Penasaran Dalamnya

1711 Kata
“Astaghfirullah … Li, bangun!! Jangan tidur, nanti kamu jatuh,” ucap Arjuna lagi yang masih berusaha membangunkan Lili. “Hmmmm ….” Namun, gadis itu hanya bergumam. “Ck … gak beres nih anak.” Arjuna tak menghentikan motornya, pria itu memegang kedua tangan Lili yang melingkar pada perutnya, dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang stang motor. Arjuna terlihat seperti seorang ayah yang sedang menjaga putrinya agar tidak terjatuh. Ditambah lagi, ukuran tangan Lili yang imut sangat berbeda jauh dengan tangan Arjuna yang besar dan kekar. Arjuna terus membawa motornya sampai ke jalan menuju rumah mereka. Pria itu menghentikan motornya di halaman rumah Lili yang sangat dekat dengan halaman rumahnya. “Astaghfirullah … anak gue kenapa? Si Lili kenapa, Jun?” teriak seorang pria paruh baya yang langsung bangkit dari duduknya. Pak Hidayat yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati segelas kopi, seketika terjingkat saat melihat Arjuna datang sambil membonceng Lili yang sedang memejamkan kedua matanya. Pria paruh baya itu langsung melempar peci merah dan sarung yang dikenakannya. Ia berlari ke arah motor Arjuna yang sedang terparkir di halaman rumahnya. “Lili, lo kenape Li? Masa mau mendahului Bapak sih Li? Lo gak kasihan apa sama Bapak? Belum juga Bapak kawin lagi, masa lo udah ninggalin Bapak sih, Li?” teriak pak Hidayat yang histeris sendiri. Arjuna yang mendengar itu, hanya menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Anak dan bapak memang sama-sama dramatis. Pak Hidayat berdiri tepat di samping Lili, pria paruh baya itu memperhatikan wajah putrinya yang menempel pada punggung Arjuna. “Anak monyet, kirain mati, ternyata tidur, sampe ngiler di jaket lo Jun!” teriak pak Dayat sambil mencubit hidung Lili yang membuat gadis itu seketika membuka kedua matanya. “Beneran ngiler, Pak? Hadehhh … bahaya ini si Lili.” Arjuna langsung menoleh ke arah Lili yang mengucek mata sambil prengat-prengut. Sepertinya gadis itu sedang berusaha mengumpulkan kesadaran. “Apaan sih? Pada berisik banget, orang lagi mimpi indah juga.” Lili malah kembali menempelkan kepalanya pada punggung Arjuna. “Lili, turun, kita udah nyampe,” ucap Arjuna. “Astoge … ternyata sedari tadi aku tidur di sini. Ikh, Om pasti kesenengan aku peluk. Bapak juga kenapa diam aja sih lihat anaknya diperlakukan seperti ini? Semua laki-laki sama aja!” oceh Lili sambil melepaskan pelukannya. Gadis itu segera turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah. Seketika Arjuna dan pak Dayat saling melempar pandangan. Kedua pria itu geleng-geleng kepala ketika melihat tingkah Lili yang tiba-tiba berubah. “Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak.” Arjuna menyalakan motornya kembali, pria itu menjalankan motor sampai ke rumahnya. Sementara Lili masuk ke dalam kamar, gadis itu langsung melepaskan tasnya dan menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Ia akan melanjutkan tidurnya. Ia yakin setelah ini ayahnya akan menggedor pintu kamarnya untuk menanyakan motor. Lili belum kepikiran soal motornya yang ia tinggalkan di kampus. Di luar rumah, pak Dayat masih berdiri di halaman rumahnya, pria paruh baya itu sedang bertanya-tanya sendiri, kemana motor Lili? Kenapa gadis itu pulang bersama Arjuna? Pak Dayat ingin bertanya kepada Arjuna, namun pria itu kini sudah masuk ke dalam rumahnya. “Kemana motor si Lili? Jangan-jangan ada yang maling,” gumam pak Dayat sendiri. Namun, tak lama kemudian datang seseorang yang membawa sebuah motor matic. Motor itu sudah tak asing lagi di mata pak Dayat. “Eh, ini motor anak gue, lo malingnya ya!” tuding pak Dayat yang langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk memberikan serangan kepada seorang pemuda yang kini telah menghentikan motor tersebut di hadapan pak Dayat. “Lo maling kan?!” tuding pak Dayat lagi yang siap melemparkan bogeman. “Tenang dulu, Pak. Saya bukan maling.” Pemuda itu membuka helmnya. “Siapa lo? Kenapa lo malah bawa motor anak gue?” sergah pak Dayat sambil menatap intens ke arah pemuda berkulit putih itu. “Kenalin, Pak. Saya Nico, pacarnya Lili. Tadi motor Lili mogok di kampus, jadi saya benerin terus saya antar ke sini,” ucap Nico sambil turun dari atas motor Lili. “Hah, pacar? Jadi si Lili udah punya pacar? Laku juga anak gue. Mana ganteng lagi pacarnya.” Seketika pak Dayat tersenyum dengan mata yang masih menatap ke arah wajah Nico. Pria paruh baya itu memperhatikan penampilan Nico dari atas sampai bawah. “Lili-nya ada, Om?” tanya Nico. “Ada … si Lili ada di dalam, mau masuk dulu?” tanya pak Dayat yang mendadak berubah ramah. “Boleh, Om. Saya mau ketemu Lili,” jawab Nico dengan penuh semangat, karena ia ingin bertemu dengan Lili. “Ayo masuk dulu, Om panggilkan si Lili,” ajak pak Dayat seraya berjalan ke arah rumahnya. Nico yang mendengar itu, langsung mengikuti langkah pak Dayat tanpa menunggu lama lagi. Selama mereka berpacaran, Lili tidak pernah mengajak Nico ke rumahnya. Jadi, ini untuk yang pertama kalinya Nico datang ke rumah Lili. “Ayo masuk, tapi ngomong-ngomong namamu siapa tadi? Om lupa, maklum kebanyakan mikir. Jangan-jangan namanya Sapri lagi.” Pak Dayat menghentikan langkahnya setelah tiba di dalam rumah. “Nama saya Nico, Om,” jawab Nico dengan ramah. “Nico, duduk dulu, biar Om panggil si Lili dulu. Kayaknya tuh anak tidur lagi deh.” Pak Dayat berjalan ke arah kamar putrinya. “Iya, Om, terima kasih.” Nico duduk di ruang tamu yang berada tepat di depan kamar Lili. Tok! Tok! Tok! “Li … Lili bangun, ada pacar kamu nih!” teriak pak Dayat setelah mengetuk pintu kamar Lili. Pria paruh baya itu berdiri sambil berkacak pinggang di depan kamar putrinya. Namun, sama sekali tak ada jawaban dari dalam yang membuat pak Dayat kembali mengetuk, bahkan kali ini pria paruh baya itu menggedor kamar putrinya. “Lili bangun!!! Ada Nico pacar kamu nih!” teriak pak Dayat dengan suara kencang agar mampu mengguncang gendang telinga putrinya. Seketika Lili yang sedang terbang di alam mimpi langsung membuka kedua matanya setelah mendengar teriakan sang ayah. “Iya, Pak, kenapa teriak-teriak?” Lili mengucek kedua matanya. “Ada Nico pacar kamu di sini,” teriak pak Dayat lagi yang membuat Lili langsung bangkit dari atas kasur. Gadis itu terjingkat, ia membuka kedua matanya lebar-lebar. “Hah, Nico? Beneran ada si Nico di sini? Ngapain dia?” Lili turun dari ranjang dengan cepat, gadis itu mendekat ke arah pintu. Ia mengintip dari lobang kunci kamarnya dan benar saja ada seorang pemuda yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Ia benar-benar merasa terkejut, jujur saja Lili masih merasa takut kepada pemuda itu. “Gak, gue gak mau ketemu si Nico, gue harus kabur. Lagian, Bapak kok ada-ada aja pake masukin tuh anak segala ke dalam rumah.” Lili menjadi panik sendiri. Gadis itu setengah berlari ke arah jendela kamarnya. Lili membuka jendela kamar dengan hati-hati, setelah itu ia naik ke atas jendela dan melompat keluar. “Kabuuurrr!!!” Lili berlari ke arah rumah sebelah, ia akan mencari tempat untuk bersembunyi. Kebetulan rumah di sampingnya itu adalah rumah Arjuna. Lili berlari ke arah rumah tetangganya itu, ia tak peduli apapun, yang jelas saat ini ia harus melarikan diri dari Nico. Gadis itu melihat jendela rumah Arjuna yang terbuka, dan tanpa berpikir panjang lagi, Lili langsung naik ke atas jendela dan masuk ke dalam rumah Arjuna. Namun, ternyata ia malah masuk tepat di kamar pria itu. “Eh buset, gue lupa ternyata ini kamarnya Om Arjun,” ucap Lili dengan suara pelan. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun di sana. Lili juga tidak melihat keberadaan Arjuna, entah pergi kemana pria itu. Tiba-tiba saja, jiwa kepo Lili meronta, ia ingin melihat apa saja yang ada di dalam kamar tetangganya. Karena selama ini, Arjuna adalah orang yang cukup misterius dan tertutup. Mulai dari pekerjaannya yang tidak Lili ketahui detail, serta dari kisah hidupnya terutama dari percintaan. Lili merasa penasaran, apakah pria itu pernah merasakan jatuh cinta? Atau mungkin Arjuna tidak normal sejak kecil. Di kamar itu juga tidak ada satu foto pun yang terpajang, hanya ada beberapa lukisan abstrak dan tumpukkan buku-buku. Ada juga alat musik seperti gitar dan biola, bahkan Lili tidak tahu kalau pria itu bisa bermain gitar apalagi biola. Lili mendekat ke arah ranjang, ia melihat sebuah foto yang tergeletak di samping bantal. Namun, sayangnya foto itu diletakkan terbalik, jadi Lili tak dapat melihat gambar pada foto tersebut. Karena jiwa kepo Lili sudah akut, jadi gadis itu berniat untuk mengambil foto tersebut dan melihatnya. Ia benar-benar merasa penasaran dengan gambar pada foto yang sepertinya sudah lama itu, terlihat dari bagian belakangnya yang mulai menguning, tidak putih bersih seperti foto yang masih baru. Lili menggerakkan tangannya, ia akan mengambil foto tersebut. Namun, tiba-tiba saja …. “Ngapain kamu di sini?” Suara itu benar-benar mengejutkannya. Lili menarik kembali tangannya yang sudah hampir menyentuh foto itu. Ia segera membalikkan badan, namun Lili malah semakin dibuat terkejut saat ia melihat Arjuna kini sedang berdiri di hadapannya sambil bertelanjang d**a. Sepertinya pria itu baru selesai mandi, ia hanya memakai sehelai handuk yang melingkar pada pinggangnya. Lili terdiam membeku, ia memperhatikan Arjuna dari atas sampai bawah dan arah sorot mata gadis itu berhenti tepat di bawah perut Arjuna. Entah apa yang sedang ia lihat. Lili terkejut ketika melihat tubuh kekar Arjuna, selama ini ia tidak pernah melihat pria itu bertelanjang. Ternyata tubuh Arjuna sangat gagah dan atletis. Pria itu memiliki otot lengan dan perut yang kekar, tak hanya itu, Arjuna juga memiliki bulu-bulu halus yang tumbuh di tengah-tengah d**a dan perutnya. Ternyata, pria yang selama ini Lili katakan tidak normal itu memiliki tubuh yang sangat atletis. “Dari badannya oke, tapi entah kalau dari ….” Lili masih mengarahkan pandangannya pada area perut Arjuna. Entah apa yang sedang berada di dalam pikiran gadis itu sampai ia berbicara seperti tadi. “Apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu mau melihat pedang saya, hmmmm?” Tiba-tiba saja Arjuna berjalan mendekat ke arah Lili yang membuat gadis itu terkejut. Terlebih lagi, ketika ia melihat sorot mata Arjuna yang berbeda. Pria itu menatapnya intens dengan bibir yang tersenyum devil. Sungguh ini adalah ekspresi yang sebelumnya tidak pernah Lili lihat dari pria itu. “O-om mau ngapain?” Seketika Lili memundurkan langkahnya. Namun, langkah kakinya malah mentok karena ia berada tepat di samping ranjang. “Kamu kan penasaran dan mau lihat, sini biar saya kasih lihat secara langsung.” Arjuna semakin mendekat ke arah Lili.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN