Keira membuktikan ucapannya, ia benar-benar tidak bisa ditemukan di apartemennya. Daniel bahkan lancang masuk ke dalam rumah itu demi mencari tempat persembunyian Keira, namun wanita itu tak ada di sana. “Sial!” umpat Daniel, ia mengacak rambutnya saking kesalnya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan, hari yang tidak menguntungkan baginya. Daniel memilih pulang lebih awal, kembali pada keluarga yang sesungguhnya. “Kamu serius mau nekan aku, Key? Kamu sudah tahu aku nggak bisa bikin pilihan tapi masih saja memaksa. Huft!” keluh Daniel, pikirannya berat dan tak tenang. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan lantaran terjebak kemacetan, suasana yang cukup mendukung untuk membludakkan amarahnya. *** Senyum seringai dari bibir merah Keira ketika menatap layar ponselnya. Dari tem

