“Oh kamu masih ingat datang ke sini....” Keira memberikan sambutan berupa nyinyiran ketika membukakan pintu pada Daniel. Air muka pria itu tampak murka, Keira tidak tahu betapa beratnya Daniel menahan gejolak hatinya yang ingin membludakkan kemarahan kepadanya. Bukannya memberi sambutan yang hangat, Keira malah memercikkan bensin di tengah kobaran amarah Daniel. “Hmm... jadi seperti ini caramu? Apa masih belum cukup aku kemari bersamamu nyaris setiap hari? Kamu masih mau menekan aku dengan cara picikmu!” Ketus Daniel, ia pun bisa berlaku sama pada Keira, menatapnya sinis dan seakan tiada ampun. Keira bergidik, sorotan nanar dari Daniel membuatnya ciut. Ia tak menyangka bahwa sikap protesnya malah membuat Daniel marah, padahal ekspektasinya berharap agar Daniel lebih bersikap lembut pa

