Salah Pegang

1058 Kata
“Gak jelas banget hidup lo, kayak hidup gue,” balas pak Dayat sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi yang berada di ruang tengah. Sementara Lili berjalan ke arah rumah Arjuna, kebetulan ia melihat pria itu sedang duduk sendiri pada kursi di teras rumahnya. Arjuna memang sering duduk di sana, apalagi saat malam hari seperti ini, karena suasana di depan rumahnya cukup adem. Biasanya pak Dayat ikut duduk di sana, namun karena saat ini pria paruh baya itu sedang lapar, jadi ia hanya menunggu Lili di rumah. “Om, Om Arjun!” teriak Lili seraya berlari ke arah Arjuna. “Ya ampun, ngagetin aja kamu ini.” Arjuna langsung menutup ponselnya ketika Lili semakin mendekat ke arahnya. “Kok langsung di tutup sih, Om HP-nya? Takut ketahuan lagi nonton film biru ya? Padahal kan kita bisa nonton bareng,” ucap Lili dengan santai. “Konslet kamu ini. Ngapain ke sini malam-malam?” Arjuna menatap ke arah Lili yang berdiri di hadapannya dengan dahi mengerut. “Hehehe … Om lagi nganggur kan? Antar aku yuk, Om!” Lili memegang lengan Arjuna. “Kemana?” Arjuna kembali mengerutkan keningnya. “Beli nasi goreng, Om. Aku di suruh Bapak, tapi aku takut sendirian. Aku masih trauma, Om, aku takut ketemu si Nico lagi. Ayo antar aku, Om,” rengek Lili seraya menarik lengan Arjuna agar pria itu mau menuruti permintaannya. “Ada-ada aja.” Arjuna menghela nafas sebentar. “Ayo, Om, kasihan Bapak kelaparan, Om.” Lili kembali merengek seperti anak kecil. “Ck … iya-iya sebentar, saya ambil kunci motor dulu.” Arjuna bangkit dari duduknya, mau tidak mau pria itu akan mengantarkan Lili. Karena jika tidak, pasti Lili terus merengek padanya. “Yessss ….” Lili jingkrak-jingkrak sendiri, entah apa yang membuatnya sampai senang seperti itu ketika Arjuna akan mengantarkannya. “Ayo!” ajak Arjuna setelah mengambil kunci motor, pria itu segera menaiki motornya yang masih terparkir di depan rumah. “Om, gak ada niatan buat ganti motor gitu?” celetuk Lili seraya naik ke atas motor. “Gak, cuma ada niat ganti tetangga,” jawab Arjuna ngasal. “Om jahat banget!” Lili langsung memukul punggung tegap Arjuna yang kini mulai menjalankan motornya. “Diam, nanti kamu jatuh!” Arjuna memegang tangan Lili dengan tangan kirinya, karena gadis itu terus bergerak. “Gak mau, Om Arjun jahat sama aku!” Lili masih terus mengamuk sampai membuat Arjuna terpaksa menghentikan motornya di pinggir jalan. “Om, kok berhenti sih?” Tanpa bicara, Arjuna turun dari atas motor, tapi ia masih membiarkan Lili duduk di atas motornya. “Om, jangan tinggalin aku!” teriak Lili. Arjuna masih belum berbicara, pria itu memegang pinggang Lili dan mengangkat tubuh gadis itu dengan entengnya. Arjuna memindahkan Lili ke posisi paling depan, setelah itu ia kembali menaiki roda dua tersebut. “Diam, jangan gerak!” Arjuna menjalankan motor itu lagi dengan posisi Lili yang berada di depannya. “Hahaha … Om, ternyata seru juga ya naik motor di depan kayak gini!” teriak Lili yang malah kegirangan sendiri. Arjuna tak berbicara, pria itu hanya tersenyum tipis. Ia mencium aroma wangi buah jeruk dari rambut Lili yang berada tepat di hadapannya. Aroma itu terasa sangat fresh dan membuat Arjuna ingin terus menghirupnya. Lili merentangkan kedua tangannya, ia menikmati angin malam yang terasa menyapu tubuhnya. Bahkan rambut gadis itu ikut berkibar karena tertiup angin. “Om, btw ini yang mengganjal apa ya di belakang aku? Kok kayak gerak-gerak gini?” tanya Lili ketika merasakan ada sesuatu yang mengganjal di belakangnya. Benda itu hampir diduduki olehnya. “Jangan banyak gerak, atau dia akan semakin bangkit,” jawab Arjuna yang membuat kedua mata Lili langsung terbuka lebar. “Apa itu, Om?” tanya Lili lagi yang merasa penasaran. “Udah sampai.” Bukannya menjawab, Arjuna malah menghentakkan motornya di dekat penjual nasi goreng. “Ayo turun!” titah Arjuna seraya turun dari motornya. Lili menurut, gadis itu segera turun dari motor sambil berpegangan pada tubuh Arjuna agar ia tidak terjatuh dari motor. “Pak, nasi goreng tiga ya, yang satu pedes, yang satu nggak dan yang satu lagi … punya Om pedes gak?” tanya Lili kepada Arjuna. “Nggak,” jawab pria itu singkat. “Dih, singkat banget jawabnya.” Lili mengerucutkan bibirnya sambil melirik ke arah Arjuna yang berwajah datar tanpa ekspresi. Arjuna duduk di kursi yang disediakan khusus untuk pembeli. Melihat itu, Lili juga ikut duduk di samping Arjuna. “Om, lihat ke atas!” titah Lili secara tiba-tiba. “Gak mau,” jawab Arjuna singkat. “Ck … cepat liat ke atas, Om!” Lili memegang dagu pria itu dan menengadahkan wajah Arjuna sampai melihat ke arah langit yang terang dan dihiasi oleh taburan bintang. “Om liat bidadari gak di atas?” tanya Lili secara tiba-tiba, ia masih memegang dagu Arjuna agar pria itu tetap menengadahkan kepalanya. “Nggak,” jawab Arjuna sambil sedikit menggeleng. “Iya lah nggak, orang bidadarinya ada di sini, Om.” Lili menolehkan wajah Arjuna ke arahnya. Seketika pria itu menggeleng dengan tatapan intens, tingkah Lili memang selalu membuatnya geleng-geleng kepala. “Kok menggeleng sih, Om. Coba ngangguk! Angguk-angguk geleng-geleng … hahaha …..” Lili menganggukkan kepala Arjuna, setelah itu ia menggelengkannya. Lili tertawa kencang sampai membuat penjual nasi goreng menoleh ke arahnya. Lagi-lagi Arjuna hanya terdiam, ia membuang nafas kasar. Sepertinya pria itu merasa malas untuk meladeni tingkah aneh Lili. “Mas, Mbak, ini nasi gorengnya udah selesai. Yang pedes saya kasih karetnya dua ya, biar gak ketuker,” ucap penjual nasi goreng itu yang membuat Lili dan Arjuna segera bangkit dari duduknya. “Siap, Pak.” Lili membuka dompet, ia akan mengambil uang untuk membayar nasi goreng tersebut. Tanpa ia sadari ada Arjuna yang berdiri di sampingnya dan ikut melihat ke arah dompet Lili. “Itu foto siapa?” tanya Arjuna secara tiba-tiba. Pria itu menunjuk ke arah sebuah foto kecil yang berada pada dompet Lili. “Ini foto calon suamiku,” jawab Lili yang kembali menutup dompetnya agar tidak dilihat oleh Arjuna. “Masa? Kok kayak pernah lihat, coba buka lagi,” titah Arjuna. “Nggak mau,” tolak Lili yang malah menyimpan dompet itu ke sela-sela ketiaknya. “Coba lihat!” Arjuna akan mengambil dompet itu, namun tangannya malah salah sasaran. Bukannya memegang dompet, akan tetapi tangan kekar pria itu malah memegang buah d**a Lili yang terlihat menyembul di balik baju tidur yang dikenakannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN