bc

Perjaka Tua Bikin Nagih

book_age18+
793
IKUTI
10.3K
BACA
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
kickass heroine
decisive
boss
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
campus
office/work place
disappearance
secrets
addiction
like
intro-logo
Uraian

“Om, kenapa gak nikah? Gak mau main gitu-gituan kah?” celetuk seorang gadis.

*

“Bisa main sendiri,” balas Arjuna. Carolina, gadis yang akrab disapa Lili itu merasa penasaran dengan tetangganya yang bernama Arjuna.

*

Karena di usianya yang sudah menginjak tiga puluh lima tahun, tapi masih melajang. Lili menganggap Arjuna adalah seorang gay, sampai suatu kejadian membuatnya yakin bahwa Arjuna adalah laki-laki jantan yang menyukai perempuan.

*

Karena kejadian itu pula membuat Lili merasa ketagihan atas sentuhan yang Arjuna berikan padanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Tetanggaku Perjaka Tua
“Om!!” panggil seorang gadis bernama Caroline Hazal. Gadis cantik dan bar-bar itu akrab disapa Lili. Gadis yang mengenakan almamater sebuah universitas tersebut sedang berdiri di halaman rumahnya yang kebetulan tersambung dengan halaman rumah tetangganya. Tetangga Lili bernama Arjuna Budiman, seorang pria berusia matang, akan tetapi di usianya yang sudah hampir menginjak tiga puluh lima tahun itu, ia masih melajang. Hal tersebut yang membuat Lili penasaran, gadis yang berkuliah di jurusan psikologi itu merasa penasaran kenapa seorang pria tidak tertarik kepada lawan jenisnya. Dan hal itu ia lihat pada Arjuna, karena selama ini Arjuna belum pernah dekat dengan perempuan manapun, bahkan pria itu selalu sendiri di rumahnya. Karena kedua orang tuanya sudah tiada sejak lama. Sebenarnya Arjuna memiliki seorang adik laki-laki bernama Dewangga yang masih duduk di bangku kuliah. Namun, Dewa lebih memilih tinggal di kos-kosan daripada di rumah bersama dengan kakaknya yang dingin dan irit bicara. “Om Arjun!!!” panggil Lili untuk yang kedua kalinya, karena sang pemilik nama masih terdiam, Arjuna hanya fokus pada motor kesayangan. Ya, saat ini Arjuna sedang membersihkan motor legenda yang lebih sering ia bawa daripada dua mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Entah apa yang membuat pria itu lebih suka menaiki motor tua itu daripada mobil yang terbilang cukup mewah. “Om Arjun, telinganya masih berfungsikah?” teriak Lili dengan suara lebih keras lagi. Pria berkulit hitam manis dan memiliki kumis tipis itu menghentikan kegiatannya yang sedang mengelap motor kesayangannya. Arjuna memasukkan kanebo yang sedari tadi dipegangnya ke dalam ember berisi air dan buih busa pembersih. “Hmmm … kirain semut yang teriak-teriak.” Arjuna menoleh ke arah Lili. “Njir, mana ada semut cantik dan seksi begini?” Lili melenggak-lenggokkan tubuhnya. “Ada apa? Kenapa manggil-manggil?” tanya Arjuna dengan nada dingin. Ia sudah tak asing lagi dengan anak tetangganya yang cerewet itu. Arjuna selalu menganggap Lili adalah anak kecil, karena ia juga tahu masa kecilnya Lili. Mereka sudah bertetangga sejak lama, dulu Arjuna tinggal bersama orang tuanya di rumah itu, namun sekarang kedua orang tuanya sudah tiada. “Satu pertanyaan buat Om Arjun. Kenapa Om gak nikah? Padahal kan usia Om sudah matang, bahkan hampir busuk,” tanya Lili dengan lantang. “Kalau saya jawab karena gak mau, gimana?” Arjuna membalas dengan santai. “Emangnya Om gak mau main gitu-gituan sama istri, Om?” tanya Lili lagi. “Bisa main sendiri,” jawab Arjuna yang membuat Lili seketika membulatkan kedua matanya. “What!!! Jangan-jangan Om gak normal, atau Om sering mainin sabun,” celetuk gadis itu tanpa di filter. “Terserah saya dong, kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu mau saya mainin?” Arjuna menatap ke arah Lili dengan sorot mata intens. “Noooo!!! Bapak, tolong!!! Aku mau di anu Om Arjun!” teriak Lili dengan suara kencang. “Astaghfirullah … bocah ini, bukannya berangkat kuliah, malah nongkrong di mari. Berangkat gak lo! Atau Bapak copot ban motor kamu, Lili!” teriak seorang pria paruh baya yang muncul dari arah pintu rumahnya. “Ampun, Pak. Daripada bapak copotin ban motor aku, mending Bapak ngitung bulu ayam aja biar ada kerjaan.” Setelah mengatakan itu, Lili langsung tancap gas dan membawa motornya dengan cepat. “Dasar anak monyet! Eh, ngomong-ngomong, kalau anaknya monyet, berarti bapaknya juga ….” “Monyet!” jawab Arjuna sambil terkekeh. “Sialan lo, Jun, ikut-ikutan aja,” gertak pak Hidayat. “Ayo ngopi, Pak!” ajak Arjuna. “Bisa ae lo meluluhkan hati gue. Ayo, gue bawa dari rumah ya, gelasnya. Biar lo gak banyak cucian, lo kan sama kayak gue, kagak ada istri. Cuma bedanya gue duda ditinggal mati, nah lo perjaka ditinggal kawin,” seloroh pak Hidayat yang membuat Arjuna hanya membalas dengan kekehan. *** Setelah tiba di kampus, Lili langsung masuk ke dalam kelas, karena kedua sahabatnya sudah ada di sana. “Li, tugas lo udah selesai belum?” tanya Vini, seorang gadis berambut sebahu yang hobi nyontek. “Belum, santai aja, masih ada waktu. Kan dikumpulkannya Minggu depan,” jawab Lili seraya membanting tasnya ke atas meja, kebiasaan gadis itu ketika ia masuk ke dalam kelas. “Btw, lo mau ambil tema apa, Li?” tanya Jira, teman dekat Lili yang hobi minum s**u formula. Bahkan, gadis berkulit putih dan bermata sipit itu sering membawa botol s**u ke kampusnya. “Gue mau ambil tema Perjaka Tua, kebetulan ada tetangga gue yg udah mau tiga puluh lima tahun tapi belum nikah-nikah,” jawab Lili tanpa ragu. “Buset, tar lo observasinya gimana, Li?” Vini menatap sahabatnya yang agak aneh itu dengan dahi mengerut. “Gampang, biar gue observasi langsung, gue harus cari tahu kenapa dia sampai tidak mau menikah, apakah dia memiliki kelainan psikologi atau kelainan kelamin.” Lili tertawa di akhir kalimatnya. “Lo observasi kelaminnya gitu?” celetuk Jira dengan wajah polosnya. “Iya, nanti gue pegang burungnya, masih bisa berdiri gak,” jawab Lili yang memang suka ceplas-ceplos dalam berbicara. “Koplak, kalau berdiri nanti lo apain?” Vini menoyor pelan kepala sahabatnya itu. “Gue masukin ke dalam botol.” “STRES!!!” timpal Vini dan Jira serentak. “Berisik lo berdua, eh btw kok di kursi gue ada coklat? Dari siapa nih?” Lili mengambil sebuah coklat yang tergeletak di atas kursinya. “Lo baca aja sendiri, ada tulisannya tuh,” jawab Jira sambil menunjuk ke arah coklat tersebut. “Feeling gue gak enak nih.” Lili mulai membuka kertas ucapan yang menempel pada belakang coklat yang dipegangnya. “Good morning my Lili, balikan yuk!” Lili membaca tulisan pada kertas itu. “a***y, pagi-pagi diajak balikan,” celetuk Vini yang mendengar ucapan Lili tadi. “Dari Nico ya?” tanya Jira penasaran. Lili terdiam sejenak, ia dan Nico baru putus tiga hari yang lalu. “Dari siapa lagi, si Nico masih bucin sama lo, Li,” timpal Vini. “Ya udah sih, balikan aja. Gue liat-liat kayaknya lo juga masih sayang sama dia, Li.” Jira memberi saran, karena ia menjadi saksi hujan air mata dari sahabatnya setelah putus. “Btw, kemarin lo sama si Nico putus karena apa sih?” tanya Jira dengan penasaran. Karena Lili belum sempat menceritakan itu padanya. “Gara-gara si Nico ngajak ngewong,” jawab Lili yang membuat kedua sahabatnya langsung terlihat syok. “Anjir, serius?” Vini bertanya dengan kedua mata yang terlihat membulat. “Husssstttt … jangan kencang-kencang ngomongnya.” Lili menempelkan jari telunjuk pada bibirnya, agar kedua sahabatnya itu memelankan nada bicara mereka, karena saat ini mereka sedang berada di depan kelas. “Terus, kenapa lo gak mau?” celetuk Jira. “Mata lo!” gertak Lili yang membuat Vini seketika langsung memecahkan tawanya. Setelah itu, tak lama kemudian datang seorang dosen yang akan memulai materi. *** Hari ini, Lili mengikuti pelajaran dengan mata yang terasa berat, karena semalam ia begadang. Bukan karena belajar, akan tetapi karena ia maraton nonton drakor. “Li, kita duluan ya!” teriak Vini dan Jira, kedua gadis itu sudah naik ke atas motor dan berboncengan. Vini yang membawa motor matic itu segera menancap gas dan keluar dari kampus. “Asem banget lo pada ninggalin gue.” Lili menggerutu. Suasana di kampus mulai sepi, tapi sedari tadi motornya tidak mau menyala. Lili sudah beberapa kali menstarter motornya, akan tetapi roda dua itu masih tak mau menyala. Vini dan Jira tidak tahu kalau motor Lili rusak, oleh karenanya kedua gadis itu langsung pulang. “Njir, ini kenapa lagi motor gak bisa nyala? Masa iya rusak lagi, perasaan baru kemarin keluar dari rumah sakit.” Lili menggaruk kepalanya yang tak gatal sampai membuat rambut lurusnya itu terlihat berantakan. “Li, kenapa?” tanya seseorang yang membuat Lili terdiam sejenak, ia merasa sudah tak asing lagi dengan suara itu. “Motor kamu mogok ya? Aku bantu kamu,” ucap seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang Lili.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook