Sepasang mata Daniel belum berkedip setelah kaget dengan kedatangan Keira yang tidak diundang. Rasa penasaran kian membuncah, darimana wanita itu tahu keberadaannya? Ia sangat menginginkan ketenangan, tetapi justru salah satu sumber masalah itu mengunjunginya. Suara bel kembali berbunyi, menciptakan teror nyata yang menyadarkan Daniel bahwa ia harus mengambil sikap, bukan diam namun harus bersuara. “Mau apa kemari?” Cecar Daniel dengan telpon yang masih tersambung dengan wanita di luar pintu itu. Keira tersenyum seringai, ia tahu kini Daniel pasti tengah mengintipnya. “Menangis berdua tentu jauh lebih baik daripada menangis sendiri.” Jawab Keira dengan suara menggodanya. Daniel berdecak, geram bahkan rasanya ingin melumat habis wanita yang kepercayaan dirinya terlampau tinggi itu. “Cih.

