“Oh, jadi klienmu seorang wanita. Urusan mendadak itu ternyata hanya jalan bareng di mall, klien mas manja juga ya, akhir pekan saja masih menyusahkan buat ditemani belanja.” Kata kata sindiran yang pedas itu mengalir lancar dari bibir Vania. Sejurus dengan tatapannya yang tiada henti sinis ke arah suaminya. Seolah saling berada sorot mata, sepasang suami istri itu terdiam bisu. Kali ini apa lagi alasanmu mas? Vania nanar menatap Daniel, hatinya bergerumuh dan tak sabar menunggu reaksi Daniel. “Aku....” Kata kata Daniel terjeda, ia butuh kekuatan ekstra untuk melancarkan sandiwaranya lagi. Namun sorot tajam Vania seolah bisa menghunus hingga jantungnya, semenakutkan itulah wanita itu sekarang. Daniel tak bisa meremehkannya lagi, atau ia yang akan kena imbas masalah yang ia ciptakan s

