Keira menarik kursi yang ada di dekat meja rias, tubuhnya terasa lelah dan tak sanggup berdiri terlalu lama. Jika bukan karena ia penasaran dengan otak licik pria di hadapannya, sudah pasti Keira akan mengusirnya. Tetapi akan lebih baik bila ia bisa memancing Brian untuk membocorkan apa yang akan ia rencanakan selanjutnya. “Kamu belum menjawab, apa yang kamu rencanakan pada mereka?” Keira mengulang kembali pertanyaannya, sembari melayangkan tatapan ke arah Brian yang masih menguasai ranjangnya. Pria itu menyunggingkan senyuman liciknya, merebahkan diri di atas ranjang empuk setelah menyusun dua bantal dan melipat kedua tangannya sebagai sandaran kepala. “Kamu sudah tidak tertarik kerjasama, untuk apa aku harus memberitahumu lagi.” Keira mengumpat dalam hatinya, ‘Pria licik, aku harus me

