tiga

730 Kata
"Aku happy banget hari ini, kamu mau aku aja ke club. Enak loh clubbing hari gini." Vania katakan itu pada Yoga, kekasihnya yang kini tengah mengendarai mobil miliknya. "Iya, yang penting kamu happy." Mobil itu terus melaju sampai tiba ke klub tujuan mereka berdua. tempat yang sangat disukai oleh Vania, tapi tidak untuk yoga. Cahaya warna-warni berkedip-kedip di langit-langit, berpadu dengan dentuman musik EDM yang menghentak telinga. Orang-orang berdansa dengan antusias di bawah lampu, tumpah ruah dalam kenikmatan malam yang bising. Udara tipis beraroma alkohol dan parfum mahal berbaur jadi satu. Di sofa VIP, duduk seorang pria dengan kemeja hitam terbuka satu kancing di atas d**a, tubuhnya santai tapi matanya tajam. Yoga Manendra duduk tanpa tersenyum, tidak bicara. Hanya duduk diam di bawah kerlap-kerlip lampu, menggenggam gelas whiskey, menatap kosong ke arah lantai dansa. "Baby," suara lembut Vania terdengar ke telinganya. Perempuan dengan rambut panjang bergelombang, tubuh semampai dan dress merah pas badan itu menyentuh bahu Yoga, membelai lengan kekasihnya dengan gerakan manja. Yoga menoleh sekilas. "Hmmm?" "Temenin aku ke lantai dansa, yuk," godanya sambil mencium pipi Yoga cepat. "Please," katanya memohon dengan tatapan yang dibuat buat. Yoga menghela napas pelan. "Aku capek, kamu tau kan aku gak terlalu suka terlalu rame." Vania mengerutkan kening, lalu menyandarkan dagunya di bahu Yoga. "Sayang, kita kan jarang ke klub. Sekali-kali dong, have fun bareng aku. Masa ke klub kayak gini kamu malah diem kaya patung?" Yoga menatap minumannya, lalu menjawab datar, "kamu udah tau dari awal aku nggak suka tempat rame. Kamu yang maksa aku ikut." Vania menarik tubuhnya menjauh. Matanya mulai kesal. "Kamu tuh bener-bener, ya. Aku tuh cuma pengen quality time, lupain perasaan, happy happy. Masa sih itu susah banget?" Yoga diam, bukan tipe yang pandai merayu atau menyenangkan orang. Bahkan untuk marah pun ia hemat tenaga. Tapi tatapannya menunjukkan kalau ia jengkel. Vania berdiri. Suara high heels-nya nyaris tenggelam dalam hiruk pikuk, tapi ekspresinya jelas, jengah. "Tau ah! Capek!" gumamnya, lalu berbalik dan berjalan menuju lantai dansa. Yoga memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Tapi matanya membuka lagi hanya untuk melihat pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh. Vania berdansa dengan seorang pria asing. Tinggi, kulit terang, mengenakan kaos ketat dan parfum menyengat. Pria itu berdiri terlalu dekat dengan Vania. Tangannya mulai menyentuh pinggang kekasihnya, mereka tertawa, terlihat sangat nyaman satu sama lain. Yoga bangkit, melangkah cepat, tenang tapi terarah. Sepatu-nya terdengar di lantai, menepis siapa pun yang menghalangi. Orang-orang mulai menoleh saat pria berwajah dingin itu mendekat. "Vania," suaranya rendah, tapi terdengar jelas. Vania menoleh, wajahnya tersenyum tipis. Sengaja cari gara-gara. "Apa?" "Ngapain sih kamu sama dia?" Vania mendongakkan kepala, seperti memprovokasi. "Dance,.emang kenapa?" "Aku bilang cukup. Sekarang berhenti." Yoga bicara dengan nada yang pelan, tapi penuh penekanan dan ketegasan Laki-laki yang berdansa dengan Vania melangkah mundur, tapi Vania menahan tangan pria itu. Matanya menatap tajam ke Yoga. "Kami tuh pacar yang ngebosenin, Ga! Kamu dateng ke klub tapi diem. Aku capek tahu nggak? Aku juga mau senang-senang. Kamu bisa nggak mikirin perasaan qku sekali aja?" Yoga mendekat. "Jadi kamu asik biarin dia megang kamu dan dance cowok lain karena itu?" "Karena kamu nyebelin!" Vania berteriak. "Kamu selalu dingin, lcuek, selalu mikir dunia tuh cuma kerja kerja dan kerjaan lo! Gimana aku nggak nyari kesenangan lain?" Yoga menarik napas panjang. Matanya tajam. Rahangnya mengeras. "Oh jadi, mau jadi nyari cowok lain, gitu?" "Mungkin," jawab Vania, menantang. "Kalau cowok aku nggak bisa diajak happy, aku cari yang bisa." Keributan mulai menarik perhatian banyak orang. Musik tetap berdentum, tapi mata-mata di sekitar mereka mulai menatap. Beberapa mulai merekam diam-diam dengan ponsel. "Udahlah, kita pulang," suara Yoga rendah tapi dingin. "Aku nggak mau!" Vania berteriak sepertinya ia sudah sedikit terpengaruh alkohol. "Qku mau enjoy malam ini. Dan kamu? Kami duduk aja sana!" Dan sialnya, Vania menarik tangan laki-laki yang tadi berdansa dengannya. "Ayo!" Yoga spontan menarik lengan Vania. "Gila kamu? Bisa gak hargain aku?!" Teriakan terdengar, beberapa orang mulai mendekat, scurity bergerak cepat, dua orang langsung memisahkan mereka. "Tenang, Pak. Jangan buat keributan di sini." Yoga masih mencoba mengejar, tapi security mendorong tubuhnya perlahan. "Kami mohon kerjasamanya, Pak. Duduk dulu, ya." Dengan napas tersengal dan emosi yang membuncah, Yoga akhirnya mundur. Ia kembali duduk di sofa VIP, tatapan matanya penuh amarah. Wajahnya masih menegang, sementara emusik kembali menguasai ruang, tapi baginya semua itu hanya kebisingan tanpa arti. Gelas whiskey-nya kembali digenggam. Ia menatap cairan amber itu. Dalam Diam, ia merasa kalah dan sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN