satu
Reina perempuan 35 tahun itu duduk di seberang meja, di ruangan dingin, putih. Terlalu steril dengan aroma yang tak asing. Tangan terlipat di pangkuannya. Tubuhnya tegak, wajahnya tanpa riasan. Rambut dikuncir rendah, mata menatap lurus ke depan, ke arah Dokter Dilla yang sedang membuka hasil pemeriksaan.
Dokter muda itu diam beberapa detik sebelum angkat bicara. "Bu Reina, ada yang ingin saya sampaikan terkait hasil cek darah Ibu kemarin."
Reina hanya mengangguk pelan. Tenang. Tak ada tanda ia gugup. Seperti biasa ia melakukan pemeriksaan rutin.
Dokter Dilla menghela napas sebelum akhirnya bicara. "Dari hasil sementara, kami menemukan indikasi leukemia. Kanker darah stadium awal. Tapi ini belum final, Ibu. Masih butuh pemeriksaan lanjutan untuk memastikan jenis dan tingkat penyebarannya."
Sesaat, dunia seperti kehilangan suara. Reina tetap diam. Tak ada embusan napas berat, tak ada alis yang naik, tak ada mata yang membesar. Dia hanya duduk, dengan tatapan kosong yang perlahan jatuh ke meja.
>"Saya ngerti ini mengejutkan," lanjut dokter Dilla dengan nada hati-hati, "tapi banyak pasien bisa bertahan sangat lama di tahap ini. Dengan perawatan yang tepat, ini bukan akhir. Kita bisa—"
"Saya pikir-pikir dulu," potong Reina pelan.
Dokter Dilla tampak ragu. "Ibu Reina, saya menyarankan untuk tidak menunda—"
"Saya tahu. Tapi izinkan say— bernapas dulu, saya harus mencerna semua dulu dok.".Suara Reina datar bukan dingin, bukan juga ia baik-baik saja. Justru terlalu tenang untuk sesuatu yang baru saja mengacak-acak isi kepalanya. Tangannya tetap diam di pangkuan. Tak bergetar sedikit pun.
Dokter Dilla diam dan menunggu dia tau dan mengerti kalau semua masih begitu sulit di terima oleh Reina.
Setelah beberapa detik, ia berdiri. Mengangguk sopan. "Terima kasih, Dokter." Dan dia pergi. Tanpa bertanya. Tanpa menangis. Tanpa drama apapun. Terlalu sederhana untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kabar buruk.
Tapi saat pintu ruangan menutup di belakangnya, hanya Reina yang tahu bahwa ia tak akan bertahan lama. Reina terdiam,. melangkahkan kaki dengan lambat. Kemudian menghela napas dan segera berjalan keluar dari rumah sakit.
"Jangan sampai terlambat ke kantor," gumam Reina lalu mempercepat langkahnya.
Ruangan kantor seperti biasanya: bising oleh suara ketikan, mesin fotokopi, dan telepon berdering. Bau kopi dan AC yang terlalu dingin memenuhi udara. Reina duduk di mejanya, mata tertuju pada layar laptop. Tangannya cekatan, tapi hatinya kosong. Sejak pagi, semua terasa seperti berjalan dalam dirinya yang setengah sadar.
Tapi Reina tetap bekerja. Angka demi angka. Sheet demi sheet. Menenggelamkan diri dalam rutinitas adalah cara Reina bertahan.
Sudah tiga belas tahun dia duduk di kantor itu. Tak pernah ada promosi, tak pernah ada terima kasih. Hanya kerja, kerja, dan kerja. Demi keluarga yang bahkan tidak pernah bertanya bagaimana kabarnya.
"Biasa aja. Toh, aku udah terbiasa." Ada sedikit keinginan. Agar bisa diperhatikan, setidaknya sebelum dia mati
Sejak pagi tadi, sesuatu dalam dirinya berubah. Dan dia belum tahu, apakah itu hal baik atau buruk. Tiba-tiba terdengar suara berat dan familiar.
"Reina." Panggilan dari Pak Eko atasannya, perut buncit, wajah selalu masam. Napasnya pendek. Dan kebiasaannya, selalu mencari masalah.
"Ini apa? Kamu input angka revisi tapi beda jauh sama data kemarin. Kamu ngerti gak sih cara kerja yang bener gimana?"
Reina menoleh pelan, tidak kaget, ridak takut. Ini rutinitas tanhbia rasakan bertahun-tahun. "Itu data dari bagian pajak, Pak. Sudah dikoreksi dari pusat. Saya input ulang berdasarkan file yang terbaru."
"Ya tapi kamu tuh gak pernah inisiatif kasih catatan atau penjelasan. Harus nunggu ditegur dulu. Karyawan macam apa sih? Udah gendut, lemot pula."
Beberapa rekan kerja pura-pura tidak dengar, tapi jelas suasana ruangan berubah. Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka. Biasanya Reina akan diam. Tahan napas. Senyum palsu. Minta maaf walau bukan salahnya.
Tapi hari ini, tidak. Perlahan Reina berdiri. Kursinya berdecit. Suaranya tenang, tapi tajam dia lelah terus di remehkan. "Saya kerja di sini lebih lama dari separuh orang di ruangan ini, Pak."
Pak Eko mengangkat alis. "Terus?"
"Saya nggak pernah telat, nggak pernah mangkir, semua laporan saya selesai sebelum deadline. Tapi tiap bulan, saya selalu jadi sasaran Bapak. Komentar soal kerjaan bisa saya terima. Tapi soal badan saya? Itu bukan urusan Bapak." Reina kesal,. tubuh gemuknya itu urusannya. Tak mau lagi ia di bully seperti ini.
Seketika suasana membeku. Tak ada suara. Hanya para karyawan yang saling lirik satu sama lain. tak percaya kalau Reina kada akhirnya melawan.
"Kalau Bapak memang mau pecat saya, silakan. Tapi saya nggak akan diem lagi dengerin ucapan yang ngerendahin saya cuma karena bentuk tubuh saya nggak sesuai standar Bapak."
Dia menutup bibirnya rapat-rapat setelah bicara. Pak Eko tampak terkejut, mungkin karena selama ini Reina tak pernah sekalipun membela diri.
Reina tak menunggu jawaban. Dia langsung duduk kembali, membuka kembali Excel di layarnya, dan mulai mengetik seolah tidak terjadi apa-apa. Satu ruangan masih sunyi. Semua menahan napas.
Reina tidak menatap siapa-siapa, tidak mengeluh, tidak tersenyum. Tangannya kembali menari di atas keyboard. Jari-jari yang sama yang selama ini bekerja dalam diam, kini kembali sibuk, tapi dengan d**a yang sedikit lebih lega.
"Bodoh banget kalau hari ini aku masih nunduk. Udah cukup." Ia bergumam sendiri.
Dalam hati, ia tah dia sudah tidak boleh bersikap sama lagi, tidak ada kata pasrah atas olokan. Tapi orang-orang tak perlu tahu alasannya. Mulai sekarang, Reina Sachikirani bukan orang yang bisa diinjak-injak lagi.