Bab 9

1712 Kata
Velove majukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak lagi ingin pergi ke kampus. Tapi memilih pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini. Sedangkan Altares melepas tangan Kalina yang ada di lengannya. "Lepas!" Kalina yang baru saja di tepis tangannya tak terima. Dia kembali menarik tangan Altares agar Altares tak pergi dari sana. "Al, mau kemana sih kamu?" Altares yang awalnya terlihat biasa saja kali ini menatap Kalina marah. "Kalina cukup, aku udah ikutin apa yang kamu mau sesuai permintaan ibu kamu. Jadi sekarang biarin aku pergi!" bentak Altares kesal. Dia tak lagi mengindahkan apa yang Kalina katakan. Altares mencoba menghubungi Velove tapi nomernya sudah tak aktif. "Sial, sial!" Altares memukul setir mobilnya dengan keras. Dia melajukan mobilnya ke arah kampus. Berharap jika Velove ada disana. Tapi ternyata tak melihat mobil Velove di parkiran kampus. Altares yang mulai panik menelfon Carlos untuk membantunya. "Carlos, cari keberadaan Velove sampai ketemu!" Carlos yang berada di dalam ruangan nya pun bingung. Tapi setelah itu dia tetap melakukan apa yang di katakan oleh Altares. Velove terus terdiam di dalam mobilnya. Dia menaruh kepalanya di atas setir mobil. Velove tak menangis, dia berkali kali mengatur napasnya yang panjang dan menghembuskannya cepat. Entah kenapa dia merasa sakit hati melihat Altares seperti tadi dengan wanita lain. Apa karena mereka sudah menikah atau Altares sudah mendapatkan tempat di hatinya tanpa dia sadari. "Kalau dia masih punya kekasih kenapa mau di jodohin sama aku? Apa Daddy tak cari tahu dulu." gumam Velove pelan. Dia melihat sekeliling dan ternyata saat ini dia berada di pinggiran pantai yang terlihat ramai. Tapi Velove enggan keluar dari dalam mobilnya. "Bodohnya aku, yang tak mencari tahu dulu dia seperti apa. Dan bisa jadi dia tak jauh beda dengan Damian kan?" Velove menertawakan dirinya sendiri mengingat kisah percintaannya. Tapi dia berusaha mengontrol emosinya. Dia berdiam diri di dalam mobil sambil terus menatap sekelilingnya. Beruntung di dalam mobil Velove selalu tersedia beberapa makanan dan minuman, selimut dan juga bantal kecil yang selalu dia bawa. Dia memilih tenang di sana tanpa ingin melihat ponselnya yang sengaja dia matikan. # Kalina yang di tinggalkan Altares begitu saja menghentakkan kakinya kesal. Dia yang sudah berniat memanfaatkan keadaan kembali marah karena rencananya gagal. "Sial, kenapa sih susah banget bikin Altares stay? " Kalina marah dan meninggalkan toko kue itu dengan taxi online karena dia kesana bareng dengan mobil Altares. Sedangkan Altares sudah kalang kabut mencari keberadaan Velove saat ini. Dia sudah mencoba menghubungi Velove berkali kali tapi tak kunjung mendapatkan respon dan itu membuatnya semakin geram. "Sial, kalau aja aku nggak nurut sama omongan mama dan temannya. Bisa gila aku kalau sampai Velove pergi! " Altares mencoba menghubungi lagi tapi tetap hasilnya sama. Carlos yang sedang meretas semua CCTV di jalanan berusaha fokus mencari keberadaan mobil nyonya mudanya itu. Saat dia ingin menyerah karena tak kunjung menemukan Velove yang menghilang sejak sejam yang lalu matanya menyipit mendapatkan mobil yang dia kenali. " Pantai? " gumam Carlos pelan. Tapi dia tak kunjung memberitahu Altares kalau Carlos sudah menemukan Velove. Dia menyuruh anak buah nya untuk memastikan keberadaan Velove benar atau tidak. Tapi Carlos juga penasaran kenapa sampai nyonya mudanya itu kabur sejauh itu. Pantai yang ada di pinggiran kota yang lumayan jauh dari kampus dan juga rumah tuannya. "Apa tuan melakukan kesalahan?" batin Carlos lagi. Lalu tak lama Altares menghubunginya kembali untuk bertanya apa Carlos sudah menemukan keberadaan Velove atau belum. Carlos yang selama ini bersama Altares sedikit terkejut dengan apa yang di ceritakan Altares. Semua berasal dari Kalina. Carlos juga tahu jika Kalina sangat terobsesi dengan Altares. "Tuan, nyonya muda ada di pantai. Tapi lebih baik jangan di paksa untuk bicara. Melihat nyonya yang langsung pergi jauh, aku rasa nyonya butuh waktu." Carlos mencoba memberi nasehat pada Altares agar tak memaksa Velove saat ini. Altares terdiam di dalam mobilnya. Saat ini dia memilih menepi di pinggir jalan untuk menetralkan rasa emosi dan paniknya. Carlos benar, Velove butuh waktu dan saat mereka bertemu nanti dia akan menjelaskannya. Saat ini lebih baik dia menemui mamanya dan membicarakan masalah ini agar mamanya tak kembali ceroboh. Altares menyuruh Carlos menjaga Velove dari kejauhan. Sedangkan dia segera menghubungi mamanya dan mengajaknya bertemu pagi ini. Altares mengatur ijin untuk Velove agar Velove tak mendapat nilai jelek di kampus. "Velove, maafin aku udah bikin kamu salah paham!" Altares sudah sampai di rumah mamanya. Dia langsung mencari mamanya yang mungkin sedang berada di taman. Dan benar saja, Altares menemukan sang mama disana. "Ma...." panggil Altares pelan. Meskipun dia marah tapi dia tak bisa berkata kasar pada mamanya. Sofiah yang menyiram bunga segera menghentikan aktifitasnya. "Loh Al, kamu kok disini? Nggak kerja?" tanya Sofiah bingung. "Ma, aku mau bicara sama mama. Ada hal penting yang harus mama tahu." Sofiah sedikit penasaran dengan apa yang ingin di katakan Altares kepadanya. Sofiah mengikuti Altares duduk gazebo taman. Dia menunggu Altares untuk berbicara. "Ada apa Al? Apa ada masalah?" Altares lalu menceritakan semuanya pada Sofiah tentang apa yang terjadi. Sofiah syok dengan apa yang dia dengar, bagaimana bisa Kalina melakukan itu kepada Altares. Bahkan Sofiah juga ikut panik saat Altares menceritakan tentang Velove yang kabur dari Altares. "Astaga sayang, kenapa sampai seperti itu?" Sofiah merasa bersalah karena mengijinkan Altares pergi bersama Kalina. "Al, lalu dimana menantu mama? Apa dia baik baik saja?" tanya Sofiah panik. Dia harus bisa membawa Velove kembali jangan sampai Velove kenapa Napa karena kesalahannya. Altares yang melihat mamanya panik semakin pusing. Harusnya masalah ini tak akan kemana mana. "Ma, tenanglah. Carlos sudah menemukannya dan anak buahku sedang mengawasinya. Tapi aku nggak bisa langsung menemui Velove karena dia masih marah." Sofiah kembali duduk, karena dia merasa bersalah pada Altares dan Velove. Kalina mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Al, biar mama yang tegur Kalina dan ibunya. Harusnya mama bisa menebak jika mereka akan melakukan itu sama kamu." Sofiah segera pergi dari sana untuk mencari ponselnya. Dia akan menghubungi Kalina dan ibunya. Altares sendiri menyusul Mamanya untuk mengetahui apa yang akan di katakan Sofiah pada Kalina dan ibunya. Tapi belum sempat Sofiah menelfon mereka, ternyata pelayan di rumahnya memberitahu jika Kalina dan ibunya ada disana. Altares yang mengikuti mamanya pun kembali kesal karena melihat Kalina ada disana. Terlihat Kalina dengan wajah sendunya. "Kebetulan kalian ada disini. Aku ingin bicara dengan kalian," ucap Sofiah langsung. Tak ada raut wajah ramah disana, hanya wajah datar dan marah. Ibu Kalina juga menatap marah ke arah Altares dan juga Sofiah. "Aku juga ingin bicara dengan Altares. Bisa bisanya dia meninggalkan Kalina sendirian di toko kue. Harusnya dia mengantarkan Kalina kembali pulang ke rumah!" Altares menaikkan sebelah alisnya mendengar semua perkataan ibu nya Kalina. "Aku tak harus mengantarkannya, untuk apa? Dia bukan siapa siapa untukku." sahut Altares cepat. Ibu Kalina semakin marah begitu juga Kalina yang merasa semakin terhina saat ini. Penolakan Altares yang kesekian membuat Kalina sudah tak bisa bersabar. "Aku mencintaimu Al, tapi kamu terus saja melalukan itu kepadaku. Kamu meninggalkanku dan malah mengatakan hal yang menyinggungku!" Sofiah mengangkat satu tangannya menyuruh Kalina dan ibunya berhenti berteriak. Sofiah marah kali ini, padahal dia sudah memberi kesempatan agar bisa berteman baik dengan Altares. "Cukup, kalian datang kesini dan malah berteriak di rumahku? Apa kalian tak punya sopan santun?" Maria dan Kalina langsung terdiam, mereka tak menyangka jika Sofiah yang terbiasa kalem kali ini terlihat sangat marah sekali. "Dan Kalina, aku membiarkan Altares untuk mengantarmu karena aku pikir hanya sekedar mengantar bukan untuk menemanimu." Kalina terkejut dengan apa yang di katakan Sofiah, karena Kalina kira Sofiah sudah memberinya restu. Selama ini Sofiah tak pernah mengijinkan Kalina dekat dengan Altares dan dia pikir dengan mengijinkan mereka pergi Kalina pikir Sofiah sudah memberinya signal yang baik. "Tapi tante, aku kira Tante memberiku restu." Sofiah menaikkan sebelah alisnya mendengar itu, lalu dia berdecak kesal. " Kalina, aku tahu kamu terobsesi dengan Altares. Dan aku tak pernah memaksa putraku untuk bersama siapa saja jika dia juga mau. Tapi selama ini Altares juga tak mau dengan mu kan? Dan lagi, Altares sudah mempunyai pasangan jadi jangan mengganggunya lagi!" Mata Kalina dan ibunya membelalak mendengar itu. Mereka tak tahu jika Altares sudah mempunyai pasangan. "Lihat, ini cincin pertunangan ku, jadi kamu tahu kan batas mu sendiri?" "A-apa?" Kalina terhenyak ke belakang, dia tak tahu jika Altares yang tak terlihat bersama siapa pun ternyata mempunyai pasangan. "Sejak kapan? Aku tak pernah melihat mu bersama seorang wanita!" Altares berdiri dari duduknya karena hari sudah beranjak siang. Dan dia harus menemui Velove. Dia tak tenang meskipun Velove sudah di awasi anak buah Carlos. "Cukup Kalina, jangan sampai aku berbuat hal yang membuat kalian menyesal karena terus mengusikku. Dan lebih baik kalian pergi dari sini karena setelah ini kalian tak di ijinkan menginjakkan kaki di rumah ku lagi!" Altares mengusir Kalina pergi dari rumah mamanya karena dia tak ingin lagi berdebat. Ibu Kalina meradang karena di usir oleh Altares. Dia menarik tangan Kalina untuk di bawanya pergi dari sana. Tapi Kalina tak terima begitu saja. "Baik, aku akan pergi dari sini. Tapi ingat Altares, jika aku tak bisa mendapatkan mu, wanita lain juga tak akan bisa!" Setelah mengatakan itu, Kalina dan ibunya pergi dari rumah Sofiah. Huft .... Altares menghembuskan napasnya panjang, sedangkan Sofiah menatap putranya dengan perasaan bersalahnya. "Lihat kan ma, selama ini Al, dan papa selalu mengingat kan mama untuk lebih berhati hati dalam berteman. Apalagi teman teman mama semua tak ada yang tulus. Mereka hanya menginginkan harta kita saja dan juga ketenaran. Terlihat dari mereka yang selalu mengejar Altares untuk di jodohkan dengan putri putri mereka!" Kali ini Sofiah tak bisa berkata apa apa. Sofiah terlalu baik pada semua orang meskipun Altares dan suaminya sering mengingatkannya. Tapi untuk hal ini, kali ini Sofiah benar benar menyesal. "Maafkan mama Al, mama akan bersikap lebih tegas lagi kepada mereka." ucap Sofiah dengan wajah penuh penyesalan. Altares tahu, Sofiah bukan orang yang mudah di manipulasi. Hanya saja sifatnya yang selalu baik selalu di manfaatkan banyak orang. "Kalau begitu, aku akan menyusul Velove ma. Aku nggak mau istriku kenapa Napa. Dan aku akan langsung pindah ke rumah kami yang baru." Sofiah mengangguk pasrah, dia tak ingin menambah masalah. Dia tahu Altares sejak lama menunggu Velobe. " Hati hati Al," ucap Sofiah pelan. Altares pergi dari rumah mamanya setelah memeluk sang mama. Altares juga sudah memberitahu papanya tentang apa yang terjadi padanya dan sang mama. " Kalau nggak gini, mama juga nggak akan kapok!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN