Gadis itu membalikkan badannya dengan perlahan.
“Ni-nico, kamu belum pulang?” Entah kenapa, Lili merasa takut pada pemuda bertubuh tinggi dan berkulit putih itu.
Padahal, sebelum putus, ia dan Nico sudah berpacaran selama lima bulan.
“Belum, kebetulan aku tadi baru keluar dari kelas. Li, aku kangen banget sama kamu.” Nico melangkah maju agar lebih dekat dengan Lili.
“Nico, jangan macam-macam ya, aku belum siap buat ….” Lili tak melanjutkan ucapannya, ia malah mengarahkan sorot matanya pada bagian bawah Nico.
Lili merasa takut pada pemuda itu, karena ia pernah melihat Nico sedang mabuk dan mengajaknya untuk melakukan hubungan s*x.
Oleh karena itu juga Lili langsung memutuskan Nico.
“Li, kamu kenapa takut gitu? Aku gak ngapa-ngapain kamu kok, aku cuma mau peluk kamu.” Nico semakin mendekat.
Lili mundur dengan perlahan, setelah itu ia langsung lari dengan cepat keluar dari kampus.
Gadis itu meninggalkan motor beserta kuncinya, ia benar-benar merasa takut kepada Nico, karena Lili melihat sorot mata yang berbeda dari pemuda itu, ia takut Nico sedang mabuk.
“Gue harus kabur, gue takut banget, kayaknya si Nico mabuk lagi. Kenapa kamu jadi kayak gini, Nico? Padahal dulu kamu adalah cowok baik.” Lili berbicara sambil lari, ia takut Nico mengejarnya.
Lili berlari kencang, tapi ia tak memperhatikan sekitar, gadis itu melewati perempatan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Astaghfirullah …” teriak seseorang yang langsung mengerem motornya secara mendadak.
Hampir saja ia menabrak Lili yang tiba-tiba muncul dari arah kiri.
“Aaaaaa … Om Arjun!” teriak Lili setelah menyadari kalau orang yang hampir menabraknya itu adalah Arjuna.
“Kok kamu tahu ini saya?” tanya Arjuna sambil membuka helmnya.
“Siapa lagi yang pake motor butut kayak gini?” Lili berkacak pinggang di hadapan pria itu.
“Kamu ngapain lari di tengah jalan? Mau bunuh diri?” Arjuna meminggirkan motornya agar tidak menghalangi pengendara lain.
“Motor aku mogok di kampus, aku ikut pulang Om, Om mau pulang kan?” Lili langsung naik ke atas motor Arjuna tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu dari pria itu.
“Ck … nambah beban aja,” gerutu Arjuna tapi dengan nada pelan.
“Kalau nolongin orang harus ikhlas, Om,” protes Lili yang kini telah duduk di belakang Arjuna.
“Iya-iya, ada-ada aja, lain kali kalau lewat jalan itu hati-hati. Untung aja tadi saya masih bisa rem,” ucap Arjuna yang mulai kembali menyalakan motornya.
“Iya, Om, lagian tadi aku buru-buru, aku takut dikejar orang, Om,” jelas Lili.
“Kenapa dikejar? Kamu punya hutang ya?” balas Arjuna, pria itu mulai menjalankan motornya.
“Enak aja! Aku gak pernah ngutang ya, Om. Paling aku minta. Btw, Om dari mana? Kok bau bunga kuburan? Apa jangan-jangan Om mau mati?” celetuk Lili sambil mengendus aroma dari tubuh Arjuna.
“Mulut kamu ya! Saya abis dari kantor,” jawab Arjuna sedikit menoleh ke arah Lili yang duduk di belakangnya.
“Kenapa Om suka naik motor butut ini terus? Padahal kan Om punya mobil,” tanya Lili lagi yang memang cerewet.
“Biar kamu gak numpang, kalau saya naik mobil, nanti kamu numpang terus,” jawab Arjuna asal.
“Jahat banget jadi tetangga. Padahal kan lumayan kalau aku numpang sama Om terus, kan tempat kerja Om sama kampus aku searah.”
“Gak mau saya diikutin kamu terus, lebih baik kamu nyari tumpangan yang lain,” jawab Arjuna.
“Sebenarnya tadi itu aku mau dianterin sama mantanku, Om. Tapi aku gak mau.” Lili sedikit bercerita.
“Kenapa gak mau? Kan lumayan dapat tumpangan gratis.” Arjuna membenarkan kaca spion motornya, agar ia bisa melihat wajah Lili ketika berbicara.
“Karena aku takut diapa-apain Om sama dia,” jawab Lili jujur.
“Terus, kalau sama saya kamu gak takut diapa-apain gitu?” tanya Arjuna lagi.
“Nggak, karena aku gak yakin kalau Om itu normal,” jawab Lili yang seketika membuat Arjuna langsung rem mendadak.
Karena Arjuna mengerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya ikut terhuyung ke depan, dadanya menempel tepat pada punggung tegap Arjuna.
“Om, apa-apaan sih? Aku hampir aja jatuh!” oceh Lili dengan suara kencang agar terdengar oleh telinga Arjuna.
Karena Arjuna ngerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya seketika
“Saya kaget denger omongan kamu tadi,” jawab Arjuna seraya menoleh ke arah Lili yang masih duduk di belakangnya.
“Kaget sih kaget, tapi gak rem mendadak juga kali. Sampai gunung kembarku hampir erupsi, untung aja nempelnya di punggung Om,” oceh Lili kembali sambil memukul punggung Arjuna.
“Saya yang rugi ketempelan gunung kembar kamu yang imut itu,” balas Arjuna.
“Iya, Om kan gak normal.” Lili terdengar kesal.
“Enak aja!” Arjuna kembali menyalakan motornya yang tadi sempat berhenti di pinggir jalan.
“Udah, buruan jalan lagi Om, aku ngantuk. Pengen cepat sampai rumah dan tidur.” Lili menepuk punggung Arjuna agar pria itu kembali menjalankan motornya.
“Udah numpang, ngatur lagi,” protes Arjuna, akan tetapi pria itu segera menjalankan motornya.
Jarak dari kampus ke rumah Lili cukup jauh, terlebih lagi saat ini di jalan utama menuju rumahnya terlihat macet karena ada perbaikan jalan.
Lili mulai menguap, matanya terasa berat, kantuk kembali menyerang kedua matanya, padahal ia masih berada di atas motor.
Lili memang gampang tidur, apalagi di siang hari, karena malamnya gadis itu habiskan untuk nonton drakor.
Arjuna fokus mengendarai motornya, karena jalanan cukup ramai, jadi ia harus fokus.
Cukup lama motor itu melaju, namun ia tak mendengar suara Lili lagi.
Arjuna merasa seperti ada kedua tangan yang sedang melingkar pada perutnya.
Pria itu mengarahkan sorot mata pada bagian perutnya, dan benar saja saat ini kedua tangan Lili sedang memeluknya.
Entah apa yang dirasakan gadis itu sampai tiba-tiba saja memeluk Arjuna.
Mungkin, Lili membayangkan kalau saat ini ia sedang berboncengan dengan Nico.
“Ngapain ni anak peluk-peluk?” gumam Arjuna, pria itu membenarkan kaca spion agar ia bisa melihat wajah Lili yang berada di belakangnya.
Benar saja feeling pria itu, saat ini Lili sedang memejamkan kedua matanya.
Bahkan, gadis itu juga menyandarkan kepala pada punggung tegap Arjuna.
“Ya ampun, malah tidur. Dasar bocah, bikin repot aja,” guman Arjuna kembali sambil memelankan laju roda duanya, karena ia takut Lili terjatuh.
Arjuna menyentuh punggung tangan Lili dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang stang motor. Pria itu mengusap punggung tangan Lili dan berusaha membangunkan.
“Li, Lili … bangun,” ucap Arjuna sambil mengusap punggung tangan Lili.
Namun, bukannya bangun, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya.