Ingin Menjadi Istrimu

1090 Kata
“Om jangan macam-macam ya, atau aku teriak sekarang,” ancam Lili ketika melihat Arjuna semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu malah langsung terlihat ketakutan, bahkan kulit wajahnya mendadak jadi pucat. “Teriak aja, kan yang duluan masuk ke dalam kamarku itu kamu, jadi biar kamu yang dituduh ngintip saya,” balas Arjuna dengan santai. “Enak aja, aku gak nafsu ya sama Om,” balas Lili yang tak mau kalah. “Emang kamu pikir saya nafsu sama body kerempeng kayak kamu itu,” balas Arkuna lagi. “Idih, belum juga lihat dalamnya, udah ngomong kayak gitu.” Lili terdengar angkuh. “Kalau gitu, saya mau lihat dalamnya bagaimana?” Arjuna mengangkat alisnya. “Oke, tapi aku juga mau lihat dalamnya punya Om. Awas aja kalau gak panjang dan besar.” Lili menahan tawa. “Stres! Udah, keluar kamu. Ngapain di kamar saya?” usir Arjuna. “Ini kita gak jadi saling lihat-lihatan, Om?” Wajah tegang dan ketakutan Lili seketika berubah. “Kamu ini gak ada takut-takutnya ya sama saya. Keluar sekarang dari kamar saya, saya gak mau ya dimarahi Bapak kamu gara-gara ngumpetin anaknya di sini,” usir Juna sekali lagi. “Ya udah aku keluar, tapi aku izin sembunyi di rumah Om dulu ya. Please … aku takut Om, di rumahku ada mantanku. Aku gak mau ketemu dia.” Lili terdengar memohon. “Bukan urusan saya, cepat keluar! Saya mau ganti baju.” Juna berjalan ke arah lemari pakaian. “Mau aku pakaikan gak, Om?” tawar Lili yang semakin ngelantur. “Anak kecil ini, ganggu saja. Cepat keluar!” usir Juna dengan nada penekanan agar Lili segera keluar dari kamarnya. “Ck … iya-iya, dasar Om-om ketus.” Lili berjalan ke arah pintu kamar. “Eh, ngapain ke situ? Kamu kan tadi masuk lewat jendela, sekarang keluar lewat jendela lagi!” titah Juna yang seketika menghentikan gerakkan tangan Lili, padahal sebentar lagi tangannya menyentuh kenop pintu. “Pelit banget sih, aku numpang ngumpet.” Lili tak menghiraukan ucapan Juna, ia membuka pintu kamar dan keluar. Juna hanya geleng-geleng kepala, ia sudah biasa dengan tingkah Lili yang seperti itu. Lili berjalan ke arah sofa yang terdapat di ruang televisi, kedua matanya masih terasa ngantuk, disaat ia sedang nyenyak tidur, ada saja gangguannya. “Hoaaaammm … enak juga rumah Om Juna. Walaupun di sini gak ada perempuan, tapi rumahnya tetap bersih.” Lili menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. “Kenapa sih dia gak nikah aja? Kan kalau Om Juna nikah, lumayan gue punya tetangga cewek. Ini semuanya cowok, Bapak gue duda, Om Juna perjaka tua, sebelah rumah gue lagi aki-aki, gak ada yang bener emang.” Lili mengoceh sendiri. Namun, ia merasa seperti ada yang mengganjal di dekat kepalanya. “Apaan nih? Perasaan tadi gak ada apa-apa di sofa ini, apa gue gak liat ya?” Lili sedikit mengangkat kepala, ia mengambil kain yang sempat ia tindih itu. “Anjir, s3mp4k, bisa-bisanya ada bendera Spiderman di sini. Om Juna abis ngapain coba?” Lili memegang kain berwarna hitam itu lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Sebelumnya ia tidak melihat benda itu di atas sofa, mungkin karena sofa berwarna hitam dan sama dengan benda tersebut, Lili jadi tidak melihatnya. “Jangan-jangan, Om Juna abis ….” Seketika Lili menggerakkan kedua bahunya saat ia membayangkan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. “Hih, ngeri. Jangan-jangan dia gak nikah-nikah karena dia lebih suka main sama sofa, daripada sama manusia,” gumam Lili lagi yang kembali merebahkan tubuhnya. Entah kenapa ia merasa nyaman di rumah itu, rumah Juna terasa adem dan menenangkan yang membuat dirinya malas untuk pulang, apalagi mungkin Nico masih ada di rumahnya. “Tapi kalau dilihat-lihat, Om Juna ganteng juga. Badannya sixpack, apalagi tadi gue liat ada bulu-bulu halus yang tumbuh di d**a dan perutnya. Uh, gue jadi penasaran rasanya.” Lili menggigit jari telunjuknya sendiri. Ia jadi teringat film biru yang pernah ia tonton. Akan tetapi, entah kenapa ia tidak tertarik untuk melakukan itu bersama dengan Nico. Pemuda itu memang tampan, akan tetapi dari segi body, Lili lebih menyukai bentuk tubuh Arjuna yang kekar dan gagah. “Om, s3ntuh aku dong.” Lili berbicara dengan nada manja. Gadis itu berbicara sendiri sambil duduk dengan posisi d**a yang sengaja ia busungkan ke depan. “Kenapa kamu?” Suara itu sangat mengejutkan Lili. Ia langsung menoleh ke arah Juna yang baru keluar dari kamarnya. “Eh, Om Juna.” Lili membenarkan rambutnya kembali dengan bibir yang senyum-senyum sendiri. “Aneh,” ucap Juna singkat. Pria itu berjalan ke arah dapur. “Om, mau kemana?” Lili mengejar langkah Juna, gadis itu mengikutinya ke arah dapur. “Mau bikin kopi, kamu kenapa sih ngikutin saya terus? Pulang sana, nanti Bapak kamu nyariin,” usir Juna. “Aku gak mau pulang, ada mantanku di rumah,” jawab Lili yang mensejajarkan langkah dengan Juna. “Terus, kamu mau pindah ke sini?” Juna menghentikan langkah, pria itu menoleh ke arah Lili yang malah sengar-sengir sendiri. “Gimana kalau hari ini aku cosplay jadi istrinya, Om. Kebetulan aku lagi ada tugas kuliah. Jadi aku ambil tema, kenapa seseorang memutuskan untuk tidak mau menikah. Terus, aku kan perlu observasi. Dan sekarang aku mau observasi langsung sama Om. Karena Om gak nikah-nikah diusia Om yang sudah matang ini, jadi aku mau menjadikan Om sebagai bahan penelitian aku. Aku mau cek apakah Om normal atau tidak, selain itu aku juga mau memastikan Om benar-benar tidak tertarik dengan pernikahan atau itu hanya sekedar alibi saja,” tutur Lili panjang lebar. “Enak saja kamu mau menjadikan saya bahan penelitian.” Juna melanjutkan langkahnya ke arah dapur. Lili kembali mengikuti langkah pria itu. “Mau Om ya, please.” Lili terdengar memohon. “Terus, kamu mau mulai dari mana dulu?” Juna berbicara tanpa menghentikan langkahnya, karena jarak dari ruang televisi menuju dapur itu cukup jauh. “Aku mau memastikan dulu kalau Om itu ada ketertarikan untuk menikah atau tidak. Jadi, aku mau cosplay jadi istri, Om. Aku mau melakukan apa yang biasanya seorang istri lakukan terhadap suaminya. Seperti membuatkan kopi, memasak, menemani berbicara ….” “Termasuk menemani tidur?” Tiba-tiba saja Arjuna membalikkan badan yang membuat Lili seketika menghentikan langkah, ia yang berjalan di belakang Arjuna, hampir saja menabrak tubuh pria itu saat Juna mendadak menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya. “Kalau Om mau gak papa, sekalian aku mau cek Om normal atau nggak,” jawab Lili tanpa berpikir panjang. “Kamu ini aneh-aneh saja, kalau terjadi sesuatu, kamu yang rugi, bukan saya.” Juna mengusap wajahnya sendiri, ia benar-benar tak habis pikir dengan anak tetangganya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN