16. Sesal

981 Kata

(Bayu) Gerimis mengiringi langkah kami menuju pemakaman. Anisa dimakamkan di pemakaman terdekat pesantren yang sudah sejak beberapa hari ini dia tinggali. Tadi aku dan Nadira mendengarkan semua penjelasan Ustad Imran dan umi Dian. Jahat sekali aku sebagai suami. Aku telah menzdalimi istriku sendiri. Aku telah sangat melukai hatinya. Dia yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. Namun, aku justru tidak ada di saat dia terpuruk. Di saat aku seharusnya menjadi orang yang terdepan ada di sisinya. Ingatanku kembali ke saat di mana aku pagi itu menemukan sebuah surat. Bodohnya aku yang sama sekali tidak peka. Padahal malamnya jika saja kepekaanku masih seperti dulu, Anisa memberikan sinyal perpisahan. Tetapi aku justru meninggalkannya di saat aku kira dia sudah tertidur. Meningga

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN