Kinara tidak kembali ke kantor hari itu. Dia memilih untuk menyetir pulang dan berdiam diri di sofa apartemennya yang gelap. Ekspresi Dewa berenang-renang di kepalanya. Terutama bagaimana punggung itu terlihat rapuh meski tegak menjulang. ]auh di sudut hatinya, Kinara masih menolak untuk percaya. 'Apa lagi yang lo cari sih, Kin? Dewa sendiri sudah mengonfirmasi kebenaran artikel itu.' Lantas berhari-hari yang dia habiskan dalam kecemasan itu terasa seperti menonjok perutnya. Betapa bodoh dan sia-sia, karena apa yang dia lakukan selama itu, sebenarnya? Membuang-buang waktu, mengandalkan satu kemungkinan bahwa semua itu tidaklah benar. Setelah dipikir-pikirnya lagi, mungkin Kinara hanya terlalu takut untuk mendengar kebenarannya. Bagaimanapun juga, hal itu masih sulit diterima. Hingga hari

