bc

Mantanku CEO Arogan

book_age18+
126
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
escape while being pregnant
second chance
arrogant
kickass heroine
boss
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
city
office/work place
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Nayla tidak pernah bermimpi hidupnya akan sehancur ini.Kesalahan masa lalu memaksanya berhenti sekolah, menjadi ibu tunggal di usia muda, dan dibuang oleh keluarganya sendiri.Demi melindungi pria yang ia cintai, Nayla memilih jalan paling kejam, meninggalkan Zayn tepat setelah pria itu mengalami kecelakaan, tanpa pernah menjelaskan alasan sebenarnya.Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian.Nayla Kirana, seorang cleaning service.Zayn Mahendra, CEO arogan dan berkuasa.Setiap tatapan Zayn menyimpan luka yang belum sembuh.Setiap langkah Nayla menyimpan rahasia yang tidak boleh terbongkar.Karena jika Zayn tahu kebenarannya…ia akan sadar bahwa perempuan yang pernah meninggalkannya itu menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar masa lalu.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Bertemu Kembali
Nayla merasa begitu bahagia ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, meski hanya sebagai cleaning service. Dibandingkan tempat kerjanya dulu, gaji di sini jauh lebih besar, dengan fasilitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla merasa hidupnya memberi sedikit ruang bernapas. Ia bisa menabung lebih banyak, membeli kebutuhan anaknya tanpa harus menghitung receh, dan pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Namun siapa sangka, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Semua berubah sejak satu kejadian yang tak pernah ia duga, setelah dia bekerja hampir tiga minggu. Sebuah tabrakan kecil di lorong lantai Tiga belas. Satu nama yang seharusnya terkubur di masa lalu. Dan satu tatapan dingin yang membuat jantung Nayla serasa berhenti berdetak. Sejak hari itu, tempat yang semula terasa aman perlahan berubah menjadi ruang yang menyesakkan. Dan Nayla baru menyadari satu hal, bekerja di perusahaan besar ini bukan lagi tentang bertahan hidup. Melainkan tentang menghadapi masa lalu yang sengaja ia tinggalkan… dan dendam seorang CEO yang tak pernah benar-benar melupakannya. Nayla sama sekali tidak pernah menyangka hidupnya akan membawanya sejauh ini. -------- Lorong lantai tiga belas itu berkilau, bersih, dingin, dan terlalu mewah untuk seseorang sepertinya. Seragam abu-abu yang ia kenakan tampak asing di antara jas-jaket mahal para karyawan yang berlalu-lalang tanpa menoleh. Ia menunduk, mendorong troli kebersihan sambil menghitung jam. Sedikit lagi selesai. Sedikit lagi ia bisa pulang, kembali ke kehidupan yang tidak pernah bersinggungan dengan tempat ini. Namun semuanya berubah dalam satu detik. Bruk! Troli itu menabrak tubuh tinggi di depannya. Cairan pembersih hampir tumpah. Nayla refleks menunduk. “Maaf, Pak...” Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Sepatu kulit hitam mengilap. Celana bahan rapi. Jas hitam dengan potongan sempurna, tubuh dan wajah di depannya terlalu familiar untuk sekadar atasan biasa. Perlahan, Nayla mengangkat wajahnya. Dunia seakan berhenti berputar. Tatapan itu. Rahang tegas itu. Mata gelap yang pernah begitu ia kenal, kini membeku tanpa sisa kehangatan. “Zayn…” bisiknya lirih tanpa sadar, hampir seperti angin yang terselip di sela napas. Zayn Mahendra menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata, bukan sekadar potongan ingatan yang seharusnya telah lama ia kubur. Banyak kata berdesakan di kepala Zayn. Kata-kata yang tajam. Sinis. Menghinakan. Tentang masa lalu. Tentang harga diri. Tentang bagaimana perempuan yang dulu pernah ia percaya, kini berdiri di hadapannya dengan seragam cleaning service di perusahaannya sendiri. Namun sebelum satu pun kalimat itu keluar, suara tajam lain menyela. “Kerja tidak becus!” hardik sang sekretaris, Veronica. “Kau tahu siapa yang kau tabrak, hm? Atau jangan-jangan kau sengaja mencari perhatian Presiden Direktur kami?” Nayla menunduk lebih dalam. Tangannya gemetar menggenggam gagang troli. Sementara Zayn tetap diam, menatap perempuan itu dengan ekspresi yang tidak lagi bisa Nayla baca. “Maafkan saya, bu… saya tidak sengaja,” suara Nayla bergetar, kepalanya tertunduk dalam-dalam. Sekretaris itu mendengus sinis. “Tidak sengaja?” Ia melipat tangan di d**a. “Kesalahan seperti ini bisa membahayakan pimpinan perusahaan. Anda pikir ini tempat main-main?” Beberapa karyawan mulai melirik. Bisik-bisik pelan terdengar. Mereka tahu betapa protektifnya Veronica pada atasan mereka, bisa jadi Veronica punya perasaan tertentu pada atasan mereka. Namun tidak ada yang pernah berani menyinggung Veronica di perusahaan itu. Nayla bisa merasakan wajahnya panas, seolah seluruh harga dirinya dilucuti di hadapan orang-orang yang bahkan mungkin saja tidak mengenalnya. “Panggil HR,” lanjut sekretaris itu dingin. “Orang seperti ini tidak pantas bekerja di sini.” Kata tidak pantas menghantam Nayla lebih keras dari benturan troli tadi. Dipecat. Kata itu berdengung di kepalanya. Napasnya tercekat. Pikirannya melayang pada satu wajah kecil di rumah, wajah yang menunggunya pulang setiap sore. “Tolong…” Nayla memberanikan diri bersuara. “Saya akan lebih hati-hati. Tolong jangan... beri saya kesempatan...” “Cukup.” Satu kata itu membuat lorong kembali sunyi. Zayn akhirnya angkat bicara. Semua mata tertuju padanya, termasuk Nayla. Namun perempuan itu segera menunduk lagi, seolah terlalu lama menatap pria itu akan membuat pertahanannya runtuh. “Masalah ini akan saya tangani,” ucap Zayn datar. “Anda boleh kembali bekerja.” Veronica tampak terkejut. “Tapi, Pak…” Ia melirik Nayla sekilas sebelum melanjutkan dengan nada merendahkan, “Untuk apa Bapak menangani karyawan kecil seperti dia? Dia tidak penting.” “Saya tidak mengulang,” potong Zayn dingin. Nada suaranya tegas, tanpa ruang untuk dibantah. Nayla membeku di tempat. Ia tidak tahu apakah harus merasa lega… atau justru takut. Keputusan itu terasa seperti tali yang ditarik terlalu kencang di lehernya, menyelamatkan sekaligus menjerat. Veronica akhirnya hanya mengangguk, meski jelas terlihat ia tidak terima. Rahangnya mengeras, sorot matanya dipenuhi amarah yang tidak sempat ia sembunyikan. Tatapannya beralih pada Nayla, tajam, penuh kecurigaan dan cemburu. Wajah Nayla yang cantik tanpa polesan apa pun justru membuat rasa tidak suka itu kian membesar. Terlebih, Veronica sempat menangkap sesuatu yang mengganggunya, cara Zayn menatap perempuan itu tadi. Bukan tatapan seorang atasan pada bawahan biasa. Ada jeda. Ada penilaian. Ada sesuatu yang berbeda. Selama ini, Zayn selalu mempercayai setiap keputusannya. Tidak pernah sekalipun ia membantah, apalagi turun tangan langsung untuk masalah pekerja. Namun hari ini… hanya karena seorang cleaning service, Zayn memilih mengambil alih. Dan itu membuat Veronica tidak nyaman. --------- Zayn berdiri di balik jendela kaca ruangannya, menatap kota dari ketinggian yang selama ini ia banggakan. Namun hari ini, semua terasa kosong. Perempuan itu. Nayla. Nama itu kembali muncul setelah bertahun-tahun, muncul tepat di tempat yang paling tidak ia duga, di perusahaannya, dengan seragam abu-abu murahan, menundukkan kepala seperti orang asing. Seperti seseorang yang tidak pernah berarti apa-apa. Padahal dulu… Zayn mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia ingat malam ketika Nayla pergi. Tanpa penjelasan. Tanpa air mata. Tanpa penyesalan. Ia ingat bagaimana hidupnya hancur perlahan setelah itu. Dan kini perempuan itu berdiri di hadapannya, terlihat rapuh, namun Zayn tahu, rapuh tidak selalu berarti tidak bersalah. Berani-beraninya kau muncul lagi di hidupku, batinnya tajam. Pintu diketuk pelan. “Masuk.” Manajer HR berdiri dengan wajah ragu. “Tuan Zayn, terkait pegawai cleaning service yang tadi, kami menerima laporan. Sesuai prosedur, ia seharusnya diberhentikan.” Zayn tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak menyentuh matanya. “Tidak,” katanya singkat. Manajer itu terkejut. “Maaf, Pak?” “Dia tetap bekerja di sini,” ulang Zayn. “Pindahkan dia ke lantai eksekutif. Jam kerja penuh. Tanpa toleransi kesalahan.” Ada jeda. “Apakah… ada alasan khusus, Pak?” Zayn menoleh perlahan, tatapannya tajam dan dingin. “Ada,” jawabnya. “Saya ingin dia belajar.” Belajar bagaimana rasanya dipermainkan. Belajar bagaimana rasanya tidak bisa lari. Batin Zayn yang perlahan tersenyum miring. ------- Saat Nayla menerima surat penugasan baru, tangannya gemetar. Bukan dipecat. Namun dipindahkan. Ke lantai eksekutif. Langsung di bawah pengawasan Presiden Direktur. Nayla tahu, ini bukan kebaikan. Ia bisa merasakannya di tulang-tulangnya. Namun ketika mengingat uang sekolah anaknya yang belum lunas, obat yang harus dibeli, dan sewa rumah yang jatuh tempo, Nayla menelan ludah. Ia tidak punya pilihan. Jika harus bertahan di neraka ini demi anaknya, maka ia akan bertahan. Meski harus setiap hari berhadapan dengan pria yang paling ingin ia hindari di dunia ini. Bersambung........

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
17.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.9K
bc

TERNODA

read
200.0K
bc

Kali kedua

read
218.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
76.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook