BAB 29

1392 Kata

Kinara sudah memikirkannya semalaman. Ia berbaring di tempat tidur sejak pukul sepuluh malam, tapi matanya baru benar-benar terpejam menjelang pukul tiga dini hari. Bukan karena kopi, bukan juga karena suara bising—melainkan pikirannya sendiri yang tak mau diam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan-bayangan kemungkinan dan kekhawatiran datang silih berganti. Tentang rapat kerja, tentang presentasi, tentang seseorang yang mungkin akan ia temui hari ini. Padahal, ini bukan akhir pekan. Bukan hari libur yang bisa ia gunakan untuk menarik selimut lebih lama. Justru sebaliknya—hari ini adalah awal dari minggu yang panjang, penuh agenda dan tekanan. Tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Pagi ini, setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi menggandakan bebannya. Matanya sembab,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN