“Oh. Hai, Bro. Apa kabar?” Will yang baru sadar, segera berdiri dan menyalami Dewa. Mengesampingkan tatapan tajam Dewa pada Kinara, pria itu balas tersenyum ramah kepada Will. “Apa gue boleh gabung?” tanya Dewa dengan santun. “Gue mau makan sama temen di sebelah, tapi dia buru-buru pergi karena dikabari ibunya masuk rumah sakit. Tadinya mau balik kantor aja, tapi lihat kalian di sini.” “Oh, boleh banget. Silakan. Silakan.” Setelah mengucapkan terima kasih, Dewa menarik kursi di samping Kinara dan duduk di sana. Kinara nyaris tidak berani bergerak. Benaknya sibuk bertanya-tanya. Apakah Dewa sengaja membuntutinya? Apakah pria itu mulai memata-matainya? “Gue jarang lihat lo di PG sekarang,” kata Will pada Dewa yang sontak tertawa kecil. “Lagi nggak ada waktu main. Minggu kemarin kerja

