"Lana, saya cinta kamu," ulang Pak Adam yang membuat dadaku semakin berdebar keras. Tatapannya tajam sekali seolah menembus jantungku, aku rasanya sampai lupa caranya bernapas dengan benar. "Iya," jawabku. Ia mengerutkan kening. "Iya, itu maksudnya apa?" "Ya, iya. Bapak bilang bapak cinta padaku, aku bilang, iya. Lalu aku harus bilang apa?" "Astaga." Ia menarik napas dan tertawa kecil. "Lana, apa kamu anak kecil pura-pura bodoh di hadapan saya? Saya yakin kamu tahu bahwa seharusnya kamu menjawab ucapan saya, menerima saya, atau menerima saya, atau menerima saya!" Tekannya. Tatapannya yang terus terpacak ke wajahku membuatku semakin tak nyaman saja. Aku menurunkan tangannya dari daguku lalu mendorong tubuhnya menjauh menyadari kami ternyata begitu dekat. Untunglah seseorang masuk, itu