Vania hendak menyudahi menggosok punggung Daniel yang tampak tidak memar ataupun terluka. Fix membuatnya percaya kalau pria itu hanya manja dan ingin menyusahkannya. Daniel melirik Vania dengan ekor matanya, sadar kalau wanita itu hendak menyingkirkan tangan dari tubuhnya. “Aduh, yang di bagian ini sakit sekali.” Rengek Daniel sembari menunjuk bagian yang menurutnya terasa cenat cenut. Vania memincingkan mata menatap jeli bagian yang ditunjuk Daniel kemudian beralih menatap wajah pria itu. Ingin berdecak, namun takut menambah daftar masalah mereka. Cukup sudah lelah hati Vania meladeni perdebatan yang berkepanjangan dengan teman hidupnya ini. Kini di saat ada kesempatan mendekat, sebaiknya ia menghindari sebisa mungkin peluang untuk memicu perdebatan. Tanpa sepatah katapun, Vania menurut

