Bab 6

1716 Kata
Altares masih memperhatikan tingkah sang istri yang terus memukul kepalanya pelan. "Nggak sekalian di pukul pakai balok Vel, lagian kenapa juga kamu kayak gitu?" Bibir Velove mengerucut, dia memalingkan wajahnya kesal pada Altares. Altares hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah sang istri. "Makan dulu, ngambek juga butuh tenaga kan Vel?" goda Altares. Velove semakin berdecak kesal, tapi mencium bau makanan yang menggodanya sungguh membuat perutnya semakin minta untuk di isi "Perut sialan, lagian kenapa sih Vel, kamu doyan banget sama makan!" gerutu Velove dalam hati. Apalagi melihat makanan yang di pesan oleh Altares adalah makanan kesukaannya. Dia mengerutkan keningnya penasaran, bagaimana mungkin Altares langsung tahu semua makanan kesukaannya sedangkan mereka baru bertemu beberapa hari. Ralat, bahkan belum ada seminggu. Itu yang ada di otak Velove. Tapi Velove mengenyahkan semua pikirannya, yang penting saat ini dia makan dengan lahap. Cacing dalam perutnya sudah meronta meminta makanan. Altares yang melihat Velove makan dengan lahap pun tersenyum samar. "Ternyata masih sama, makanan kesukaannya. Aku kira sudah berubah." batin Altares. Altares duduk di samping Velove, dia makan dengan tenang sambil sesekali melirik Velove yang tengah asik menyantap makanannya. Tapi acara makan itu terganggu ketika ponsel Altares berbunyi dan sebuah pesan masuk ke dalamnya. "Al, aku merindukan mu." Uhukkk.... Velove yang tak sengaja membaca sekilas langsung tersedak makanannya. Altares ingin mengambilkan minuman untuk Velove tapi Velove lebih dahulu mengambil minumannya sendiri dan menghabiskan nya sampai habis. Selera makannya sudah hilang, dia berdecak kesal. Meksipun dia belum ada rasa dengan Altares tapi membaca pesan itu membuat Velove kesal sendiri. Altares mengerutkan keningnya bingung karena perubahan sikap Velove. Belum sempat dia bertanya tapi ponselnya berbunyi. Kali ini panggilan suara yang masuk dari nomer yang sama dengan yang mengirim pesan singkat tadi. "Angkat dulu, siapa tahu penting." Altares menoleh ke ponselnya, dia bingung nomer siapa yang menelfon nya. Sedangkan tak ada namanya disana. "Tapi nomer baru, aku nggak tahu." jawab Altares polos. Altares mengambil ponselnya dan hanya melihat siapa yang baru saja telfon. Membuka room chat, melihat profil pengirim pesan itu. Tubuhnya sedikit menegang dan jelas perubahan itu di amati oleh Velove yang sejak tadi sudah penasaran. Tapi tak lama, Altares sudah bersikap biasa saja. "Dia mantanku, nggak penting juga. Tinggal blokir aja. " ucap Altares santai. Velove melongo melihat apa yang di lakukan Altares barusan. Tapi kemudian matanya menyipit tak percaya dengan Altares begitu saja. Bagaimana bisa seorang laki laki dengan mudahnya memblokir nomer mantannya di depan istrinya. Sekali lagi Istrinya. Altares menoleh ke arah Velove , dan sekarang ganti Altares yang bingung dengan raut wajah Velove. " Kamu kenapa wajah nya kayak gitu? " " Itu beneran di blokir? " UPS.... Velove langsung menutup mulutnya yang keceplosan bicara. Bisa bisanya dia malah langsung jujur seperti itu. Altares terkekeh melihat sikap Velove, tapi dia senang dengan tingkah Velove yang apa adanya. Altares menarik tangan Velove dengan lembut, dia mau Velove tak menjaga jarak dengan nya saat ini. Velove memang sedikit menjauh karena ponsel Altares yang sejak tadi berbunyi. "Lepasin ih, ngapain pegang pegang. Ingat ya bapak Altares, kamu di larang pegang aku kalau belum ada ijin dari aku!" ketus Velove. Altares melepaskan tangan Velove dan mengangkat kedua tangannya menyerah, dia tak ingin membuat Velove semakin marah dengan nya saat ini. "Ok, aku ikutin mau kamu." "Kalau kamu marah soal mantanku, terus terang aku bingung. Dia menghubungi ku dengan nomer yang baru karena jelas nomer yang lama udah aku makamkan bertahun tahun silam." Bugh.. "Aduh, sakit Vel. .. kok malah di pukul." "Lagian, mana ada nomer ponsel di makamkan. Aneh aneh aja kalau ngomong pak tua!" omel Velove kesal. Altares menggaruk kepalanya yang tak gatal, niat hati dia ingin melucu tapi malah membuat Velove kesal saat ini. "Maksud ku, aku udah lama putus. Jadi nggak pernah simpen nomer dia lagi. Lagian ngapain di simpen, menuhin ponselku aja." Velove mengerjapkan matanya melihat Altares yang saat ini tengah mengobrol santai dengan nya. Dia bingung dengan tingkah Altares saat ini yang berbeda dengan saat dia di kampus tadi. Tak ada wajah ramah dan tengilnya. Yang ada hanya wajah dingin dan datarnya saja. "Emang kenapa putus?" Velove merutuki pertanyaan bodohnya lagi kali ini. Pertanyaan bodoh yang terkesan jika Velove kepo dengan urusan Altares dan mantannya. "Dia selingkuh, seminggu sebelum kita tunangan." Rahang Altares tiba tiba mengeras, terlihat jelas masih ada kemarahan di sorot mata itu. Dan Velove tahu jika Altares pernah merasa sakit sama seperti dirinya. Velove menebak sendiri, apa karena ini sikapnya berbanding terbalik saat di rumah dan di kampus. "Jadi untuk apa dia menghubungi kamu lagi?" Velove yang terlanjur penasaran meneruskan apa yang membuatnya penasaran. Bodoh amat bagi Velove jika Altares menertawai nya nanti. Yang jelas, Velove memilih untuk bersiap jika ada masa lalu yang akan menganggu mereka. Belum jatuh cinta bukan berarti akan membiarkan pihak luar mengganggu hubungan mereka. Altares mengangkat kedua bahunya acuh. "Nggak tahu, biarin aja. Ngapain di pikirin. Toh aku udah punya kamu." jawab Altares santai. Velove manggut manggut, tapi anehnya kembali ada nomer baru yang masuk ke dalam ponsel Altares. "Al, jangan di blokir. Aku mau bicara sama kamu!" Altares dan Velove saling pandang, heran dan penasaran apa yang di mau dengan perempuan itu. Altares masih melihat ponselnya bingung, pasalnya sudah lama sekali dia tak bertemu atau mendengar kabar tentang mantan nya itu lalu tiba tiba dia menghubungi lagi saat Altares sudah menikah. "Kenapa nggak di balas?" tanya Velove bingung. Altares mengendikkan kedua bahunya malas, dan tingkahnya seperti ini membuat Velove semakin bingung, karena tak sama dengan saat di kampus tadi yang bahkan sudah menghukumnya berdiri di depan kelas. "Al, tolong nikahi aku. Kalau tidak aku akan bunuh diri saat ini juga!" Mata Velove langsung melotot saat melihat pesan singkat masuk lagi yang bahkan berisi ancaman. Altares memutar bola matanya jengah melihat nada ancaman dari Viona. Dia sudah sangat hapal dengan apa yang di lakukan Viona jika menginginkan sesuatu. Tak lama lagi pasti ada nomer masuk yang menghubunginya. Dan benar saja, seperti dugaan Altares, ponselnya kembali berdering beberapa kali. Velove tentu saja semakin bingung karena Altares terlihat biasa saja seolah hal itu sudah biasa terjadi. "Biarkan saja, aku tahu betul watak dan sifatnya. Dia akan melakukan itu untuk mendapatkan apapun yang dia mau, dan nomer yang baru saja telfon, aku yakin itu salah satu orang tuanya." Velove sampai melongo, dia tak menyangka jika ada keluarga seperti itu. Anak dan orang tua sama sama luar biasa unik. Itu yang ada di pikiran Velove. "Al, jangan main main sama nyawa orang. Nanti kalau beneran gimana?" tanya Velove dengan nada tak tenangnya. Ting..... Sekali lagi ponsel Altares berbunyi, kali ini sebuah pesan masuk lengkap dengan video dimana Viona sekarat dengan darah segar mengalir darah pergelangan tangannya. Velove langsung berdiri dengan panik, dengan menunjuk layar ponsel Altares. "Tuh kan, bener. Itu anak orang kalah mati gimana Al?" jerit Velove panik. Altares menghela napas panjang, dia kesal kenapa setelah sekian lama Viona meninggalkannya lalu sekarang dia kembali dan malah mengusiknya lagi . "Velove, bisa diam nggak? Nggak usah panik gitu. Duduk dulu sini," pinta Altares pada istrinya. Velove yang masih belum tenang duduk ragu di sebelah Altares. Altares meraih ponselnya, tapi bukan membalas pesan atau menelfon balik orang orang itu. Dia menghubungi Carlos, asistennya. "Carlos, selidiki apa yang di lakukan keluarga Viona. Dan beritahu aku di rumah sakit mana dia sekarang. " Carlos yang ada di seberang sana mengerutkan kedua alisnya bingung, kenapa tiba tiba Altares menyuruhnya seperti itu. " Baik tuan, apa perlu langsung aku urus? " jawab Carlos yang membuat Velove langsung terdiam. Terdengar jelas jika Carlos sudah hapal dengan apa yang di lakukan Viona pada Altares. " Tidak perlu, istriku ingin melihat drama dari perempuan itu dan keluarganya! " jawab Altares santai. Mata Velove mendelik ke arah Altares, tapi Altares tak peduli karena dia kesal saat ini. Hari ini dia rencana nya ingin berduaan saja dengan Velove di rumah baru itu. Tapi entah kenapa malah Viona mengganggunya. Tanpa menunggu jawaban Carlos, Altares mematikan sambungan telfon itu. Dia menatap Velove yang menjadi diam saat itu juga karena mendengar jawaban Carlos. Dengan begitu Velove tak akan menyuruh Altares melakukan yang aneh aneh. Sungguh Altares bukan type laki laki yang akan mendua atau membiarkan wanita lain merusak hubungan yang sudah dia bangun. "Jadi, kamu mau aku gimana sekarang?" tanya Altares. Velove menggeleng lemah, dia benar benar masih syok. Bisa bisanya ada perempuan yang nekad seperti itu dan tak tahu malu. "Ada perempuan yang seperti itu ternyata, setelah meninggalkan malah ngejar minta balikan. Aneh banget." omel Velove kesal. Altares terkekeh, dia tak menduga jika Velove malah akan berbalik kesal kepada Viona dan itu malah bagus untuknya. Jadi Velove tak akan termakan drama dari perempuan itu. Ponsel Altares bergetar, tanda jika Carlos sudah berhasil mendapatkan alamat rumah sakit dimana Viona di rawat. "Ayo ikut, aku kasih lihat kamu pertunjukan seru. " ucap Altares santai. " Hah? Pertunjukan? Pertunjukan apa? " tanya Velove bingung. Altares menarik tangan Velove pelan, dan membawanya pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Velove. Velove yang di landa kebingungan pun hanya pasrah saat ini . "Aku mau kasih lihat kamu, kalau Viona nggak akan pernah jadi baik meskipun dia sekarat." Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan ke rumah sakit dan sejak tadi Velove hanya mendengarkan saja apa yang di ceritakan Altares. Ternyata Altares membawa Velove ke rumah sakit besar seperti yang di katakan oleh Carlos. Velove diam di belakang Altares yang berjalan lebih dahulu dengan langkah tegapnya. Benar benar berbeda saat dia bersamanya di rumah tadi. "Dia benar benar punya kepribadian ganda ternyata. Bagaimana bisa dia setenang itu. Tapi bukan wajahnya menyeramkan. Lalu yang di rumah tadi itu apa? Tengil, mesum." dumel Velove dalam hati. Bruk.... "Aduh....." Velove mengusap keningnya yang baru saja menabrak punggung Altares yang berhenti di depannya. "Ngapain sih, berhenti tiba tiba?" Altares mengerutkan keningnya bingung karena Velove malah memarahinya. Dia berdecak kesal, ingin sekali menjitak kepala istrinya yang cerewet itu. "Lagian ngapain kamu ngelamun aja dari tadi? Kita udah sampai." Velove lalu melihat ke sisi kiri dan kanan. Benar saja, saat ini mereka berdua ada di depan sebuah ruangan. Dan di depannya ruangan yang kemungkinan besar adalah tempat di rawatnya Viona mantan kekasih Altares. Kebetulan pintu ruangan itu sedikit terbuka, jadi Altares dan Velove bisa sedikit mencuri dengar percakapan orang yang ada di dalamnya. Bukan Altares, tapi Velove yang menguping lebih tepatnya. "Kamu sebisa mungkin harus kembali kepada Altares, lagian kamu kenapa bodoh banget sih ninggalin dia dulu?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN