Aksi Nico

1082 Kata
Sedari kecil, Lili memang nakal dan petakilan, dulu gadis itu sering menangis jika tidak ia ajari naik sepeda. Arjuna sudah menganggap Lili seperti adiknya sendiri, karena usia Lili hampir sama dengan adiknya. Namun, sayangnya Dewa lebih memilih tinggal di kos dan jarang pulang. “Emang Om bisa ngapain? Om kan gak normal,” jawab Lili dengan entengnya. “Ck … kamu cuma menafsirkan satu sisi saja.” Juna berjalan ke arah meja yang terdapat kopi dan gelas. “Om diam aja, biar aku yang buatkan kopi untuk Om!” Lili mencegah Juna. Ia memegang kedua tangan pria itu dan meminta Juna untuk diam. “Apa sih, Li? Udah ya mainnya. Kamu udah gede.” Juna membuang nafas kasar. Waktu kecil, Lili sering merengek memintanya untuk menemani main masak-masakan. Karena Dewa sebagai sahabatnya tidak mau menemani Lili main masak-masakan. Dewa sebagai anak laki-laki, lebih suka bermain bola dan permainan anak laki-laki lainnya. Sedangkan Lili tidak memiliki teman selain Dewa, jadi yang menjadi sasarannya adalah Juna, ia akan menangis kencang jika kakak dari sahabatnya itu tidak menuruti kemauannya. Juna yang selalu bersikap baik kepada anak-anak, meskipun saat itu ia belum sedewasa ini, ia sering menuruti kemauan Lili menemani gadis itu bermain. “Aku gak lagi main rumah-rumahan, Om. Aku lagi observasi dan penelitian. Sekarang, anggap aja aku ini adalah istri Om. Nanti ceritakan apa yang Om rasakan dan Om bayangkan mempunyai istri,” jelas Lili. “Mempunyai istri seperti kamu? Membayangkannya saja saya tak sudi,” balas Arjuna dengan santai sambil bersedekap d**a. “Om Arjun ikh!!! Huaaaaa … kenapa Om Arjun jahat banget gak mau jadi bahan penelitian aku!!” Lili berteriak seperti sedang menangis. “Berisik! Ya udah, cepat buatkan kopi.” Arjuna mengalah, ia paling tidak kuat jika mendengar teriakan gadis itu. “Nah, gitu dong. Sebentar suamiku.” Lili mulai mengambil gelas. “Geli banget saya dengarnya,” ucap Juna yang membuat Lili seketika tertawa. “Gelisah, Om, geli-geli basah.” Lili meliuk-liukkan tubuhnya sambil menaburkan kopi ke dalam gelas. “Gak usah kayak ulet gitu, Li,” protes Arjuna. “Ck … kaku banget sih Om. Bayangkan aku adalah istrimu.” Lili mulai mengaduk kopi yang telah ia beri air. “Udah bikin kopinya? Sini!” Juna mendekat ke arah Lili, pria itu berdiri di belakang Lili yang masih sibuk mengaduk kopi. “Udah kebayang belum Om kalau aku jadi istri Om?” Lili menoleh ke arah Juna yang berdiri di belakangnya. “Nggak,” jawab Juna singkat. “Kok nggak sih, Om? Gimana kalau kita nikah beneran aja. Om kan gak normal, jadi aku gak bakal diapa-apain, aku aman deh,” cerocos Lili yang sibuk sendiri dengan isi pikirannya. “Terus, tujuan kamu nikah sama saya itu buat apa?” Juna menatap heran ke arah gadis itu. “Biar aku bisa minta uang ke Om, Om kan banyak uangnya. Jadi, aku bisa beli apa aja yang aku mau dengan uang Om,” jawab Lili dengan jujur. “Stres kamu ya.” Juna mengambil segelas kopi yang sudah dibuatkan oleh Lili tadi. Setelah itu, ia kembali berjalan ke arah ruang tengah. “Om, aku serius. Nikahin aku aja, Om. Kasian Bapak udah tua kalau harus masih biayain aku terus. Aku nikah sama Om, terus aku numpang hidup sama Om.” Isi pikiran Lili semakin tidak bisa dicerna oleh Juna. “Mending kamu tidur aja, Li. Kayaknya kamu ngantuk, makanya ngelantur gitu.” Juna meletakkan kopinya ke atas meja, setelah itu ia duduk di atas sofa. “Om, aku serius. Kita nikah aja ya, nanti aku bilang sama Bapak kalau kita mau nikah.” Lili malah semakin merengek, gadis itu seperti anak kecil yang meminta mainan. “Kamu ini katanya kuliah jurusan psikologi, tapi ternyata kamu sendiri yang psikolognya terganggu.” Juna menatap Lili sambil tertawa kecil. “Om Juna ikh! Aku kan ambil psikologi buat nyembuhin diri aku sendiri.” Lili tertawa di akhir kalimatnya. “Udah, kamu pulang sana!” usir Arjuna. “Gak mau, aku mau jadi istri Om.” Lili malah ikut duduk di samping Juna. “Aneh-aneh aja kamu, Li. Obat kamu abis ya, makanya kumat.” Juna geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan seseorang dari depan. “Jun, ada si Lili kagak? Kemana anak itu? Diapelin sama pacarnya, malah kabur,” teriak seorang pria paruh baya dari depan pintu. “Waduh, ada Bapak. Om, bilangin aku gak ada. Aku mau keluar lewat jendela kamar Om.” Lili berlari ke arah kamar Juna. Gadis itu takut ayahnya ngamuk. Ia akan keluar lewat jendela kamar Juna lagi yang bersebelahan dengan kamarnya. Namun, sebelum keluar lewat jendela, Lili sempat melihat ke arah nakas, ada tumpukkan foto berukuran 3x4, ia mendekat ke arah nakas. “Foto apa ya? Perasaan tadi gue gak liat foto ini. Bijr, ini kan Om Juna foto latar biru. Apa jangan-jangan Om Juna mau nikah? Tapi nikah sama siapa?” Lili mengambil satu foto itu, ia memperhatikannya, akan tetapi sepertinya foto itu sudah cukup lama. “Gue ambil lah.” Lili mengambil satu foto itu, ia memasukkan ke dalam saku celananya. Gadis itu segera berlari ke arah jendela kamar, Lili langsung keluar lewat jendela kamar Juna. “Mudah-mudahan si Nico udah pulang.” Lili berjalan mengendap-endap dan langsung masuk ke dalam kamar lewat jendela. “Kayaknya si Nico udah pulang deh.” Lili membuka pintu kamarnya, namun seketika ia dibuat terkejut saat melihat seseorang yang ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar. “Ni-nico ….” Lili sampai tergagap ketika melihat Nico berdiri menghadap ke arahnya. Pemuda itu menatap dalam-dalam wajah Lili dengan bibir yang tersenyum tipis. “Kamu kemana aja, Li? Aku nungguin kamu dari tadi. Aku kangen banget sama kamu, Li.” Nico berjalan semakin mendekat. Refleks Lili memundurkan langkahnya, namun sayangnya semakin ia mundur, maka ia semakin masuk ke dalam kamar. “Nico … kamu jangan macam-macam.” Lili terlihat ketakutan. “Nggak, Li. Aku cuma mau ….” Nico menggerakkan tangannya, ia memegang pipi Lili yang membuat gadis itu semakin terlihat tegang dan ketakutan. “Jangan kayak gini, Nico. Pe-pergi …” usir Lili yang terlihat gemetar karena ketakutan. Entah kenapa, ia benar-benar merasa takut pada pemuda itu. Namun, bukannya pergi, Nico malah semakin mendekat, pemuda itu menyentuh tengkuk Lili dan menariknya sampai tubuh gadis itu terhuyung ke depan. “Aku kangen kamu, Li.” Nico mendekatkan wajahnya, sorot mata pria itu tertuju pada bibir Lili yang seolah menjadi sasaran dirinya. “Nico, jangan gila!” Lili mendorong d**a pemuda itu agar menjauh, namun yang terjadi malah ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN