“Huft... membosankan!” Keluh Keira yang merasa sangat frustasi dalam pembaringan. Suasana kamarnya begitu sepi dan ia masih merasakan nyeri di perutnya. Jika bukan karena obsesinya untuk mempertahankan Daniel, mungkin ia tidak akan mempertimbangkan lagi untuk mempertahankan janin yang belum apa-apa saja sudah bermasalah. Tangan Keira meraih ponsel yang ada di ranjangnya, berharap ada sesuatu yang menghibur hatinya dari sana. Bibirnya manyun seketika lantaran tidak mendapatkan notif apapun dari ponselnya, senyap bagaikan suasana kuburan. “Lapar.” Gerutu Keira, bahkan untuk mengurusi dirinya saja, ia sudah kepayahan. Dengan malas ia mencari makanan yang bisa diorder via online. Selama masa bedrest, hanya cara inilah yang bisa ia andalkan untuk bertahan hidup. Niatnya mencari makan malah te

