disana. Apalagi dia baru kembali dari luar negeri.
Velove menghela napas sekali lagi.
Bruk.....
Tubuhnya jatuh ke ranjang, melihat langit langit. Pikirannya kacau, dia tak bisa berpikir sama sekali saat ini.
"Nikah muda ya? Apa enaknya sih?" gumam Velove lirih.
Perlahan mata itu tertutup karena mata nya sudah lelah sejak tadi.
Dan tak lama Velove masuk ke dalam dunia mimpinya. Velove tertidur pulas meninggalkan pikirannya yang tengah kalut.
#
Tanpa di rasa waktu sudah menunjukan malam hari.
Velove mulai terbangun karena alarm dari ponselnya yang terdengar nyaring.
Dia meraih ponselnya dan mematikan alarm itu. Velove bangun dari ranjang dengan keadaan belum sepenuhnya bangun. Tapi perutnya sudah keroncongan minta di isi.
"Masih ngantuk, tapi perut sialan ini malah kelaparan!"
Velove terus menggerutu tanpa sadar. Dia juga turun ke lantai satu untuk mengambil makanan. Tapi saat dia berada di anak tangga terdengar pekikan keras dari sang mama.
"Astaga, Velove... Apa yang kamu lakukan?"
Mata Velove langsung membuka sempurna dan otaknya ngeblang seketika. Dia mengerjapkan matanya berkali kali lalu memindai semua orang yang sedang menatapnya aneh. Sampai tatapan matanya bertubrukan dengan salah satu orang yang duduk di dekat Daddy nya.
Sedetik, dua detik, Velove masih belum sadar dengan apa yang terjadi padanya dan semua orang yang ada disana.
"Velove, kenapa kamu masih pakai piyama?" teriak Nesa lagi
Mata Velove membola, dan dia menundukkan wajahnya tersadar dengan apa yang terjadi.
" Sialan! " batin Velove.
Wajahnya memerah karena malu, apalagi dia berpakaian seperti itu di depan banyak orang. Oh, jangan lupakan penampilan nya yang masih acak acakan bangun tidur.
" Mommy, maaf.... Velove ganti baju dulu!! " teriak Velove sambil berteriak lari kembali masuk ke dalam kamarnya.
Semua orang menatap bengong pada Velove, Mahen sendiri menutup wajahnya karena syok dengan apa yang di lakukan putrinya.
Tapi berbeda dengan satu orang yang terus mengawasi Velove dengan mata elangnya.
Senyum samar tercetak disana.
"Lucu sekali! "
#
Velove jelas malu setengah mati. Dia menutup pintu kamarnya dengan keras. Memukul kepalanya sendiri, bisa bisanya dia ketiduran dan lupa dengan acara perjodohan itu.
"Ya Tuhan, malu banget aku. Dan tadi, laki laki itu?"
"Ahhh, dia pasti yang mau di jodohin sama aku!!"
Velove terus menggerutu tapi kemudian sebuah pikirkan terlintas dalam otaknya.
"Bukannya itu bagus? Dia bisa ilfeel kan sama aku gara gara lihat hal tadi?"
Velove tersenyum senang, lalu dia menuju kamar mandi dengan perasaan yang lebih tenang dan santai. Dia akan bersiap, tapi dia juga tak ingin membuat Daddy-nya mengamuk dan malah menghukumnya.
#
Sedangkan di ruang tamu, Nesa meminta maaf pada tamunya berkali kali karena ulah Velove barusan.
"Nyonya Sofiah, maafkan putriku. Mungkin dia lupa jika malam ini adalah malam yang penting untuknya."
Sofiah yang awalnya syok melihat penampilan Velove akhirnya tertawa. Dia merasa jika Velove itu sangat lucu dengan penampilan polosnya.
"Tidak apa apa nyonya Nesa, mungkin Velove juga masih kaget dengan perjodohan ini."
Nesa bisa bernapas lega karena ternyata Sofiah tak marah atau memojokkan Velove karena sikapnya tadi. Begitu juga dengan Marko yang terlihat biasa saja sejak tadi.
Tak berapa lama, Velove turun dari kamarnya dengan pakaian yang rapi dan juga make up tipis natural.
Entah kenapa dia merasa gugup saat ini, padahal tadi ketika Velove keluar dari kamar dia merasa jika dia akan baik baik saja.
Langkah nya mulai terasa berat saat Velove mulai dekat dengan ruang tamu dimana calon suaminya juga ada disana.
Ah, bisakah Velove menyebutnya calon suam? Padahal ini hanya perjodohan dan belum tentu laki laki itu akan setuju juga dengan perjodohan mereka. Siapa tahu malah laki laki itu juga sudah mempunyai pasangan, berbeda dengan dirinya yang masih sendiri.
"Nah, ini dia yang di tunggu." sindir Nesa pada putrinya.
Velove duduk di sebelah Nesa dengan wajah tertunduk. Dia tak berani mengangkat kepalanya karena malu dengan kejadian tadi.
"Cantik kan Al?" goda Sofiah yang sejak tadi tahu jika putranya terus melihat ke arah Velove.
"Hmm...."
Hanya deheman sebagai jawaban dari pertanyaan sang mama.
Velove yang penasaran dengan laki laki di depannya. Apalagi jawabannya hanya seperti itu, terkesan menyepelekan nya. Itu yang ada dalam pikiran Velove saat ini.
Saat Velove mengangkat kepalanya matanya tak sengaja bertubrukan dengan mata laki laki itu. Mata yang membuat Velove tanpa sadar meremas gaun miliknya.
Nesa yang melihat Velove tak berkedip saat melihat Altares pun tersenyum tipis.
Tapi dia tak ingin menggoda Velove saat ini atau akan terjadi hal di luar perkiraan mereka nantinya.
"Baik, jadi pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan lagi."
"Vel, gimana? Langsung nikah, sebulan lagi. "
" Iya mom. " jawab Velove tanpa sadar.
Lalu sedetik kemudian mata Velove membeliak dan dia langsung berdiri.
"Apa? Sebulan lagi?" teriak Velove kaget.
Nesa memejamkan matanya karena teriakan Velove, sedangkan Sofiah kembali melongo melihat tingkah Velove saat ini.
"Vel, duduk!" tegur Mahen pada Putrinya.
Velove langsung duduk dengan wajah cemberutnya. Tapi seperti nya dia hanya bisa menurut saja kali ini dengan keputusan para orang tuanya.
"Gimana Al, udah siap kan sebulan lagi?"
Altares diam tak langsung menjawab, tapi matanya terlihat terus menatap Velove yang tengah duduk gelisah di tempatnya.
Senyum samar terbit kembali di wajah tampan Altares.
"Kalau bisa, Al mau seminggu lagi."
Duar.....
Velove langsung menatap tajam pada laki laki di depannya ini.
Semua orang langsung terdiam mendengar jawaban dari Altares.
Apalagi Nesa yang tak menyangka jika Altares ingin menikah dengan putrinya seminggu lagi.
"Al, kamu yakin?"
Altares mengangguk, tapi suara Velove mengalihkan semua perhatian mereka terutama Altares.
"Dad, aku mau minta ijin buat bicara dulu berdua."
Tanpa menunggu jawaban dari Daddy nya, Velove bangkit berdiri dan meraih tangan Altares di depan semua orang tanpa rasa canggung sedikitpun.
Velove membawa Altares ke taman belakang dan duduk di dekat gazebo.
"Mau sampai kapan?"
to be continued