"Ba-paaak!" Aku mencubit kuat lengan Pak Adam, kesal karena ia memperlakukanku seperti anak kecil. Pak Adam meringis. "Cuuuup." Ulangnya dengan bibir yang sengaja dikerucutkan. "Ba-paaak!" Aku mendelik sambil tanganku kembali mencubit lengannya, ia mengaduh-aduh tampak kesakitan tapi aku terus mencubitinya, kali ini bukan hanya di lengan tapi di perutnya juga. "Lana kita bukan muhrim!" katanya sambil menangkap tanganku. Kami berpandangan lalu sama-sama tertawa kecil. "Itu karena bapak membuat aku kesal!" "Saya begitu karena kamu terlihat begitu menggemaskan." Hening. Aku jadi salah tingkah sendiri karena ia terus memandangiku. "Masa?" tanyaku mencoba mengusir canggung. "Iya!" Ian mengucapkannya dengan wajah sungguh-sungguh. Kami lagi-lagi berpandangan lalu sama-sama tersenyum lag