Ingin Tidur Bersama

1100 Kata
“Om, aku suapin ya! Buka mulutnya!” Lili menyodorkan satu sendok makan nasi goreng ke arah mulut Arjuna yang duduk di sampingnya. “Gak usah Li. Kamu makan sendiri aja,” tolak Arjuna. “Jangan nolak! Mau disuapin pake sendok, atau pake bibir langsung?” tanya Lili frontal. “Ya ampun, siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu?” Arjuna terkejut, pria itu menatap intens ke arah Lili. “Tanpa diajarin, aku udah bisa sendiri, Om. Aku ini bukan anak kecil, aku udah dewasa Om. Aku ini udah dua puluh dua tahun, udah dewasa kan? Udah matang,” jawab Lili sedikit angkuh. “Kalau kamu segitu udah matang, terus saya ini apa? Over cook gitu?” Arjuna memasang wajah datar yang malah membuat Lili tertawa kencang. “Hahaha … namanya aja Arjuna, emang masih musim Om di zaman sekarang nama Arjuna?” Gadis itu masih tertawa kencang yang membuat Arjun ingin sekali membekap mulut gadis itu. “Terancam punah! Sudah, kamu makan dulu, sebentar lagi saya mau masuk, mau tidur.” Arjuna melirik sekilas ke arah jam tangan yang dikenakannya. “Makan bareng Om, nanti abis itu tidur bareng,” balas Lili dengan berani. “Bisa tenangin diri kamu gak? Gatal banget jadi perempuan.” Arjuna membuang nafas kasar, ia sudah menganggap Lili seperti adiknya sendiri. “Aku lagi memggatal sama Om.” Lili mendekatkan wajahnya ke arah Arjuna dengan bibir yang sengaja dimajukan seolah seperti akan mencium. “Lama-lama saya parut kamu ya!” balas Arjuna yang tetap terlihat cuek dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada gadis cantik itu. “Ikh, jahat banget sih, Om. Makan dulu nih, aku suapin!” Lili kembali menyodorkan satu sendok makan nasi goreng ke arah mulut Arjuna. “Maksa banget ni anak.” Mau tidak mau, akhirnya Arjuna membuka mulut, pria itu menerima suapan dari Lili. “Yeay, pinternya. Gemes deh, jadi pengen kiss.” Lili kembali memajukan kedua bibirnya. Entah kenapa ia bisa seberani itu kepada Arjuna, apa mungkin karena Lili menganggap Arjuna tidak normal sehingga ia sama sekali tidak merasa takut. “Stop Li! Kalau dilihat sama Bapak kamu bahaya, bisa-bisa saya dituduh aneh-aneh.” Arjuna menempelkan telapak tangannya pada kedua bibir Lili yang sengaja dimanyunkan seperti akan mencium. “Ck … Om gak pengen kiss aku gitu?” Lili terdengar tidak waras. “Gak mau! Udah cepetan makan! Saya ngantuk!” Arjuna memasang wajah datar agar Lili tak bertingkah aneh-aneh lagi. “Iya-iya, gantian aku yang Om suapin.” Gadis itu menyerahkan sendok pada tangan Arjuna dan meminta disuapi. Arjuna membuang nafas kasar, ia merasa seperti sedang mengasuh anak kecil. Pria itu mengambil sendok tersebut dan menyuapi Lili, Arjuna melakukan itu agar Lili segera menyelesaikan makannya dan pulang. “Udah selesai, sekarang kamu pulang!” titah Arjuna setelah selesai menyuapi Lili. “Om ngusir aku? Tega banget sih!” Lili memasang wajah melas. “Gak usah drama, Li. Cepat pulang dan tidur, besok kamu kuliah, jangan sampai kesiangan,” tutur Arjuna yang malah membuat Lili senyum-senyum sendiri sambil mengedipkan matanya beberapa kali. “Perhatian banget sih.” Lili menyandarkan kepalanya pada lengan kekar Arjuna. Lili bertingkah seperti itu entah karena ia hanya ingin mengganggu Arjuna atau mungkin gadis itu memang sudah merasa nyaman terlebih lagi ketika ia berada di dekat Arjuna. “Jangan kayak gini, Li. Nanti kalau tetangga yang lain liat, kita bisa kena fitnah.” Arjuna meminta Lili untuk membebaskan kembali posisi duduknya. “Ck … susah banget sih diajak normalnya. Ya udah, aku pulang dulu. Besok Om anterin aku ke kampus ya, aku gak mau bawa motor sendiri. Nanti motor aku mogok lagi. Bay Om Arjun, semoga mimpiin aku ya, biar burungnya Om bangun,” oceh Lili sambil melambaikan tangannya, gadis itu berjalan meninggalkan Arjuna, ia setengah berlari menuju rumahnya. Arjuna geleng-geleng kepala sambil membuang nafas kasar, ia merasa lega karena bisa terlepas dari gadis itu. *** “Dudududu … ada berondong tua ….” Lili bernyanyi sambil masuk ke dalam rumahnya. “Darimana aja lo? Anak gadis malam-malam keluyuran, gue aja yang duda kagak kemana-mana,” celetuk pak Dayat yang sedang duduk sambil menghadap segelas kopi di ruang tengah rumahnya. “Ingat ya, Bapak jadi duda itu karena ada makam Ibu yang bertoping mawar. Jangan keluyuran, aku gak mau Bapak nikah lagi. Aku gak mau punya Ibu tiri, kalau aku punya Ibu tiri, aku botakin palanya,” oceh Lili dengan wajah kesal. “Buset!! Ganas banget ni bocah. Kamu darimana aja, Li? Kenapa baru pulang?” tanya pak Dayat lagi dengan kedua mata yang menatap intens ke arah putrinya. “Abis dari rumahnya Om Arjun,” jawab Lili seraya berjalan ke arah kamar. “Loh, ngapain? Jangan bilang kalau kamu naksir sama si Arjuna?” Pak Dayat seketika berdiri dari duduknya. “Biarin aja kenapa sih, Pak? Nih ya, kalau aku nikah sama Om Arjuna, otomatis semua hartanya Om Arjun juga jadi milik aku. Emangnya Bapak gak mau punya menantu yang tajir? Gitu-gitu juga dia hartanya banyak, Pak. Tenang aja, nanti aku belikan tanah kosong khusus buat Bapak, buat tanah kuburan,” celoteh Lili sambil mengangkat alisnya. “Sialan lo ya! Gak puas apa jadi anak piatu? Malah mau nambah jadi yatim piatu.” Pak Dayat berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Lili sangat berbeda dengan kakak perempuannya yang bernama Gita. Anak pertama pak Dayat itu sudah berumah tangga dan saat ini tinggal bersama suami dan anaknya. Gita lebih kalem dibandingkan Lili yang petakilan dan agresif seperti itu. Setelah masuk ke dalam kamar, Lili langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, ia akan tidur karena besok harus bangun pagi. Namun, disaat ia memejamkan mata, entah kenapa wajah Arjuna seakan berada di pelupuk matanya. “Isssshhhh … ini kenapa sih mukanya Om Arjuna nempel terus di mata gue? Awas aja kalau gue beneran suka sama dia. Padahal kan gue deketin Om Arjuna cuma buat penelitian sekaligus mengalihkan pikiran gue biar gak ingat si Nico terus. Eh, malah bablas kepikiran,” oceh Lili sendiri sambil menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. “Enak kali ya kalau punya suami, apalagi yang badannya kekar kayak Om Arjuna. Tapi dia kan gak normal. Duh, gue beneran gak bisa tidur. Malah kedut-kedut lagi.” Lili mengarahkan sorot mata pada bagian bawahnya. “Gak bisa, gue gak bisa tidur ….” Lili bangkit dari atas kasur. Gadis itu berjalan ke arah jendela kamarnya, ia melihat ke arah rumah Arjuna, lampu kamar pria itu masih menyala yang menandakan sang pemilik belum tidur. “Gue nginap aja kali ya di kamarnya Om Arjun. Walaupun dia gak normal, tapi tetap enak dipeluk.” Lili membuka jendela kamar, gadis itu naik dan akan meloncat untuk keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN