Di Dalam Kamar

1102 Kata
Lili semakin ketakutan, terlebih lagi ketika ia melihat sorot mata Nico yang seolah mengisyaratkan apa yang ingin pemuda itu lakukan. “I wana you, Lili.” Nico kembali menyentuh pipi Lili yang membuat perasaan Lili semakin tak karuan. “Nico, jangan gila ya, kamu bisa dibacok bapakku!” ancam Lili seraya menepis tangan Nico dari pipinya. “Aku gak takut Li, rasa cintaku ke kamu lebih besar daripada rasa takutku.” Nico mengatakan itu dengan nada penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Lili semakin terasa berdiri. “Itu bukan cinta namanya, tapi obsesi. Pergi kamu dari sini!” usir Lili yang berusaha bersikap keras agar Nico merasa sedikit takut padanya. “No! Bapakmu bilang, dia mau mencarimu sampai ketemu, bapakmu tidak akan pulang dulu sebelum menemukan kamu. So have fun, Bee.” Nico tersenyum smirk, pemuda itu menyebutkan panggilan kesayangannya untuk Lili, yaitu Bee. Nico memegang bahu Lili, pemuda itu mendorong tubuh Lili dengan perlahan ke atas kasur. Lili semakin merasa takut, jujur saja Nico lebih menyeramkan daripada Arjuna yang berusia lebih matang. Mungkin karena Lili menganggap Arjuna tidak normal, jadi ia tidak merasa takut kepada pria itu. Sorot kedua mata Nico semakin menatap dalam-dalam pada wajah Lili, bahkan kini yang menjadi fokus dari sorot kedua bola mata berwarna abu-abu itu adalah bibir seksi Lili. Nico mendekatkan wajahnya dengan bibir yang seolah siap mencium. Hal tersebut membuat tubuh Lili semakin gemetar karena rasa takut bercampur gelisah. Ia harus mencari cara agar Nico pergi dari sana. “Nico, awas ada cicak terbang ke kepala kamu!” teriak Lili yang membuat Nico seketika menghentikan gerakkannya. “Hah? Cicak? Mana? Aaarrrrggghhh ….” Nico berteriak dan langsung berlari keluar dari kamar Lili. Bahkan, pemuda itu juga sampai berlari keluar dari rumah karena ketakutan. Lili membuang nafas lega, untung saja ia masih ingat apa yang ditakutkan oleh Nico. Tak hanya takut, bahkan pemuda itu juga phobia cicak. Maka dari itu, Nico langsung lari ketakutan. Pemuda itu sampai melupakan niatnya yang ingin berbuat macam-macam kepada Lili. Otak c4bulnya seketika hilang berganti dengan rasa takut yang luar biasa. Lili ikut keluar dari rumah, ia menertawakan Nico yang lari terbirit-b***t. Bahkan, pemuda itu sampai meninggalkan rumah Lili sambil berteriak ketakutan. Teriakan pemuda itu sampai terdengar oleh pak Dayat dan Arjuna yang membuat kedua orang pria itu langsung keluar dari rumah Arjuna secara bersamaan. “Kenapa tuh si Sueb?” Pak Dayat berjalan ke arah Lili yang sedang tertawa terbahak-bahak di halaman rumahnya. Arjuna yang merasa penasaran, mengikuti pak Dayat dari belakang, mereka berdua berjalan menghampiri Lili. “Lo apain si Sueb sampe ketakutan gitu?” tanya pak Dayat lagi sambil menatap heran ke arah putrinya yang tertawa sampai terpingkal. “Sueb siapa sih, Pak?” Lili menatap heran ke arah ayahnya. “Itu, pacar lo,” jawab pak Dayat sambil menunjuk ke arah Nico yang sudah berlari sangat jauh, bahkan sudah tak terlihat lagi. “Kok Sueb? Namanya Nico,” sangkal Lili yang semakin tertawa kencang. “Halah, susah banget namanya, lebih gampang Sueb, gak belibet gue nyebutnya,” cerocos pak Dayat yang membuat Lili semakin tak dapat menghentikan tawanya. Arjuna yang berdiri di belakang pak Dayat, hanya tertawa pelan, ia sudah tak asing lagi dengan tetangganya yang heboh itu. Anak dan bapaknya memang sama saja bikin suasana jadi heboh. Sejak dulu memang sudah seperti itu, apalagi ketika ibunya Lili masih hidup dan juga kedua orang tua Arjuna masih hidup, mereka sering berkumpul bersama dan mengadakan acara makan-makan yang membuat suasana semakin heboh. Setelah itu, Lili kembali masuk ke dalam rumah, gadis itu langsung menuju kamarnya. Ia merasa lega karena akhirnya Nico pergi juga. “Alhamdulillah, gue gak jadi diapa-apain sama si Nico, gila banget tuh anak,” oceh Lili sambil mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Ia baru ingat kalau ia telah menyimpan sesuatu di sana. “Mending gue sama Om Arjun aja. Sekalinya dinikahin juga gue gak rugi, secara dia kan udah mateng, udah punya usaha sendiri, punya rumah, punya mobil, punya sawah, punya tanah berhektar-hektar, punya kebun, gak rugi gue. Walaupun minusnya dia gak normal, tapi gak papa, gue masih bisa pake asbak Bali. Hahaha ….” Lili tertawa sendiri. Ia memperhatikan foto Arjuna yang diambilnya dari kamar pria itu, Lili tidak tahu itu foto kapan, akan tetapi foto itu memiliki background biru yang mungkin saja itu adalah foto yang akan ditempel di buku nikah. Namun, Lili juga tidak tahu Arjuna akan menikah dengan siapa, karena selama ini ia tidak pernah mendengar kabar apapun soal pernikahan pria itu atau bahkan soal perempuan yang dekat dengannya. Entah karena Lili yang tidak mendengar kabar itu, atau karena Arjuna yang terlalu private. “Tapi dilihat-lihat Om Arjun ganteng juga. Diam di sini baik-baik ya, Om.” Lili memasukkan foto berukuran kecil itu ke dalam dompetnya. “Hmmmm … lebih baik sekarang gue mandi, biar gak pelor lagi. Udah mau magrib ini.” Lili melemparkan dompet itu ke arah kasur, setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. *** Siang kini telah berganti malam, Lili menyalakan laptopnya, ia akan sedikit-demi sedikit mengerjakan tugas kampus, agar ketika waktunya dikumpulkan ia tidak keteteran sendiri. “Li … Lili …” teriak pak Dayat dari depan pintu kamar yang membuat Lili langsung membuang nafas kasar ketika mendengar teriakan bapaknya. “Iya, Pak, kenapa?” balas Lili tanpa beranjak dari atas ranjang. “Pergi beli nasi goreng, Li. Bapak laper, tapi malas masak,” titah pak Dayat. “Huh, ada aja gangguannya,” protes Lili sendiri dengan wajah kesal. Akan tetapi ia segera turun dari kasur, Lili akan melaksanakan perintah ayahnya, karena jika bukan ia yang membeli makanan, maka ayahnya akan memerintah siapa lagi. Lili segera keluar dari kamar, ia menghampiri pak Dayat yang sudah menunggunya di depan kamar. “Duitnya mana, Pak?” Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah pak Dayat. “Pake duit kamu aja dulu, duitnya Bapak belum dicairkan,” balas pria paruh baya itu dengan wajah serius. “Emangnya masih di mana duitnya, Pak?” tanya Lili yang juga ikut memasang wajah serius. “Di dalam freezer,” jawab pak Dayat yang diiringi kekehan pelan. “Kampret!” protes Lili yang membuat bapaknya seketika memecahkan tawa. “Ya udah buruan sana, Bapak lapeer, tar besok Bapak ganti duitnya,” titah pak Dayat lagi yang sepertinya memang benar-benar lapar. “Siap kompeni!” Lili mengambil dompet di dalam kamar, setelah itu ia berjalan dengan cepat keluar dari rumahnya. “Eh, Li gak bawa motor?” teriak pak Dayat karena ia melihat kunci motor Lili masih tergeletak di atas meja. “Kagak, Pak, mau terbang aja,” jawab Lili berteriak karena saat ini ia sudah berada di teras rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN