Daniel tengah asyik memperhatikan cara makan Laurent yang lahap dan tenang. Hanya perlu mengenyangkan perut anak itu dengan bubur soto ayam kesukaannya, lalu anak kecil itu bisa diam dan tampak puas. Raut wajah Daniel datar, jika tidak terpikir tentang status Laurent, mungkin hatinya kini dengan lega memberinya kasih sayang. Tapi sekarang, sebelum hasil tesnya keluar, ia hanya bisa menahan diri. Berjaga-jaga agar hatinya tidak terlampau sakit nantinya. “Papa nggak makan?” Laurent tak jadi menyendokkan makanan ke mulutnya saat melihat Daniel tengah melamun, membiarkan baksonya mendingin tanpa tersentuh. Daniel menggeleng dengan cepat, membuang lamunannya yang tak boleh terlihat oleh anak kecil itu. “Oh, iya papa makan sekarang. Kamu juga lanjutin makannya, yang kenyang.” Daniel dengan mal

